Nama Vlado brand komersial dalam buku ‘Hati Biru’

Nama Vlado sebagai legiun asing di Persib Bandung  merupakan brand sangat menjual alias komersial. Hal itu diutarakan oleh Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (25/5).

Malam itu topiknya memang agak beda dari malam-malam biasanya. Malam itu menghadirkan bek Persib  asal Serbia Montenegro, Vladimir Vujovic, yang biasa dipanggil Vlado. Dalam rangka peluncuran bukunya ‘Hati Biru’ kisah Vlado selama memperkuat  Persib selama tiga tahun. Buku lahir dibantu penulis asal Bandung , Arif Budi Kristanto.

“Saya menulis buku ini ingin menuangkan perasaan dan pikiran saya selama membela Maung Bandung, yang selama ini tidak pernah ditulis di berbagai media,” kata Vlado dalam bahasa Inggris dalam acara talk show tersebut.

Lebih lanjut pemilik nomor punggung nomor 3 ini mengungkapkan, dalam outobiografi juga menuliskan banyak kenangan bersama Pesib. Luapan emosi,  baik sebelum berlaga maupun sesudah berlaga yang banyak dikendalikan atau disimpan, dituangkan dalam buku tersebut.

“Buku ini menurut saya komersial, meski harganya lumayan mahal (Rp.130 ribu dan dijual secara online), namun buku ini akan menjawab kehausan para bobotoh yang butuh informasi tentang Vlado yang selama tidak terekspos di media. Ini souvenir yang bagus buat Persib,” tutur Perry Tristianto.

Perry menambahkan, selain buku ini, hendaknya Persib juga membuat souvenir-souvenir yang berbeda dari yang selama ini. Karena menurut Perry, bobotoh bukan hanya yang selama ini citranya terbentuk, yaitu yang mengendarai sepeda motor dengan suara bising di tengah jalan. Tapi juga banyak bobotoh yang anteng di rumah sederhana, di rumah mewah, dan mungkin bukan orang Sunda, juga dari berbagai suku dan agama.

“Cobalah untuk membuat souvenir kaos  Persib yang berkualitas, seperti milik Arsenal, milik club-club Inggris. Itu ada pasarnya, dan besar, karena bobotoh tidak hanya yang kelihatan di jalan-jalan,” jelas Perry.

 

Pembuatan buku ini selama enam bulan, berisikan 11 Bab, setebal 150 halaman. Masing-masing bab membeberkan perasaan sedih, bahagia, jenaka, kekaguman, kemarahan, persahabatan, konflik. Kesulitan kehidupannya juga digambarkan, tak hanya di Bandung, tapi juga di berbagai negara dengan beragam cuaca, perbedaan budaya, dan mencari jati diri pemain bola yang profesional.

Launching buku ‘Hati Biru’ berlangsung  di North Point Kitchen and Lounge Bandung, pada tanggal 10 Mei 2016. Valdo sendiri memang menjadi kebanggaan bagi pecinta Persib, dan bertahta dihati bobotoh. Vlado menjadi bagian penting Persib. Ia turut mengantarkan Persib meraih gelar juara Indonesia Super League (ISL) yang hampir 20 tahun tidak didapat Persib, Piala Presiden 2015, serta juara turnamen Wali Kota Padang.  Ia didatangkan Persib pada 2013

Konsep BANDUNG TEKNOPOLIS harus jelas

Dalam mempersiapkan Bandung Teknopolis di Gedebage, harus jelas dulu konsepnya, dan siapa yang akan masuk dan mengisinya? Apakah investor, pengusaha, UKM? Kalau mau menciptakan Bandung Teknopolis yang benar , jangan sampai pada akhirnya pembangunan seperti yang sudah-sudah ada. Harus mencerminkan kota Bandung,

Demikian komentar Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (27/4) yang malam itu menghadirkan nara sumber dua mahasiswa Fakultas Universitas Parahyangan (UNPAR), Nizar Fadlurohman  (Direktur Economi Experience 2016), dan wakilnya, Vicentius Andrew Nugroho.

