Telah Diresmikan, The Historich, Tempat Serbaguna Berbagai Party

The Historich, sebuah tempat bersejarah di Cimahi, Selasa (30/10) diresmikan dibuka dengan meriah, disamping ada berbagai undian door prize, juga diramaikan atraksi kesenian Dewan Kesenian Cimahi (DKC). Tempat itu kini dialihfungsikan sebagai gedung serba guna untuk menggelar berbagai event – event penting atau sakral.

The Historich merupakan gedung peninggalan kolonial yang menarik. Pada abad 18, tepatnya tahun 1886, pemerintah Belanda membangun gedung ini dan diberi nama ‘Societet Voor Officieren – Tjimahi’. Letaknya diapit oleh jalan Gatot Subroto dan jalan Stasiun.

Gedung ini dulu memang pernah disewakan untuk acara acara pernikahan, bahkan pernah juga digunakan untuk latihan bulutangkis, sampai akhirya digunakan sebagai Gedung DPRD pada tahun 2001-2005. Namun seiring dengan berubahnya status Cimahi dari kota Administratif menjadi sebuah kota Otonom, bangunan gedung gaya lama ini telah dipoles ketika dijadikan Gedung DPRD.

Gedung ini mulanya memang bergaya arsitektur Indische Empire Style. Digunakan untuk social club tertentu guna acara pesta, atraksi seni, dansa-dansi, juga tempat minum-minum bagi personil militer dan masyarakat atau kelompok eksklusif saat itu.

Namun diawal kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah RI bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengambil pemilikkan gedung ini dan mengganti namanya menjadi ‘Balai Pradjoerit Soedirman’ atau yang kemudian dikenal dengan nama ‘Gedung Sudirman’. Maka sejak saat itu fungsinya pun berubah-ubah. Dari balai pertemuan umum, lokasi syuting film yang ber-setting kolonial.Kini gedung dialihkelolakan, serta mengalami restorasi total dan difungsikan menjadi gedung serba guna, dengan nama ‘The Historich’, dengan berbagai fasilitas tambahan. ‘The Historich’ berasal dari kata ‘history’ dan ‘rich’ yang dalam pengertian bebas berarti ‘kaya akan sejarah’. Sekarang dikelola dibawah The Big Price Cut (TBPC) Group.

Fungsi sekarang gedung ini antara lain untuk wedding & angagement party, art performance birthday party, exhibiton, conference, meeting corporate event, wellcome& farewell party, product lounching, gala dinner, birthday party, private party dan event-event lain, baik sakral maupun event penting lainnya.

Fasiltas dasar gedung ini, daya listrik 50.000 watt, suplai air bersih 3 m3 perjam. Mampu menampung kapasitas 300 orang (table set) dan 600 orang (standing party). Juga ada panggung berukuran 10 m X 6 m. dilengkapi pula, dapur, kamar rias besar dan 12 unit toilet bersih untuk pria dan wanita, serta musholla. Sementara luas parkir mobil mampu menampung 75 mobil dan 30 sepeda motor.

Alamat : Jalan Gatot Soebroto No. 19 Cimahi. Telp 022 – 93885411

Job Creators Terjebak Hanya Kepada Bisnis Life Style

Menyambut hari hari Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang, Talk Show ‘Gebyar Marketing PR FM’, Rabu (24/10) topiknya dipilih dengan thema ‘Pemuda Kreatif di Bandung’. Diundang malam itu tamu dari Maicih, Dimas Ginanjar Merdeka dan Rendy Agung , owner Sumo Ramen Bar (SRM). Mereka dua pemudah asal Bandung yang karya-karya bisnisnya diterima dan sukses oleh masayarakat.

SRM yang bermula berlokasi di Jl. Tubagus Ismail Raya 22 Bandung, kini dalam perkembangannya sudah banyak melahirkan banyak cabang. “Saya dari kecil tumbuh di pasar bersama orang tua, karena mereka berjualan kue disana. Dari sana saya banyak belajar tentang usaha. Dan saya punya feeling, bakal sukses kalau membuka usaha sendiri,” tutur Rendy yang kini juga masih karyawan disebuah usaha dengan menjadi chief. SRM merupakan mie tradisional Jepang versi Indonesia.

