Faktor Kepercayaan Dalam Usaha Jasa Periklanan

HR. Subchan Daragana, owner dari PT. Angga Sarana Media Advertising yang bergerak dalam bisnis jasa periklanan mengatakan, semua perusahaan jasa sangat membina kedekatan dengan klien yang sudah lama berbisnis bersama. Namun dalam bisnis jasa pelayanan periklanan, faktor pendekatan atau kepercayaan lebih penting lagi. Demikian Angga, hari Rabu, (28/11) bertindak sebagai nara sumber dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, bersama host tetapnya, Perry Tristianto dan Popy Rufaidah.

Selanjutnya Angga mengatakan, rata-rata klien-nya sudah begitu sangat percaya, sehingga apa yang ditawarkan pihaknya hampir selalu diiyakan oleh kliennya. “Itu yang sangat kami jaga, karena sudah sangat percaya kepada kami, terutama ketika kami menawarkan lokasi pemasangan iklan yang menurut kami tak begitu ramai, tapi mereka mau memasang, itu karena kepercayaan,” jelas Angga.

Menanggapi hal ini, Popy mengatakan, tujuan utama iklan memang tidak semata-mata bertujuan agar orang membeli. Tapi juga bisa sebagai pengingat bahwa perusahan atau produk tersebut supaya tidak dilupakan orang. “Mungkin perusahaan tersebut sudah cukup dikenal produknya. Sehingga mau memasang di tempat yang tak begitu ramai yang ditawarkan, karena tujuannya untuk mengingatkan saja,” jelas Popy.

Angga mendirikan PT PT. Angga Sarana Media Advertising tahun 1996. Saat itu perusahaan sejenis di Bandung belum begitu banyak. Di Bandung, salah satunya memasang iklan Indosat 001 di perempatan Pasteur. Namun kini usahanya sudah melebar ke Jawa Barat dan memiliki sekitar 40 titik.

Menanggapi perkembangan jasa periklanan yang semakin pesat seperti sekarang ini, Perry menyebut ide rumah-rumah yang dicat menjadi iklan produk-produk tertentu, terutama provider sebagai ide yang brilian. “Saya dulu terbesit ide seperti itu, tapi kemudian orang yang melaksanakannya. Meski iklan di rumah-rumah itu tetap kena pajak, tapi lebih efisien untuk bujet pembuatan papan dan lokasi, karena lokasinya dipilih yang banyak dilihat orang, misalnya, iklan-iklan di rumah di sisi sisi jalan tol Cipularang,” tandas Perry.

Berbicara soal marketing dalam Gebyar Marketing, Popy Rufaidah memberi contoh, bahwa orang Amerika begitu jagonya dalam bermarketing. “Di Amerika, industri manufaktur sudah tak ada. Salah satu contohnya, Nike, tak ada disana. Namun mereka jago-jago marketing. Jadi faktor marketing memang nomor satu. Dan mereka sangat mendengarkan pasar,” tutur Popy.

Deden Robby : Produk Tas Harus Eksklusif

Pemilik label Eview Bag & Fashion, Deden Robby Firman Abadi mengatakan, dalam memasarkan produknya, ia mencari pembeli yang mau membayar relatif cepat. Sehingga tak perlu lagi membutuhkan tambahan modal, karena uang yang ditarik tak terlalu lama dari pembeli dan membuatnya mudah memutar uang tersebut sebagai modal.

Demikian Deden mengungkapkan rahasianya dalam memasarkan produknya, sehingga Eview Bag & Fashion berkembang dan eksis sampai sekarang. Hal itu diutarakan dalam Gebyar Marketing PRFM, Rabu (21/11) yang seperti biasanya juga dihadiri host tetapnya, ‘Raja Factory Outlet’ Perry Tristianto dan pakar pemasaran Popy Rufaidah.