Malam itu memang sedang mengupas konsep Bandung Teknopolis, serta dampak pembangunan Bandung Teknopolis terhadap perekonomian berbasis teknologi dan sebagai pusat perekonomian baru.

“Kalau tekanannya  pada ekonomi, harus jelas yang masuk siapa? Apakah investor, pengusaha atau UKM? Harus jelas, agar Bandung Teknopolis-nya nampak.  Sekarang coba ke bandara  Husein Sastranegara,  Bandung. Disana mana ada ciri-ciri kuliner Bandung? Tidak ada. Karena apa? Karena UKM  tidak bisa masuk, biaya sewanya berat buat mereka.  Apa mau seperti itu?  Jadi kalau yang diajak pengusaha, adalah pengusaha yang mengerti  tentang konsep Bandung Teknopolis ini,” jelas Perry.

Perry juga menegaskan, untuk membangun Gedebage perlu dana yang sangat besar. Untuk penghijauannya saja sudah pasti makan biaya yang tinggi. Belum pembangunan – pembangunan lainnya.  “Ini menyangkut dana yang tidak kecil,” tegas Perry.

Gedebage sendiri selama ini image-nya adalah kawasan banjir. Namun Nizar dan Andrew menjelaskan, dengan Bandung Teknopolis Gedebage dibranding menjadi creative city yang digabungkan dengan pesona culture Bandung.

Perry Tristianto yang selama ini banyak membina banyak UKM dan membangun tujuan wisata dengan menonjolkan ciri atau culture Bandung berharap UKM bisa disertakan. Bukan hanya membangun berciri Bandung, tapi juga mengangkat dan memarketingkan UKM-UKM yang berasal dari Bandung dan sekitarnya.

Ridwan Kamil sendiri pernah mengatakan berdasarkan penelitian sekitar 10 tahun yang lalu, kesempatan untuk mengembangkan Kota Bandung memang terletak pada daerah Bandung Timur yang termasuk di dalamnya adalah wilayah Gedebage.  Dan diwajibkan agar ada komponen ekonomi di dalamnya dan bisa menyerap tenaga kerja layaknya sebuah kota.

Bandung Teknopolis itu sendiri sebelumnya akan diseminarkan pada tanggal 29 dan 30 April 2016. Pembicaranya adalah kalangan yang relevan dengan konsep ini, disamping Ridwan Kamil sendiri sebagai Walikota Bandung, juga ada Direktur Walhi Dadan Ramdan, pengamat tata kota, Hesti D Nawangsidi dan Ishak Somantri, dosen EP Unpar.

Seminar ini free, dan diperuntukkan kepada mahasiswa, dan memperoleh sertifikat, anck, lunch serta seminat KIT. Hari pertama, tanggal 29 April 2016 berlangsung di  Ruang Audio Visual Fisip Unpar, jalan Ciumbuleuit No. 94 Bandung (mulai pukul 14.00 sampai 20.00 Wib). Hari kedua, tanggal 30 April 2016 digelar di Hotel Sheo, jalan Ciumbuleuit no. 152 Bandung (dimulai pukul 08.00 sampai 16.00 Wib). Peminat bisa menghubungi Anastasia Adelline, Hp, 081284500880.

Market IND dideklarasikan di Bandung

Hari Minggu (3 April 2016) telah dideklarasikan Perhimpunan Masyarakat Marketing Indonesia  atau  Market IND – di pelataran Gedung Sate  Bandung. Salah satu pendiri Market IND adalah Perry Tristianto, sebagai  Presiden Direktur The Big Price Cut (TBPC). Pendiri lainnya, Popy Rufaidah, SE, MBA, Ph.D  yang kini menjabat sebagai Ketua Program MM Fakultas Ekonomi da Bisnis UNPAD.  Dan dua orang pendiri lainnya adalah, Dr. Ir. Dudi Sudrajat, MT, yang juga Kepala Dinas KUKM Jawa Barat, dan H. Januar  P Ruswita, Owner HU Pikiran Rakyat.