Sementara Maicih, sebuah merek makanan ringan yang booming di Kota Bandung, pada akhirnya tak hanya sukses di Bandung atau Indoensia, tapi sudah menjarah pasar luar negeri. Padahal produknya ‘hanya’ aneka keripik (pedas). “Landasan kerja kami optimis dan tidak puas hanya ada di dalam negeri,” tutur Dimas.
Baik Rendy dan Dimas sama-sama merintis dari bawah, dengan modal hanya puluhan juta saja. Namun tekadnya yang tak pernah padam dan terus berusaha menciptakan inovasi membuat mereka sukses. “Saat pertama membuat kripik pedas, saya berpikir meningkatkan citra kripik singkong. Saya sendiri memang suka kripik singkok. Inovasinya adalah saya membuat kripik itu sepedas mungkin,” tutur Dimas.

Sekarang pun usai sukses, Dimas masih berusaha membuat inovasi. Ia kini membuat kripik Maicih yang tak pedas. Ketika ditanya, apakah produk barunya ini tak ‘merusak’ brand Maicih yang selama ini dikenal kripik pedas? Dijawab oleh Dimas dengan mantap, “Saya yakin tidak.” Nampaknya disanalah keberanian Dimas.

Demikian pula apa yang dilakukan oleh Rendy. Ia membuat ramen berangkat dari pengamatannya bahwa orang Indonesia suka mie. Hanya saja inovasinya mencampur dengan telor sehingga rasanya terasa beda dan lebih nikmat. Targetnya pun tak muluk, yakni mahasiswa, dan otomatis harga harus terjangkau oleh mereka. Ternyata usahanya sukses. “Sebenarnya apa yang saya jual sudah dalam versi Indonesia, seperti kare, misalnya,” tutur Rendy.
Melihat kesuksesan dua anak muda Bandung ini, Perry Tristianto dan Popy Rufaidah sepakat mengatakan dalam talk show malam itu, keberanian mencoba dan usaha yang tak kenal lelah dan terus fokus adalah kunci sukses mereka. “Yang juga tak bisa diremehkan adalah faktor moment. Waktu Maicih dipromosi di twiter, saat itu jejaring sosial itu baru dikenal masyarakat. Sehingga terdengar unik ketika dipromosikan. Tapi kalau sekarang promosi produk melalui twiter, sudah hal yang biasa saja. Disamping itu, keberanian Rendy membuat ramen dengan kombinasi telur itu ide smart, rasanya sangat khas,” tutur Perry.

Sementara Popy Rufaidah mengatakan, banyak pengusaha yang terlalu berorientasi kepada produk. Padahal dalam membangun produk, diluar produk ada faktor lain, misalnya marketing, promosi, dan yang dilakukan oleh Rendy dan Dimas merupakan kepintaran tersendiri yang tak hanya fokus pada produk. “Mereka adalah job creators yang hebat. Namun yang saya sayangkan anak-anak muda sekarang sebagai job creators lebih banyak terjebak pada bisnis life style. Padahal banyak potensi bisnis yang lain,” tutur Popy Rufaidah

Potensi Pameran Ala Bandung

Bandung merupakan pasar potensial menjadi tuan rumah atau brand sebuah exhibition organizers. Karena Bandung merupakan kota wisata yang kreatif. Demikian menurut Dede Koswara, owner dari PT Ciptamedia Kreasi Mandiri yang selama ini bergerak dibidang pameran di Bandung. Hal ini diamini oleh Perry Tristianto dan Popy Rufaidah sebagai host dalam acara mingguan talk show ‘Gebyar Marketing PRFM’ yang digelar, Rabu (17/10).
“Saya ingin seperti Inacraft yang brand-nya sudah sangat dipercaya. Bahkan saya ingin membuat PRJ (Pekan Raya Jakarta) ala Bandung. Namun sekarang ini terbentur oleh tempat pameran,” tutur Dede Koswara.

Menurut Dede Koswara, dalam perkembangannya sekarang ini pameran sudah jauh berbeda dengan pameran jaman dulu. “Kalau jaman dulu, pameran hanya semata-mata pameran atau promosi. Maka kalau orang yang menginginkan produk yang mau dibeli, harus waiting list dulu. Sekarang pameran tidak seperti itu, tapi lebih merupakan sebagai solusi bisnis. Sehingga sukses tidaknya pameran diukur dari sejauh apa transaksi yang telah dicapai,” tutur Dede.