“Kalau saya mendistribusikan produk saya dan baru dibayar empat bulan kemudian memang berat, karena uang penjualan itu diputar kembali sebagai modal untuk memproduksi kembali karya-karyanya,” tutur Deden.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Deden, untuk mencari rekanan yang mau membayar cepat memang tidak bisa begitu saja menyerahkan produk yang sudah jadi. Namun harus menerima order dari mereka sesuai model yang mereka diinginkan. “Kalau kita datang membawa barang yang sudah jadi, mereka memang mau menerima, namun dengan pembayaran empat bulan kemudian. Tapi kalau mereka diskusi dengan kita, dan kita merealisasi model yang mereka inginkan, pasti pembayaran cepat, bahkan kita diberikan uang muka. Karena produknya eksklusif,” jelas Deden.

Tak hanya itu usaha Deden dalam mencari peluang baru. Ia juga rajin mendekati perusahaan-perusahaan besar yang biasa memberikan bonus produknya dengan barang-barang yang biasa Deden produksi, misalnya, tas kecil, dompet, sarung HP atau dompet koin. “Kalau ke minimarket saya sering melihat berbagai produk, yang disisipi bonus sebagai gimmick, barangnya bisa dompet, tas kecil. Lalu saya mencoba mencari tahu alamat-alamat perusahaan itu dan menawarkan untuk membuat barang-barang bonus itu, ternyata mereka berkenan. Dengan pola pemesanan seperti itu, produsen terhindar dari pembayaran mundur jangka panjang,” jelas Deden.

Menurut Perry dan Popy, apa yang dilakukan oleh Deden itu merupakan cara smart agar bisa memutar modal sesingkat mungkin. “Banyak perodusen yang mati karena sistem pembayaran yang terlalu lama. Bahkan ada yang berani menitipkan produk dengan jumlah besar, namun akhirnya tak laku. Kalau sudah tak laku, mau apa lagi? Ya, dikembalikan, tak ada peraturan yang malarang atau mewajibkan membayar barang yang tak laku,” jelas Perry.

Eview Bag & Fashion merupakan produk yang membuat tas santai, dompet handphone, dompet kosmetik, atau dompet koin. Deden bersama istrinya Evie yang dulunya rekanan usahanya kini bahu membahu membangun usaha tas itu. Nama Eview sendiri diambil dari nama istrinya. Tercatat sekarang 350 karyawan yang dimilikinya.

Produknya membidik wanita muda kalangan menengah ke atas. Ia banyak bermain diwarna-warni. “Banyak permintaan untuk memproduksi tas dalam lima warna dengan bentuk yang sama, ternyata setelah kami buat, memang laku. Wanita suka memadukan warna tasnya dengan warna bajunya,” jelas Deden.

Perry Tristianto : Sdm Indonesia Dikenal Loyal

Sebenarnya membangun usaha di Indonesia ada nilai lebih yang tak dimiliki oleh negara lain. Hal ini tentu memudahkan entreprenuer Indonesia mudah mengembangkan usahanya. Salah satu kelebihan itu adalah, SDM (sumber daya manusia) sangat loyal. Disamping itu SDM Indonesia dikenal pribadi yang merasa mudah memiliki terhadap tempat kerjanya. Demikian Perry Tristianto dalam pencerahannya kepada sekitar 40 orang karyawan Garuda Pra Purnabhakti yang mengambil tempat di Tahu Susu Lembang, Bandung, Rabu (21/11).

Karyawan Garuda yang terdiri dari bagian kargo, brand office dari cabang Pulo Gadung, Surabaya, Yogjakarta dan Balikpapan ini mengikuti pencerahan dengan santai namun penuh seksama, dan diakhiri dengan tanya jawab seputar dunia usaha, yang dijawab oleh Perry dengan bahasa yang segar dan kocak.

 

Menurut Perry, dengan karakter SDM Indonesia seperti itu, mestinya hal itu merupakan nilai positif. “Saya sering menemui karyawan-karyawan saya membuat pengajian di outlet. Ketika saya tanya dalam rangka apa, mereka menjawab, agar usaha saya laku. Itu artinya mereka kan merasa memiliki,” jelas Perry.