Deklrasi itu sendiri dihadiri oleh Mentri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia, Yuddy Chrisnandi. Dalam sambutannya,  Yuddy Chrisnandi berharap, Market IND dapat mendorong dan melahirkan lebih banyak wirausaha-wirausaha muda sebagai motor perekonomian negara.

”Pendirian lembaga ini merupakan tonnggak peningkatan kualitas pembangunan yang berkelanjutan, dan berbasiskan sumber daya manusia yang kompeten dan kompetitif,” ujar Yuddy dalam sambutan deklarasi tersebut.

Selain  Menteri Yuddy Chrisnandijuga hadir menteri Pariwisata Arief Yahya, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, serta ribuan pelaku usaha se Jawa Barat. Acara berlangsung cukup meriah.  Ribuan wirausaha muda membaur untuk saling tukar informasi yang berhubungan dengan usahanya masing-masing.

Perry Tristianto sendiri mengatakan, dengan dibentuknya Market IND ini, diharapkan dunia usaha di Indonesia semakin mendapat suntikan motivasi dan ilmu serta dapat memperbanyak pengusaha muda di Indonesia.

Adapun program kerja Market IND meliputi bidang pendidikan, penelitian, dan sertifikasi . Juga ada bidang pengembangan  organisasi, bidang publikasi dan komersialisasi. Bagi yang berminat untuk menjadi anggota, bisa mendaftar ke sekretariat  Market IND di jalan Cipganti 168 Bandung, telpon 0222-2040222. Atau ibu Intan Setiati, telpon 081220381888.

Jawa Barat pernah melansir telah menargetkan mencetak 100.000 wirausahawan baru, dengan sasaran generasi muda selama 5 tahun ke depan. Dan pengembangan program pelaku wirausaha baru itu memprioritaskan mahasiswa atau pekerja muda yang ingin beralih profesi.

Yuddy sendiri dalam lanjutan sambutannya meyakini, melalui Market IND bisa ditemukan dan ditumbuhkembangkan melalui wirausaha muda. Dengan kemampuan marketing yang mumpuni, diharapkan dunai usaha di Indonesia, Jawa Barat khususnya akan semakin berkembang.

Memasuki pasar, brand kecil bisa semakin tenggelam

Jangan bangga memasuki pasar. Banyak UKM bangga produknya memasuki pasar, misalnya ke supermarket, karena barangnya mampu kesana. Ini ironis, karena memasuki pasar tak ubahnya sama memasuki medan perang yang banyak musuhnya, dan membuat produknya kurang laku.

Ironisnya lagi, banyak UKM yang seolah berlomba-lomba memasuki pasar di supermarket. Padahal dengan memasuki pasar, brand akan tenggelam karena kalah dengan brand-brand yang sudah punya nama dan memiliki modal besar.

Hal ini diutarakan oleh Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (2 Maret 2016), yang malam itu mendatangkan nara sumber Nining Yuningsih, atau yang lebih dikenal Ceu Edoh, yang dikenal sebagai salah satu pemeran sinetron ‘Preman Pensiun’ dan artis Bandung. Ia juga menggeluti usaha camilan keripik dan pakaian bayi.

Keripik singkong kering buatannya diberi label ‘Somering Ceu Edoh’, yang merupakan kependekan dari ‘sampeu garing’ (bahasa Sunda –yang artinya singkong kering).

“Tapi namanya kemudian menjadi ‘Somering Ceu Edoh’ biar terdengar keren, seperti bahasa Inggris. Padahal kependekan dari bahasa Sunda,” jelas Ceu Edoh.

Tak hanya keripik singkong, Ceu Edoh sudah lama menjalani wirausaha. Bersama keluarganya, ia menapaki usaha kantin di Pasar Baru Bandung. Letaknya di basement pasar terbesar di Kota Bandung.