Popy Rufaidah yang pada talk show malam itu tak bisa hadir, namun masih bisa memberi masukan dalam acara ini. Kebetulan Popy malam itu sedang ada di Singapura, mengunjungi
International Tourism Berlin (ITB) di Singapura. “Saya pikir, ITB merupakan pameran yang sangat bagus. Indonesia ikut dalam pameran ini. Bahkan Thailand mendatangkan transgender yang sangat cantik. Pengunjungnya luar biasa dari seluruh dunia, dan bergengsi. Indonesia mesti punya pameran seperti ini. Sayang sekali ITB tidak ada program ke Indonesia, karena setelah dari Singapura, mereka akan menggelar pameran di Malaysia dan Vietnam. Kita harus banyak belajar dari penyelenggaranya. Saya rasa Bandung bisa mempelajarinya. Kalau hal itu bisa terealisasi, bisa dipastikan peluang untuk memperoleh database entreprenur Bandung bisa terealisasi,” tandas Popy melalui telpon ke PRFM.

Perry Tristianto menanggapi apa yang diinformasikan oleh Popy dengan mengatakan, “Memang membuat sebuah pameran harus berani beda dan spekulatif. Saya memuji keberanian Thailand mendatangkan transgender. Mereka berani yang mereka punya, meski mungkin banyak reaksi negatif nantinya. Tapi keberanian menampilkan yang ia miliki patut dipuji.”

Lebih lanjut Perry mengusulkan ada pameran ‘Sumedang Kuliner’ atau ‘Cirebon Kuliner’. “Pameran seperti ini tidak hanya membuat orang Jakarta datang, tapi orang Bandung yang kaya kuliner, pasti ingin tahu dan datang. Pasti ramai,” jelas Perry.

Keberanian berbeda itu oleh Dede Koswara sudah pernah dilakukan. Akhir September 2012 lalu di Tegallega Bandung ia membuat pameran yang diberi nama ‘Bandung Ekspos’dengan menampilkan berbagai macam binatang reptil, mamalia, unggas, dan ikan lumba-luma. “Acara ini sebenarnya memikat masyarakat, tapi sayang karena dilakukan outdoor, dan diluar dugaan hujan sering turun, akhirnya saya rugi. Tapi secara pribadi saya puas,” jelas Dede sambil tertawa.

Sementara Dede mengaku, kalau ia membuat pameran perumahan di Graha Manggala Siliwangi, Bandung, selalu untung. “Karena pameran tahunan itu sudah dikenal. Jadi pameran juga harus dikenal lebih dulu, maka akan mudah mencari peserta dan sponsor,” tutur Dede Koswara.

Kisah Sukses Usaha Aluminium Nana Mulyana

Sukses Haji Nana Mulyana dengan PT Nuansa Aluminium-nya yang dibangun sejak tahun 1997 berkat kecerdikannya menciptakan atau mencari pasar. Disamping itu, Nana Mulyana yang awalnya bergerak sebagai ‘pemain kecil’ di tengah persaingan ‘pemain besar’ ternyata mampu unggul. Keunggulan Nana sebagai ‘pemain kecil’ yaitu mampu menekan cost sekecil mungkin ketimbang ‘pemain besar’ dengan cost besar.

Demikian Perry Tristianto dalam talk show ‘Gebyar Marketing PRFM’, Rabu (10/9), yang mendatangkan bintang tamu Nana Mulyana owner PT Nuansa Aluminium yang menghasilkan produk-produk aluminium, seperti kusen, tangga, engsel, genting metal, jemuran baju, kerangka genting yang dibuatnya sendiri.

Sementara itu Popy Rufaidah sebagai pakar marketing mengatakan, apa yang dikelola Nana merupakan bahan olahan berat, namun karena dikerjakan dengan tangan (hand made), hasilnya berbeda dengan yang produk pabrikan massal. “Dan secara pemasaran dibangun melalui kepercayaan, membangun networking terobosan, sehingga segmentasi target menjadi gugur,” kata Popy.

Menanggapi apa yang dikatakan oleh Popy, khususnya mengenai segementasi yang gugur, Nana mengatakan, dirinya selama ini memang mendobrak segmentasi. “Sehingga produk saya tidak hanya kepada segmentasi tertentu yang selama ini dikenal. Misalnya, menjual tangga produksi kami kepada bank. Sekarang bank banyak yang membuat cabang, setiap kantor cabang membutuhkan tangga. Saya menawarkan dengan ‘harga gelap’ yang mampu bersaing dengan produksi pabrik,” tutur Nana. Selain itu Nana juga menjual produknya ke rumah sakit, hotel dan masih banyak lagi target penjualannya.