Ditambahkan oleh Perry, kondisi seperti itu harus diimbangi dengan hak dan kewajiban mereka. Karena, menurut Perry, baik pengusaha maupun karyawan masing-masing memilki hak dan kewajiban. “Nah, hal itu yang harus tak boleh diremehkan, harus dijalankan. SDM kita sebenarnya orang-orang yang tidak menuntut, taopi kembali lagi ke hak dan kewajiban itu,” jelas Perry.

Berkaitan dengan rencana karyawan Garuda yang nantinya setelah pensiun kemungkinan akan membuat usaha, Perry membekali dengan semangat dan taktik yang mungkin ditemui oleh para pensiunan. Menurut Perry, mungkin nantinya ada yang merasa risi atau malu, karena setelah memiliki jabatan lalu pensiun membuat usaha. “Menurut saya malu hal yang tidak perlu. Karena kita kan punya pendidikan, jadi harus memiliki taktik. Saya dulu pernah jadi Direktur Utama perusahaan rekaman, lalu bangkrut. Kemudian saya jual kaos di Puncak, di pinggir jalan. Apa saya tidak malu? Jawabnya, saya malu ! Tapi kita oleh Tuhan dikasih otak, dari otak itu harus lahir taktik. Kalau ada teman yang kebetulan datang membeli, maka saya mengaku sebagai pembeli juga…,” tutur Perry yang disambut riuh peserta pencerahan.

Perry Tristianto : Rs Mata Cicendo Perlu Peningkatan Promosi

Meski Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung merupakan RS milik pemerintah, namun RS mata ini melakukan layanan yang tak kalah dengan RS swasta. Image RS pemerintah yang melayani dengan asal-asalan, karena banyak menerima pasien dengan kartu jaminan sosial telah ditinggalkan. Bahkan dalam salah satu misinya sekarang RS Mata Cicendo ‘mencegah’ orang kaya Indonesia yang berobat ke luar negeri. Karena RS Mata Cicendo merupakan RS mata besar yang tidak ada di Singapura, Malaysia atau negara Asia Tenggara lainnya.

Demikian dr. Hikmat Wangsa Atmadja, Sp.M,. M.Kes, MM, Dirut RS Mata Cicendo dalam talk show Gebyar Marketing PR FM, Rabu (14/11). “Berapa coba kerugian uang yang lari ke luar begeri jika ada orang Indonesia yang berobat ke luar negeri? Besar sekali. Oleh karena itu, dalam salah satu misi kami sekarang adalah menahan orang Indonesioa berobat ke luar negeri. Padahal RS Cincendo begitu lengkap peralatannya. Dan layanannya sangat profesional,” jelas dr. Hikmat.

Menurut Perry Tristianto dan Popy Rufaidah sebagai host acara tersebut, apa yang dilakukan oleh RS Cicendo itu bagus, namun perlu adanya marketing yang lebih maksimal untuk bisa mencapai hal tersebut. “Tak hanya mencegah orang kita berobat mata ke luar negeri. Tapi untuk kalangan orang yang lokal yang hendak berobat mata, perlu diberikan informasi tentang adanya RS mata ini. Sehingga kesadaran memeriksakan mata menjadi lebih tinggi,” tutur Perry.

Ditambahkan oleh dr. Wangsa, RS Mata Cicendo disamping merupakan RS tempat berobat, juga merupakan RS yang lengkap. Karena disamping sebagai fungsi rumah sakit untuk berobat, RS Cicendo juga merupakan tempat pendidikan dan penelitian. Sebagai tempat pendidikan karena di RS Cicendo banyak dokter mata yang melakukan penelitian. Sementara sebagai RS pendidikan, kenyataannya banyak dokter mata dari luar negeri yang menimba ilmu di RS Cicendo. “Belum lama ini ada dokter mata dari Kuwait belajar di RS Cicendo,” tutr dr. Wangsa.