Lebih lanjut kepada Perry Tristianto mengatakan, produk seperti keripik singkong jika dijual di supermarket akan banyak saingannya. “Bersaing dengan produk pabrikan akan berat. Mereka punya modal besar, ada promo segala. Menurut saya, carilah tempat yang tidak ada saingannya, misalnya memasuki dijual di SPBU yang tidak menjual oleh-oleh, itu pasar yang bagus, ” lanjut Perry.

Perry juga menambahkan, nama Ceu Edoh sendiri yang sudah dikenal, apalagi di Bandung bisa membantu mengangkat produk buatannya tersebut. Hal ini ditimpali oleh Ceu Edoh, “Saya memang sering jualan di saat syuting istirahat. Lumayan….he…he….” tutur Ceu Edoh.

Keripiknya sendiri menurut Perry enak, dan rasanya berbeda dengan keripik pada umumnya, dan ini merupakan nilai plus. ‘Somering Ceu Edoh’ sendiri tersedia dalam beberapa varian rasa, ada rasa strawberry, keju, original dan yang lain.Sementara pakaian bayi yang digelutinya berada di daerah terusan Jalan Buah Batu tepatnya di dekat Pasar Kordon.

Ceu Edoh sendiri selama ini dikenal berpenampilan lugu dan kental dengan logat Sunda khas. Profesinya sehari-hari adalah pekerja seni dan seorang ibu rumah tangga.

Ia dulu dikenal lewat program ‘Longser Plus’ yang disiarkan TVRI Jabar-Banten. Ia juga bermain bersama Kang Jaenal, Mr. Jun, dalang wayang golek Riswa.

Ia juga bermain di seni tradisi Betawi. Ia pernah bergabung dan kerap manggung bersama pertunjukan lenong pimpinan Mat Licin serta teater Bang Opie Kumis. Itu yang membuatnya merantau ke Jakarta tahun 2006.

Kini setelah sinetron ‘Preman Pensiun’ banyak mengambil syuting di Bandung, dan ia menjadi salah satu pemainnya, Ceu Edoh ‘pulang kampung’ dan makin leluasa konsentrasi membangun kembali usahanya yang dibangun di kota Bandung.

Bakery Street Tempat Makan dan Belajar

Faktor judul, atau brand dalam usaha sangat penting. Hal itu diucapkan oleh Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (24/2), yang malam itu mendatangkan nara sumber Mesayu Pradita, pemilik Baker Street yang terletak di Jalan Cimandiri nomor 18, Bandung.

Baker Street adalah sebuah cafe khusus Bakery and Brunch di Bandung, lokasinya strategis di sekitar Gedung Sate yang sudah sangat kondang, bagi orang Bandung maupun luar Bandung. Nama brand-nya memang unik, Baker Street, dan juga ada Bakery Academy-nya, baking course khusus membuat kue, cakes dan pastry, bagi anak-anak dan orang dewasa

“Judul, atau nama, atau brand memang harus unik dan menarik dalam membangun sebuah usaha. Sehingga membuat orang bertanya-tanya dan tertarik. Nama Baker Street, apalagi ada Bakery Academy saya rasa sangat menarik,” jelas Perry Tristianto.

Namun Baker Street tidak hanya menarik dari sisi nama atau brand saja, tempatnya saja dilihat dari luar sangat menarik. Begitu pengunjung tiba disambut pintu kaca putar yang keren dan elegan, dan ini langsung menjadi magnet bagi anak-anak, sebuah ‘pancingan’ yang smart.

Bangunan dengan dua lantai ini begitu dimasuki semakin menarik. Didalamnya terdapat banyak kursi kayu dan sofa-sofa cantik yang memikat mata. Bantal-bantal imut seperti menggoda pengunjung untuk mendekatinya. Pendek kata, sangat fotogenic. Biasanya pengunjung langsung selfie disana dan saat itu jutga menyebarkan di dunia maya, Disana juga tersedia Wifi.

