Kopi Mang Dadang Menciptakan Pasar Sendiri

Kedai kopi sekarang menjamur. Tak terkecuali di kota Bandung. Kota Bandung yang juga dikenal dengan warganya yang tak bisa lepas dari ‘gaya hidup’ menjadikan kedai kopi yang kini erat dengan gaya hidup menjadikan bisnis ini memiliki peluang besar dan bisa membawa keuntungan.

Hal itulah yang dijadikan thema Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (23/9), dengan mendatangkan nara sumber pengelola kedai kopi, Dadang Hermawan.

Yang dilakukan Dadang Hermawan, atau yang lebih dikenal dengan Mang Utun sungguh unik. Ia mendirikan apa yang disebut mobile coffe shop. Yang menarik dari bisnis kedai kopi yang digelutinya ini adalah, kedai kopi yang menggunakan sarana mobil Land Rover sebagai sarana untuk berjualan. Sehingga dengan mudah kedainya bergerak cepat mencari pasar.

Berawal dari kecintaannya terhadap kopi dan dia juga penikmat kopi, Dadang lalu puny ide tersebut dan merealisasikannya. “Saya pecinta kopi dan penikmat kopi, saya yakin apa yang saya lakukan ini satu-satunya di dunia, atau paling tidak keberadaannya dapat dihitung dengan jari” tuturnya.

Menurut Perry Tristianto sebagai host acara talk show ini, apa yang dilakukan oleh Dadang merupakan hal unik, dan yang terpenting ia telah menciptakan pasar, bahkan mencari pasar dengan instan. “Ini adalah ide yang unik dan menciptakan pasar tersendiri,” tutur Perry.

Memang sistem penjualan yang digunakan dengan jemput bola. Yang mana kedai kopi ini lebih banyak mendatangi kerumunan dan tempat ramai untuk berjualan. Dimana ada keramaian, kedai kopi milik Dadang ini langsung ‘menyerbu’ ke dalamnya.

Bukan itu saja daya tariknya, menu yang ditawarkan juga tak kalah dengan menu kedai kopi pada umumnya, meski diracik dalam mobil. Malah kedai kopi ini mempunyai menu andalan yang belum ada di kedai kopi yang lain yakni coffe frutt.,

Menu andalan ini mempunyai aroma khas dengan berbagai macam pilihan yakni madu, aromanis atau gulali. “Saya yakin menu andalan ini tak ada di kedai kopi lain,” tutur Dadang yang juga dikenal juga aktif sebagai aktivis lingkungan.

Kedai kopi Mang Dadang ini biasa mangkal di Taman Cibeunying Park pada setiap hari Jumat, Sabtu, Minggu, mulai pukul 4 sore. Bahkan selama Ramadhan lalu, keda kopi mang Dadang laris manis untuk menemani buka puasa orang yang ngabuburit di tempat-tempat tersebut.

Indonesia sendiri dikenal memiliki kopi jenis spesial yang sudah dikenal di manca negara khususnya di  Eropa, Jepang, dan Amerika. Malah disebut-sebut sejajar dengan kualitas kopi spesialti dunia lainnya.

Indonesia juga dikenal memiliki daerah-daerah penghasil kopi yang ‘unik’ yang jika dikelola dan diolah dengan baik akan menghasilkan kopi dengan citarasa spesifik. Juga memiliki varian. Beberapa varian memiliki karakteristik yang sangat unik.

Beberapa varian kopi spesial Indonesia sudah terkenal di dunia antara lain Gayo Coffee dari Aceh, Mandheling Coffee dari Aceh, Java Coffee dari Jawa Timur, Toraja atau Celebes Coffee dari Sulawesi Selatan dan Luwak Coffee.

Sementara itu, beberapa verian kopi spesial yang mulai dikenal dunia antara lain Flores Coffee, Bali Coffee, Prianger Coffee dan Papua Coffee. Di Bandung sendiri ada kopi luwak yang sangat terkenal yang juga menjadi tujuan wisata, karena disana bisa dilihat budidaya kopi luwak berseta luwak-luwaknya yang senmagaja dipelihara.

Fruits Up produk minuman inovatif

Produk minuman Fruits Up memiliki pasar yang luas dan terbuka. Karena meski bentuk dan namanya minuman, namun karena isinya (mangga) dicampur sedikit es dan elly, meminum Fruits Up serasa makan buah mangga. Menjadi kenyang, seperti makan mangga.

Hal itu diutarakan oleh Perry Tristianto dalam Talk Show Gabyar Marketing PRFM, Rabu (26/8) dengan nara sumber, penggagas Fruits Up, Dwi Purnomo.

Fruits Up adalah usaha minuman buah segar yang dibuat dari mangga. Usaha ini bermitra dengan para petani mangga. Berangkat dari kenyataan bahwa petani mangga kalau sedang musim panen harganya jatuh lantaran membludaknya buah mangga yang dipanen. Maka gagasan ini muncul.

Dwi Purnomo sendiri adalah dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad. Ia mengajak para mahasiswanya untuk membuat berbagai usaha dengan bermitra petani atau peternak. “Jadi tak betul kalau disebut Fruits Up milik saya, usaha ini saya bangun dengan mahasiswa,” jelas Dwi.

“Selain kenyang meminum Fruits Up, kelebihan lain, bisa menjadi alternatif pengganti makan buah, terutama saat malam hari. Orang mungkin malas mau makan buah mangga malam hari, karena harus mengupas dulu. Tapi dengan adanya minuman ini menjadi alternatif. Praktis,dan langsung disantap,” jelas Perry.

Lebih lanjut Perry mengatakan, produk ini bagus dan jangan sampai dijual di ritel, karena sekarang banyak ragam macam minuman dijual, sehingga orang sulit membedakan, padahal Fruits Up beda dengan minuman pada umumnya.

Fruits Up juga menawakan bagi yang tertarik menjadi reseller dengan modal hanya Rp. 500 tibu. “Bisnis ini sulit sulit mudah, yang paling sulit di hulunya, karena memanage para petani tak mudah,” jelas Dwi.

Usaha yang dibangun Dwi Purnomo dikenal berlandaskan konsep sociopreneurship. Yaitu, kewirausahaan berbasis jiwa sosial unjtuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan ujung tombak para mahasiswa sebagai lokomotifnya. “Masyarakat tak harus menunggu modal besar, tapi bisa langsung jalan bersama kami,” jelas Dwi.

“Dengan konsep itu, kami berusaha mengembangkan petani agar bisa terdorong untuk mengolah mangga sebagai bahan baku mentah yang kemudian memiliki nilai tambah. Sekarang memang baru mangga, tapi tidak tertutup kemungkinan nanti berkembang ke buah-buahan lain,”jelas Dwi.

Selain usaha minuman Fruits Up, Dwi bersama mahasiswanya juga memiliki rumah makan bernama ‘Entog Jenggot’ yang berlokasi di Jatinangor. Disana aneka kuliner khas Indramayu ditawarkan kepada masyarakat. Juga kerjasama dengan masyarakat yang memelihara entog.