Lebih lanjut dr. Wangsa setuju apabila kampanye terhadap kesehatan mata di Indonesia semakin digalakkan, seperti misalnya kampanye KB. Dokter Wangsa menunjuk perlunya peran pemerintah secara aktif untuk membantu mengampanyekan kesehatan mata. “Saya rasa kalau Presiden yang memulai, sebagaimana kampanye KB maka menteri akan ikut dan disambut sampai pejabat paling bawah. Perlu diketahui, sekarang ini ada sekitar 3 juta orang Indonesia yang buta,” jelas dr. Wangsa.

Perry sendiri secara berkelakar menyebut, dirinya sering cek up darah, namun seumur hidup ia belum pernah cek up mata. “Padahal manusia seharusnya sadar, kalau mata sangat penting, sama dengan pentingnya darah. Tapi terus terang, saya belum pernah periksa mata, kecuali ketika mau buat kaca mata,” kata Perry sambil tertawa.

Hal ini diakui oleh dr. Wangsa, menurutnya orang hanya memeriksakan mata ketika mau memakai kaca mata, tapi ke optik, bukan ke rumah sakit. Padahal ada baiknya ke rumah sakit, sehingga secara menyeluruh akan dapat diketahui gejala kelainan mata. “Mungkin tak hanya minus atau plus, tapi ada gejala katarak,” jelas dr. Wangsa.

RS Mata Cicendo merupakan RS mata terbaik. Yang dikenal selama ini adalah tempat operasi lasic terbaik. Bahkan sekarang ada peralatan terbaru dan tercanggih, yaitu vilasic. “Orang banyak yang tak tahu ada beberapa mata yang mengalamai kebutaan bisa disembuhkan. Kami pernah terharu melihat pasien yang matanya dioperasi dan bisa melihat kembali, sehingga bisa melihat anak dan cucunya yang selama ini hanya didengar suaranya. Itu bukti ada mata buta yang bisa disembuhkan. Informasi ini yang sekarang coba kami galakkan,” tutur dr. Wangsa.

Sebagaimana diketahui, RS Mata Cicendo merupakan satu-satunya rumah sakit mata milik pemerintah republik Indonesia yang berada dibawah Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Diresmikan oleh Gubernur Jenderal J.B. Van Heutsz pada tanggal 3 Januari 1909. Pada awalnya bernama koningen Wilhelmina Gasthuis voor Ooglijders dengan direktur pertamanya dr. CHA Westhoff.
Sempat menjadi Rumah Sakit Umum pada jaman pendudukan Jepang tahun 1942-1945, menggantikan posisi Rumah Sakit Rancabadak yang menjadi Rumah Sakit Militer. Kemudian berganti nama sesuai dengan nama jalan dimana rumah sakit ini berapa menjadi Rumah Sakit Mata Tjitjendo pada tahun 1980, hingga sekarang ini.

Perry Tristianto : Kegagalan Pasti Datang Dalam Usaha

Sebanyak 20 calon entreprenuer binaan Bank Indonesia Jawa Barat mendapat pencerahan dari bos The Big Price Cut (TBPC) Group, Perry Tristianto, Jumat (9/11) di gedung Bank Indonesia (BI) Braga. Dalam pencerahan yang berlangsung sore itu berlangsung akrab dan hidup.

Dalam pelatihan yang diberi nama BITREPRENUER : Menciptakan Wiraswastawan Baru yang Inovatif dan Berdaya Saing Tinggi itu, Perry kembali menekankan pentingnya menciptakan pasar, bukan memasuki pasar. Salah seorang peserta yang membuat produk dari sisa limbah kayu sehingga menjadi bentuk rumah atau pemandangan, bertanya, bagaimana cara memasarkannya? Karena peserta tersebut bingung hendak memasarkan barangnya?