Dulunya, diakui oleh Nana awalnya pihaknya mengharapkan pembeli datang. Namun, setelah dikaji, pemasaran seperti itu tidak efektif sehingga dirubah dengan ‘jemput bola’, dan sampai sekarang dilakukannya. “Dalam setiap wirausaha memang harus ada inovasi. Dan sekarang jargon menjadi wirausaha sebagai alternatif harus diubah. Yang tepat adalah wirausaha sebagai solusi, biar bangsa kita maju,” kata Nana Mulyana.

Sistem manajemen usahanya telah menerapkan manajemen usaha modern dan kini sudah berhasil memberdayakan 150 mitra. Ada 30 lebih lokasi usaha yang tersebar diseluruh wilayah Jawa Barat. “Kami masih menerima mitra, entah itu agency, pengecer, sharing, apapun yang memungkinkan, silahkan hubungi kami,” tutur Nana.

Kini omsetnya sekitar tiga miliar rupiah per bulan, dengan komposisi Nama Mulyana memegang sekitar 35 persen profit share se Jawa Barat.Usaha itu dibangun dari nol. Sebelumnya ia sempat gagal ketika membangun berbagai usaha, seperti garment dan elekronik. Namun, ia tak patah arang, dan mencari peluang baru. Berbekal dari pengalaman gagal, tahun 1997 (ditengah krismon) ia memilih bisnis aluminium. “Karena usaha ini memiliki market yang cukup besar. Karena hampir semua rumah butuh aluminium. Baik sebagai bahan baku utama rumah, alat dapur, hingga asesoris rumah tangga lainnya,” jelasnya.

Sekarang Nana membina mitra dengan pesantren, dan menurutnya mulai ada tanda-tanda sukses, sehingga dirinya berani banyak menerima pemesanan. “Kalau ditanya kendala, mungkin SDM, orang kita kurang disiplin. Ketika diawasi mereka rajin, tapi begitu tidak diawasi mereka lemah. Berbeda dengan SDM di China yang pernah saya kunjungi, mereka justru ingin kerja terus,” tandas Nana.

Perry Tristianto

1000 Mahasiswa Bandung Ikut Workshop Wirausaha Muda Mandiri 2012

Di Trans Hotel Bandung yang baru beberapa bulan lalu diresmikan, Bank Mandiri menggelar ‘Workshop Wirausaha Muda Mandiri 2012’, Kamis (11/10)’. Mengambil tempat di Trans Convention Centre (TCC) yang megah, sekitar 1000 mahasiswa dari 26 perguruan tinggi di Bandung menghadiri workshop tersebut. Acara serius tapi tak kaku.

Selain di Bandung event ini juga berlangsung di Surabaya, Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Makassar dengan total peserta mencapai sekitar 3.500 mahasiswa. Kegiatan ini merupakan salah satu komitmen dari Bank Mandiri untuk mengembangkan kewirausahaan dan pendidikan di Indonesia.

Budi G Sadikin, Direktur Mikro dan Retail Banking Mandiri mengatakan, Bank Mandiri ingin memacu semangat kaum muda guna menciptakan inovasi melalui workshop dan berbagi ilmu serta pengalaman kegiatan Mandiri Edukasi. “Kami memiliki komitmen mengembangkan pendidikan dan kewirausahaan di Indonesia,” tegas Budi G Sadikin.

Bahkan menurut Budi, Bank Mandiri juga memberi bantuan buku perpustakaan di sekolah dasar dan lanjutan senilai total Rp990 juta serta beasiswa Mandiri Prestasi sebesar Rp12,4 miliar bagi 260 mahasiswa dari 13 perguruan tinggi.

Lebih lanjut Budi mengatakan, Bank Mandiri membuka pendaftaran program penghargaan ‘Wirausaha Muda Mandiri 2012’ dan program ‘Mandiri Young Technopreneur 2012’ secara online sejak Juli 2012 lalu, “Kegiatan ini diselenggarakan dengan menggunakan dana anggaran program Bina Lingkungan Mandiri. Sampai bulan September, kegiatan menelan anggaran Rp 57 miliar,” tandas Budi.

Hadir para pembicara dan motivator Bandung yang sudah menasional, Perry Tristianto dari The Big Price Cut Group, yang seperti biasanya presentasenya disampaikan secara segar, lucu tapi penuh makna. Dalam kesempatan itu, dalam sesi tanya jawab dengan Perry, mahasiswa dengan semangat menanyakan berbagai kiat sukses ‘RaJa FO’ ini.