Sesuai namanya, Baker Street menyediakan berbagai macam roti, cake dan pastry. Tamu langsung bisa memilih dari etalase cantik dan bersih. Bagi yang ingin makan di tempat, pastry yang dipilih pilihan akan dihangatkan lagi.

Menurut Mesayu, pada mulanya tempatnya itu merupakan tempat breakfast and lunch. “Jadi kami buka pagi-pagi sekali. Namun kemudian Baker Street berkembang sesuai dengan tuntutan dari target pasar.

Sekarang Baker Street juga menyediakan menu all day Bbunch yang bisa di order. Seperti Big Breakfast, Burger, Hotdog, Salad, Fish & Chips, Steak, Sausages, nasi rames, nasi goreng, juga aneka Pasta dan Sandwich. “Di tempat kami sebenarnya konsep awal menunya adalah makanan sehat. Tapi kemudian kami buat menjadi makanan sehat dan enak. Salah satunya Roti Arang, sebagai makanan enak asal Korea. Bukan saja sehat tapi enak,” tutur Mesayu.

Sementara minumannya, selain minuman wajib Coffee, juga menyediakan aneka pilihan menarik lain, misalnya, Milk, Chocolate, Tea, Smoothies, MilkShake, Mojito, Juice dan soft drink.

Tempat ini juga menjual aneka peralatan dapur yang imut-imut, khususnya peralatan untuk bikin kue, misalnya cetakan kue, mug, dan barang-barang itu sulit ditemui di tempat lain, sekalipun perlengkapan itu terbuat dari dari bahan kayu.

Yang menarik, Baker Street juga punya Bakery Academy. Menariknya, setiap Minggu thema yang diusung berbeda-beda sesuai dengan jadwal yang tersedia. Ada kursus untuk orang dewasa, ada pula kursus untuk anak-anak usia 4-10 tahun. Dengan pembagian hari yang berbeda-beda.

“Di saat belajar bikin kue, saya sering menyaksikan bagaimana anak-anak merasa bangga bisa membuat kue untuk dirinya dan untuk orang tuanya,” tutur Mesyu. Baker Street jam buka: 07.00 – 22.00, dan telpon : 022 – 4232220

UMKM Harus Lebih Kreatif

Perry Tristianto menegaskan kembali perlunya inovasi atau kreatifitas yang dilakukan oleh pelaku UMKM. Tanpa inovasi dan kreatifitas, hasil atau target yang akan dicapai tidak akan maksimal. Hal ini ditegaskan Perry Tristianto dalam ‘Talk Show Gebyar Marketing PRFM’, Rabu (17/2) yang malam itu mendatangkan nara sumber Kepala Dinas Koperasi dan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) Jawa Barat, Dr. Dudi Sudrajat, dan mengambil thema ‘Program Wirausaha Baru’.

Lebih lanjut Perry menegaskan, inovasi itu meliputi 4 P ( Product, Price, Place dan Promotion). “Berbicara soal 4 P, menurut saya ini memang bisa jadi standar, tapi jangan terpaku harus memiliki 4 P kalau membuat usaha. Ada 2 P saja sudah baik, nanti P lainnya menyusul,” tutur Perry. Perry juga menakankan, yang juga sangat penting bagi pelaku UMKM adalah mengikuti perkembangan dan mengamatinya.

Dari sisi produk Perry memberikan contoh produk dari outlet yang dimilikinya sendiri, yaitu Tahu Susu Lembang. Perry menceritakan, bagaimana menciptakan produk inovatif tahu dengan mengombinasi dengan susu, sehingga rasanya berbeda dan lebih enak, lebih halus dicerna dan banyak disukai konsumen.

“Lalu saya memberikan nama Tahu Susu Lembang. Saya tidak memberi nama Tahu Susu Perry. Karena nama Lembang lebih bisa mewakili, dan lebih terkenal. Itu salah satu cara trick memberi nama produk,” jelas Perry.