 

Menurut Perry, membuat produk seperti itu memang relatif sulit memasarkannya, tapi bukan tak bisa menciptakan pasar. “Kalau kita menjual produk makanan, mungkin mudah menciptakan pasar. Tapi kalau produk dari limbah kayu ini, sebaiknya menciptakan pasar yang sesuai dengan produknya. Misalnya membuat Gedung Sate, lalu dijual di Gedung Sate. Membuat Mesjid Kubah Emas, lalu dijual di pelataran Mesjid Kubah Emas. Dengan demikian ada history-nya. Bahwa produk itu diperoleh atau dibeli oleh yang bersangkutan dari berwisata ke tempat-tempat tersebut,” ujar Perry.

Yang juga sangat ditekankan oleh Perry, dalam membuat usaha jangan mudah putus asa, karena gagal pasti akan datang menghampiri, itu pasti. “Yang penting, kalau gagal kita tak sampai sengsara-sengsara banget. Sehingga masih bisa bangkit. Karena itu modal yang ditanam jangan terlalu besar, bertahap saja sesuai kebutuhan,” tutur Perry.

Lebih lanjut Perry mengumpamakan membangun usaha dengan mencoba mencari kekasih. Kalau seseorang mendekati calon kekasih, pasti tidak langsung diterima. Ada pendekatan dulu, mungkin beberapa kali ditolak. Dari ditolak itu harus dicari apa sebabnya. “Mungkin produk kita kurang bagus, atau bahasa kita tidak tepat, atau tempat kita tidak pas. Atau orang yang ditarget terlalu muluk atau terlalu rendah, semua harus dianalisa, sampai ketemu sebabnya,” tutur Perry.

Kata Perry, hal lain yang paling penting dalam membangun usaha adalah inovasi. Inovasi bisa dicari dengan banyak bergaul dan mengamati. Menurut Perry, mungkin produk kita biasa-biasa saja, tapi jika didalam menyajikan ada inovasi yang baik, bukan tak mungkin sukses. Lalu Perry menunjuk contoh, Cafe I Love You, yang ramai dikunjungi anak-anak remaja. Karena kabarnya kalau sepasang remaja makan disitu, hubungan cintanya akan langgeng. “Apa ya seperti itu? Belum tentu, tapi pemiliknya demikian pintarnya melansir cerita seperti itu, dan dipercaya, maka sukseslah dia,” tutur Perry.

Margahayu Land Eksis Karena Menjaga Kredibelitas

Sekarang ini di Indonesia merupakan era emas bisnis properti. Angka fantastis diraup oleh perusahaan property. Di Jakarta saja, apartemen dijual laris bak kacang goreng. Gedung belum dibangun, gambar baru dibuat, tetapi sudah banyak terjual. Bahkan para calon pembeli sudah antri sejak subuh.

 

Di Bandung juga ada pengembang yang telah berusia 41 tahun, dan sampai kini masih eksis. Namanya PT Margahayu Land Group yang merupakan holding company yang banyak memiliki anak-anak perusahaan.
Direktut Utamanya, H. Hari Raharta Sudrajat SE sebagai generasi keduanya mengatakan, perusahaannya bisa eksis sampai kini karena kredibelitas dan pelayanan kepada konsumen terus dijaga sebaik mungkin. “Harus punya tradisi tinggi tentang kredibilitas, reputasi, kreativitas, kualitas dan terus melakukan promosi. Jangan terlena, Coca Cola saja masih terus promosi, “ jelas Raharta dalam ‘Talk Show Gebyar Marketing PRFM’, Rabu (7/11).

Hal ini dibenarkan oleh Perry Tristianto. Namun Perry menyebut beberapa pengalaman pahit rekan-rekannya yang kecewa terhadap pengembang lantaran tidak menepati janji. “Ada rekan-rekan saya yang dijanjikan bisa menempati rumah atau apartemen sesuai tanggal perjanjian, namun molor dari waktu yang ditentukan. Ini kan merugikan konsumen. Bagaimana ini, Pak?,” tanya Perry.