Menurut Perry, dalam membangun usaha yang harus jelas adalah target market. Dan usaha kuliner serta FO yang digelutinya ini tak bisa lepas dari gaya hidup masa kini. “Buat saya targetnya wisatawan yang ke Bandung. Sementara target kepada orang Bandung sendiri adalah gaya hidupnya. Kini gaya hidup sudah berkembang jauh. Contohnya, kalau dulu puasa, selalu buka di rumah, kini ada trend buka bersama diluar, baik dengan teman maupun dengan keluarga,” tanfas Perry.

Lebih lanjut Perry mengatakan, kalau membuat usaha jangan membayangkan untung saat BEP. Tapi bayangkan kalau rugi. Serta jangan kecil hati jika mulai dari kecil, karena pengusaha sukses yang sekarang namanya berkibar, dulunya rata-rata dari kecil usahanya.

Dalam acara itu hadir juga hadir motivator nasional, Rene Suhardono. Turut serta pula pemenang program’ Wirausaha Muda Mandiri’ dan ‘Young Technopreneur 2011’. Sementara acara hiburan sebagai penutuo, yaitu penampilan musik dari Cokelat. Cocok dengan peserta workshop yang hampir semuanya anak muda.

Perry Tristianto : Berkarya Dalam Hidup Itu Penting

Yang penting dalam hidup ini berkarya. Tidak peduli berapa usia seseorang. Berkarya itu bermacam-macam, bisa lewat agama, sosial, atau mungkin berwirausaha. Sayang sekali jika seseorang yang masih diberi kesehatan oleh Tuhan diusianya yang sudah lanjut, namun tidak berkarya. Hal itu diungkapkan oleh Perry Tristianto dihadapan sekitar 20 karyawan Garuda Pra Purnabhakti, di Tahu Lembang, Kamis (18/10).

Lebih lanjut Perry mengatakan, kesuksesan dirinya sekarang ini dalam menggeluti bisnis factory outlet (FO) dan kuliner lantaran ingin berkarya. “Sekarang ada sekitar 38 outlet yan g saya miliki, semua itu karena ingin berkarya-berkarya dan berkarya lagi. Saya mungkin sudah cukup, tapi banyak orang yang memerlukan pekerjaan. Bukan berarti saya merasa menjadi dewa penolong, saya malah merasa dihidupi karyawan saya,” jelas Perry.
Jika berkarya itu dilakukan dalam bentuk wirausaha, maka sebagai calon pensiunan, jangan sampai mengharapkan untung yang ditanam bisa langsung untung dengan jumlah seperti gaji yang diterima per bulan. “Itu berbahaya. Sama saja mimpi disiang bolong. Tapi mulailah dari kecil, dan bayangkan kalau usaha itu tak jadi alias rugi. Jangan menghitung dengan cara BEP, karena untung itu hanya dari Tuhan datangnya, manusia tak bisa menentukan. Hidup ini penuh misteri,” tegas Perry.

Lebih lanjut Perry mengatakan, karena namanya karya, maka harus pelan-pelan. Tak ada karya langsung jadi instan. Jika memiliki uang Rp1000, buat investasi Rp100 saja. Sehingga kalau kerugian benar-benar menimpa, maka uang masih sisa Rp900, dan tak akan membuat sengsara atau melarat. “Anda-Anda sebenarnya beruntung, sebagai mantan karyawan pasti telah memiliki jaringan. Nah, jaringan tersebut bisa dimanfaatkan. Saya dulu sama sekali tak memiliki jaringan, saya membuat jaringan sendiri,” tegas Perry.

Garuda sebagai BUMN selama ini memang dikenal rajin membina karyawannya yang menghadapi masa pensiun. Karyawan-karyawannya itu dibina dengan pembekalan dari pakar-pakar bisnis atau entreperenur untuk modal jika nantinya mau mengisi hari-hari pensiunnya dengan berwirausaha.

Selain mengunjungi Tahu Lembang dan mendapat pembekalan bisnis dari pemiliknya, Perry tristianto, rombongan kali ini juga mendapat pelatihan dari pemilik kaos C 59 dan Kopi Luwak. “Dari pembekalan tersebut, mereka banyak kemudian mecoba mempraktrikkanya, dan sukses,” demikian kata Della Chaniago, EO yang membawahi acara pembekalan Pra Purna Bhakti ini.