Lebih lanjut Perry menjelaskan soal Price. Menurutnya harga hendaknya yang bisa terjangkau, dan dilihat apa dan bagaimana target marketnya. “Jangan mengira menjual produk harga murah pasti laku. Juga jangan mengira menjual harga mahal tidak laku,” tegas Perry.

Soal Place, Perry sering menegaskan, jangan memasuki pasar, tapi ciptakan pasar. “Misalnya punya produk kue, jangan masuk ke pasar kue. Disana banyak saingan, sehingga harga juga tak bisa dijual mahal. Maka ciptakan pasar sendiri, contoh ekstrimnya, misalnya jual kue di apotik. Kenapa tidak? Orang ke apotik juga bisa butuh kue, misalnya untuk minum obat. Dan karena disana tak ada saingan harga bisa dibuat mahal. Apalagi kalau kue itu enak, maka itu menjadi promo tersendiiri,” tegas Perry.

Soal Promosi, Perry memberi contoh warung Ce’Mar yang berjualan gule sapi tengah malam di Bandung dan sukses, sehingga bisa hidup mewah. “Ce’Mar, sang pemilik kalau menyapa pelanggan manis sekali, itu adalah bagian promosi. Contoh lain, kripik Maicih, sebenarnya Maicih sukses karena saat itu twitter baru ada. Mereka promo gencar via twitter, dan sukses. Jadi promo bisa dari segi apa saja,” tegas Perry.

Perry juga menegaskan, meski UMKM banyak dibina pemerintah, tapi hendaknya dalam melakukan promosi atau mengenalkan produknya jangan menggunakan bahasa kaku. “Jangan lah mempromosikan cara demikian, misalnya, ini produk dari Garut. Itu bahasa kaku, buatlah yang lebih inovatif, sehingga membuat orang tertarik,” jelas Perry.

Mobil Ford di Indonesia hanya cocok untuk segmen tertentu

Produk mobil Ford kurang cocok dengan kondisi Indonesia, hanya cocok dengan segemen tertentu, apalagi dibuatnya memang tidak di Indonesia. Dari sisi harga juga dinilai lebih mahal dibanding dengan mobil yang hampir sama.

Demikian Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (27/1/2016), yang malam itu menghadirkan thema ‘Kerasnya Persaingan Pasar Otomotif di Indonesia’ dan nara sumber Wisnuaji dari Asosiasi Industri Automotif Nasional (Asianusa).

Thema itu memang dalam rangka penghentian operasi FMI (Ford Motor Indonesia) di Indonesia yang dimulai pada paruh kedua tahun 2016 ini. Pengumuman itu disiarkan hari Senin (25/1/2016),

Menanggapi apa yang dikatakan oleh Perry itu, Wisnuaji mengatakan, berita ini sebenarnya sebenarnya haboh karena nama besar Ford. “Kalau dilihat dari jumlah karyawannya sebenarnya tak terlalu banyak,” jelas Wisnuaji.

Berkenaan penghentian operasi FMI itu, Perry menegaskan, yang hilang dari Indonesia FMI-nya. “Tapi Ford-nya kan masih ada. Di Indonesia mobil apa sih yang tak ada? Hampir semua merek ada di Indonesia,” jelas Perry.

FMI sendiri berharap masyarakat dapat terus mengunjungi dealer karena berkomitmen untuk menyediakan kesinambungan dukungan pelayanan servis dan garansi setelah kepergian FMI. FMI juga menegaskan pihaknya menjamin ketersediaan suku cadang da pelayanan servis. Karena itu, para pemilik Ford tidak perlu khawatir setelah FMI resmi bubar yakni di paruh kedua 2016.

Jejak Ford Motor Company sendiri di ASEAN meliputi kegiatan manufaktur dan distribusi kendaraan di lima negara di kawasan Asia Tenggara yang terdiri dari Thailand, Malaysia, Vietnam, Indonesia dan Filipina.