Diakui oleh Raharta ada konsumen yang mengeluh karena kecewa proses pembangunan yang sangat lamban, dan tidak sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Namun menurut Raharta, pengembang seperti itu nantinya akan ditinggalkan. “Pengembang harus menepati janji sebagaimana kesepakatan. Sebaiknya memilih pengembang yang kredibel. Kalau kami sebagai anggota REI secara rutin ada pengarahan dan edukasi, sehingga tak sampai mengecewakan konsumen,” tutur Raharta.

Banyaknya permintaan di era emas property bisa berdampak pelayanan menjadi kurang memuaskan. Hal itu yang harus dihindari. Menurut Popy Rufaidah yang malam itu diwawancara via telpon karena ada keperluan ke Papua, mengatakan, kebutuhan rumah sekarang ini belum bisa diakomodasi dengan baik. Popy menyebut, di Bandung sekarang ini membutuhkan rumah antara 13 sampai 18 juta rumah, namun yang bisa dipenuhi baru sekitar 50 persen.

Hari Raharta Sudrajat mengiyakan apa yang dikatakan Popy. Namun ia mengemukakan, tingginya tingkat kebutuhan rumah di wilayah Jabar, tidak terimbangi dengan ketersediaan lahan untuk merealisasikan pembangunan landed house. Karena itu kini pihaknya membangun apartemen. “Namun harus juga diiringi dengan sosialiasi tentang apa itu apartemen, karena masih banyak masyarakat yang ragu terhadap apartemen,” tutur Raharta.

Jangkauan perluasan pekerjaan Margahayu meliputi Bandung Timur, Ranca Ekek, Cijerah sampai wilayah Jawa Barat, seperti Bogor, Bekasi dan Cirebon. Dan karya spektakulernya membangun Metro Soekarno Hatta Estate.

Menurut Perry, pembangunan Metro ini merupakan terobosan yang luar biasa, dimana saat itu Margahayu tak hanya bisa membangun pemukiman, tapi membawa outlet fast food waralaba. “Awal tahun 1990-an membawa waralaba fast food merupakan barang mewah. Padahal dulu adanya Metro di desa, jauh dari kota. Luar biasa. Dan saat itu Metro menjadi kota satelit,’ kata Perry.

Sampai sekarang Margahayu Land sudah membangun 30 perumahan di Bandung dan Jawa Barat yang dihuni sekitar 40 000 Kepala Keluarga. Margahayu juga membangun apartemen Newtown Hybrid Park.
Margahayu Land banyak menerima banyak penghargaan, antara lain dari Bank Tabungan Negara (BTN), Perusahaan Pembangunan Perumahan Sederhana pada 1984, Pembangunan Rumah Teladan Daerah Bandung dari PT Papan Sejahtera pada tahun 1990. Sementara penghargaan Internasionaln‘European Gold Star for Quality’ dan ‘The Gold for Leading Enterpreses’ dari CIEMIP tahun 1988 dari Spanyol.
Sesuai dengan visi dan misinya, Maragahayu Land bercita-cita menjadi perusahaan property pribumi terbesar di Jawa barat.. Dan yang tak dilupakan adalah, memperhatikan kelestarian lingkungan hidup sebagai bagian dari program pembangunan property secara menyeluruh

Yedi Karyadi : Tak Ada Modal Bukan Alasan Dalam Bisnis

Potensi bisnis di Jawa Barat menjanjikan. Karena itu, sebaiknya masyarakat Jawa Barat memberdayakan potensi tersebut dengan bersemangat sebagai entrepeneur. Jangan sampai potensi itu justru diambil orang lain apalagi orang asing. Memang banyak kendala untuk menjadi entrepeneur, dan hal yang paling banyak dikeluhkan adalah persoalan modal, padahal faktor modal bukan hal krusial. Demikian ketua Himpunan Pengusaha Indonesia (Hipmi) Jawa Barat, Yedi Karyadi dalam ‘Talk Show Gebyar Marketing PRFM’, Rabu (31/10).

Lebih lanjut Yedi mengatakan, jika ada alasan tak bisa menjadi entreprenuer karena modal, itu tak lebih mencari alasan. “Kalau konsepnya bagus, dan usaha sudah mulai jalan, sebenarnya banyak pemodal yang mau investasi, tinggal hitung-hitunganya saja. Jangan gampang menyerah,” jelas Yedi Karyadi.

Menurut Yedi, dalam memilih usaha hendaknya jangan latah alias ikut-ikutan bisnis yang sedang booming. Sehingga ketika bisnis yang dulunya booming itu sudah tak trendy lagi, maka akan terjadi kematian massal. “Ini akan menyulitkan, karena secara bersamaan usaha sejenis mati dalam waktu bersamaan. Carilah bisnis yang melawan arus,” jelas Yedi. Ia memberi contoh bisnis yang pernah mati massal adalah usaha wartel. Begitu ada handphone, wartel yang saat itu booming, kemudian mati secara massal.

Menyinggung keberadaan Himpi Jabar yang dipimpinnya, Yedi masih prihatin dengan jumlah wirausahawan di Jabar masih sangat minim, hanya sekitar 0,18 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 80 ribu orang. “Harapan saya nantinya bisa mencapai 2 persen, itulah persyaratan standar untuk jumlah penduduk Jabar saat ini. Namun pemerintah Jabar harus men-support-nya. Selama ini perhatian pemerintah sangat minim sehingga kewirausahaan berjalan sendiri-sendiri. Misalnya, dengan memudahkan perizinan bagi para pelaku usaha dan memberikan motivasi kepada wirausaha muda. Dan satu lagi, selama ini peraturan yang dibuat pemerintah cenderung tak sesuai dengan yang terjadi di lapangan, mestinya pemerintah memanggil pengusaha untuk membuat peraturan, jangan dari sudut pandang mereka sendiri,” tutur Yedi.

Sementara itu Perry Tristianto mengatakan, di sisi lain para pengusaha memang harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan, dengan tidak melanggarnya. Sehingga peraturan yang dibuat tidak ‘rusak’ oleh ulah oknum pengusaha. “Sebagai contoh, saya dulu menggeluti usaha studio rekaman, ternyata yang membajak lagu mereka, produsernya sendiri. Ini ‘kan merusak peraturan yang telah ditetapkan,” tutur Perry.

Dan Popy Rufaidah mengatakan, hendaknya wirausahawan di Jawa Barat mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri. Paling tidak kekayaan alam itu sudah diolah terlebih dulu sebelum diekspor, sehingga ada nilai lebih. Hal ini langsung diiyakan oleh Yedi Karyadi,” Betul. Jangan sampai kekayaan alam yang kita miliki diolah di luar negeri, lalu produknya dikrim kembali ke kita. Ini menyedihkan. Pangsa pasar Indonesia ini sungguh luar biasa. Lihat saja, banyak bank kita dibeli oleh asing, itu artinya mereka melihat potensi pasar kita,” tutur Yedi.

Yedi Karyadi kini Komisaris Utama Rumah Sakit Karya Husada Karawang. Ia juga Dirut PT Bukit Bintang Mandiri, usaha yang bergerak bisnis gas elpiji dan masih banyak lagi usaha yang dimiliknya. Tanda – tanda Yedi seorang pengusaha sudah terlihat sejak duduk di bangku SD. Waktu itu ia sambil sekolah menyewakan komik kepada teman-teman sekolanya. SMP hingga kuliah ia ada di Singapura dan London. SMP di Singapura ia memberi les kepada anak-anak TK. Dan pada tahun 1999 di London, ia sudah menggeluti bisnis on line, yang di Indonesia belum lama booming. “Domain bagi saya property. Saya banyak memiliki domain. Bisa dijual atau disewakan,” tutur Yedi, suami dari dokter Cellica Nurrachadiana yang juga wakil bupati Karawang periode 2010-2015 ini.