Pada tahun 2000, Ford ASEAN telah memproduksi 117.000 buah. Enam puluh lima persen jenis light trucks yang diproduksi di Thailand kemudian diekspor ke 120 pasar di seluruh dunia. Seluruh fasilitas yang dimiliki setiap pabrik Ford di kawasan ini telah memenuhi persyaratan sertifikasi ISO 9000 dan ISO 14001.

Tahun 2002, FMI menjadi sorotan masyarakat Indonesia, karena meluncurkan Ford Ranger dan membuka dealer 3S (Sales, Service dan Sparepart) pertama di Indonesia, tempatnya di Jakarta Selatan.

Tahun 2003, FMI meluncurkan New Ranger dan September 2003 Everest juga diluncurkan. Masuk 2005, tepatnya Juli, FMI meluncurkan Focus. Satu sahun setelahnya meluncurkan Escape Sporty dan Focus 2.0-liter.

Di tahun 2010, FMI melakukan ubahan pada Everest dan meluncurkan hatchback Fiesta (tepatnya 23 Juli 2010). Focus juga mengalami ubahan sedikit. Pada 2011, FMI kembali meluncurkan Ranger model terbaru.

Selang satu tahun, FMI mulai meluncurkan Sport Utility Vehicle (SUV) bawah EcoSport dan di 2013 FMI mulai menghadirkan mesin 3 silinder terbaik dunia dan Ecoboost 1.0-liter di 2014.

Tahun 2015, FMI juga banyak meluncurkan produk baru, seperti New Ranger, New Focus dan All New Everest. Penjualannya juga sepanjang 2015 terbilang cukup baik, yakni dengan perolehan angka 4.986 unit secara wholesales (dari pabrik ke dealer).

Direct Selling Buyku-buku Islami

Terobosan dalam cara menjual merupakan hal menarik. Demikian juga terobosan penjualan buku direct selling yang dilakukan oleh PT Gian Mandiri. Dari kantornya yang berpusat di Bandung, PT Gian Mandiri menjual secara direct selling ke sluruh Indonesia.

Hal tersebut diutarakan oleh Perry Tristianto dalam acara Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (30/12) yang malam itu mendatangkan nara sumber owner & CEO PT Gian Mandiri Direct Selling Profesional, Kartikowati Djoharijah, atau yang biasa disapa Ibu Ati.

PT Gian Mandiri didirikan pada tanggal 5 Juli 2009 di Bandung. Kini memiliki ribuan reseller yang tersebar di seluruh Indonesia berdasarkan sistem komisi dan bonus.

“Penjualan ini sebenarnya ditopang oleh sistem on line. Karena reseller menjualnya secara on line. Dan buku-buku yang kami jual kecil kemungkinan dijumpai di toko-toko ,” jelas Ibu Ati.

Ibu Ati sendiri mengaku dirinya menggeluti penjualan buku mulai dari penjualan off line. Buku-buku yang dijual pada umumnya yang bernafaskan agama Islam alias buku-buku religi. Dan yang menarik buku-buku itu tak hanya buku konvensional. Ada buku yang dengan hanya menggunakan pen, begitu menunjuk huruf yang dituju langsung mengelurkan bunyi dari rangkaian kalimat-kalimat.

Tehnologi itu tersebut disamping untuk menjadikan daya tarik kepada anak-anak yang belajar membaca, juga membantu bagi orang tua. Misalnya, orang tua yang sedang belajar membaca Al Quran, juga ada yang menggunakan tehnologi pen yang ditempelkan ke huruf, dan langsung bunyi sesuai dengan kalimat yang ditunjuk.

Menurut Perry, yang juga sangat penting dalam menggeluti bisnis direct selling ini adalah, bagaimana secara terus menerus memberikan panduan kepada reseller, yaitu bagaimana cara menjual yang tepat dan menarik.

Motto PT Gian Mandiri adalah Mencerdaskan Keluarga Kita, dengan pelayanan Senyum, Yakin, Inisiatif, Antusias, Ramah, yang biasa disingkat dengan SYIAR.

Ibu Ati sendiri memang memiliki banyak pengalaman di bidang pendidikan. Ia founder Komunitas Belajar Bisnis Mandiri (BBM) beranggotakan 4.000 perempuan pebisnis. Ia juga Trainer & Motivator PT Mizan Dian SemestaTrainer & Motivator PT Sapta SentosaTrainer & Motivator PT Gian Mandiri

Ia juga pendidik di Yayasan Salman Alfarisi Bandung
Supervisor di PT Mizan Dian Semesta se Indonesia tahun 2005. Ia area Manager wilayah Jawa Barat PT Sapta Sentosa se Indonesia tahun 2009.

Iteung, Pusat Oleh-Oleh Cindera Budaya Bandung

Oleh-oleh cinderamata merupakan hal yang menarik dan unik di Bandung. Karena selama ini di Bandung lebih terkenal dengan oleh-oleh camilan atau makanan. Sehingga kalau oleh-oleh cinderamata budaya Bandung terus dikembangkan, akan memperkaya khasanah Bandung sebagai kota wisata.

Demikian Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (16/12) yang malam itu mendatangkan bintang tamu atau nara sumber Syaiful Wathan, owner dari Frestour & Travel dan Iteung, yang sukses mengelola Pusat Oleh-Oleh Bandung, dengan berbagai cinderamatanya.

“Di Bandung ini banyak nama oleh-oleh makanan atau tujuan wisata yang membawa nama daerah, seperti Tahu Sussu Lembang, nah, ini bis diteruskan dan dikembangkan sebagai pemberian nama cinderamata yang membawa nama daerah,” jelas Perry. Tahu Susu Lembang sendiri milik Perry Tristianto, yang sangat sukses menjual Tahu Susu (Lembang).

Pusat Oleh Oleh Bandung atau Iteung sendiri, merupakan tempat souvenir unik mulai dari gantungan kunci, hiasan, pajangan dan lain sebagainya. Selain itu, Iteung juga menjual kaos Bandung khas Bandung dari ukuran anak anak sampai dewasa dengan berbagai gambar dan kata-kata khas Bandung dan menarik.

Iteung juga menjual berbagai macam makanan atau camilan khas Bandung. Mulai dari batagor asin, pedas, seblak, sale pisang , tempe asin dan pedas, chocodot dan lain lain. Yang etnik – etnik juga dijual, seperti sendal, sendal anyam, kelom geulis sandal, tas anyaman khas iteung Bandung.

Bahkan menjual alat alat pijat atau kesehatan atau refleksi juga yg terbuat dari bahan kayu pilihan dan khusus. Untuk memudahkan dapat informasi dapat dilihat di website –nya, di Iteung.com. atau memfollow akun Twitter @iteungbandung dan facebook Iteung Iteung. Nama Iteung sendiri sebenarnya singkatan dari ’Idola Tempat Urang Bandung’. “Dalam cerita Kabayan kan juga ada tokoh Iteung yang sangat cantik dan terkenal,” ujar Syaiful Wathan.

Menurut sang pemlik, Pusat Oleh-Oleh Bandung ini dididrikan tahun 2013. “Ini merupakan anak perusahaan dari Frestour & Travel, yang begerak di bidang travel, yang saya dirikan tahun 2007,” jelas Syaiful Wathan.

Lanjutnya, karena semakin kesini semakin membanjir turis dari mancanegara yang langsung dating mengunjungi Bandung, maka ia berpikir, kenapa mereka tidak dibuatkan saja oleh-oleh cinderamata.

Iteung mempunyai cabang diantaranya Carrefour Transmart, Yogya Kepatihan lantai 5, Cihampelas Batara Hotel, Natural Lembang, Jalan Anggrek nomor 55 daerah Riau, yang merupakan kantor Pusatnya.