Konsep BANDUNG TEKNOPOLIS harus jelas

Dalam mempersiapkan Bandung Teknopolis di Gedebage, harus jelas dulu konsepnya, dan siapa yang akan masuk dan mengisinya? Apakah investor, pengusaha, UKM? Kalau mau menciptakan Bandung Teknopolis yang benar , jangan sampai pada akhirnya pembangunan seperti yang sudah-sudah ada. Harus mencerminkan kota Bandung,

Demikian komentar Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (27/4) yang malam itu menghadirkan nara sumber dua mahasiswa Fakultas Universitas Parahyangan (UNPAR), Nizar Fadlurohman  (Direktur Economi Experience 2016), dan wakilnya, Vicentius Andrew Nugroho.

Malam itu memang sedang mengupas konsep Bandung Teknopolis, serta dampak pembangunan Bandung Teknopolis terhadap perekonomian berbasis teknologi dan sebagai pusat perekonomian baru.

“Kalau tekanannya  pada ekonomi, harus jelas yang masuk siapa? Apakah investor, pengusaha atau UKM? Harus jelas, agar Bandung Teknopolis-nya nampak.  Sekarang coba ke bandara  Husein Sastranegara,  Bandung. Disana mana ada ciri-ciri kuliner Bandung? Tidak ada. Karena apa? Karena UKM  tidak bisa masuk, biaya sewanya berat buat mereka.  Apa mau seperti itu?  Jadi kalau yang diajak pengusaha, adalah pengusaha yang mengerti  tentang konsep Bandung Teknopolis ini,” jelas Perry.

Perry juga menegaskan, untuk membangun Gedebage perlu dana yang sangat besar. Untuk penghijauannya saja sudah pasti makan biaya yang tinggi. Belum pembangunan – pembangunan lainnya.  “Ini menyangkut dana yang tidak kecil,” tegas Perry.

Gedebage sendiri selama ini image-nya adalah kawasan banjir. Namun Nizar dan Andrew menjelaskan, dengan Bandung Teknopolis Gedebage dibranding menjadi creative city yang digabungkan dengan pesona culture Bandung.

Perry Tristianto yang selama ini banyak membina banyak UKM dan membangun tujuan wisata dengan menonjolkan ciri atau culture Bandung berharap UKM bisa disertakan. Bukan hanya membangun berciri Bandung, tapi juga mengangkat dan memarketingkan UKM-UKM yang berasal dari Bandung dan sekitarnya.

Ridwan Kamil sendiri pernah mengatakan berdasarkan penelitian sekitar 10 tahun yang lalu, kesempatan untuk mengembangkan Kota Bandung memang terletak pada daerah Bandung Timur yang termasuk di dalamnya adalah wilayah Gedebage.  Dan diwajibkan agar ada komponen ekonomi di dalamnya dan bisa menyerap tenaga kerja layaknya sebuah kota.

Bandung Teknopolis itu sendiri sebelumnya akan diseminarkan pada tanggal 29 dan 30 April 2016. Pembicaranya adalah kalangan yang relevan dengan konsep ini, disamping Ridwan Kamil sendiri sebagai Walikota Bandung, juga ada Direktur Walhi Dadan Ramdan, pengamat tata kota, Hesti D Nawangsidi dan Ishak Somantri, dosen EP Unpar.

Seminar ini free, dan diperuntukkan kepada mahasiswa, dan memperoleh sertifikat, anck, lunch serta seminat KIT. Hari pertama, tanggal 29 April 2016 berlangsung di  Ruang Audio Visual Fisip Unpar, jalan Ciumbuleuit No. 94 Bandung (mulai pukul 14.00 sampai 20.00 Wib). Hari kedua, tanggal 30 April 2016 digelar di Hotel Sheo, jalan Ciumbuleuit no. 152 Bandung (dimulai pukul 08.00 sampai 16.00 Wib). Peminat bisa menghubungi Anastasia Adelline, Hp, 081284500880.

Memasuki pasar, brand kecil bisa semakin tenggelam

Jangan bangga memasuki pasar. Banyak UKM bangga produknya memasuki pasar, misalnya ke supermarket, karena barangnya mampu kesana. Ini ironis, karena memasuki pasar tak ubahnya sama memasuki medan perang yang banyak musuhnya, dan membuat produknya kurang laku.

Ironisnya lagi, banyak UKM yang seolah berlomba-lomba memasuki pasar di supermarket. Padahal dengan memasuki pasar, brand akan tenggelam karena kalah dengan brand-brand yang sudah punya nama dan memiliki modal besar.

Hal ini diutarakan oleh Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (2 Maret 2016), yang malam itu mendatangkan nara sumber Nining Yuningsih, atau yang lebih dikenal Ceu Edoh, yang dikenal sebagai salah satu pemeran sinetron ‘Preman Pensiun’ dan artis Bandung. Ia juga menggeluti usaha camilan keripik dan pakaian bayi.

Keripik singkong kering buatannya diberi label ‘Somering Ceu Edoh’, yang merupakan kependekan dari ‘sampeu garing’ (bahasa Sunda –yang artinya singkong kering).

“Tapi namanya kemudian menjadi ‘Somering Ceu Edoh’ biar terdengar keren, seperti bahasa Inggris. Padahal kependekan dari bahasa Sunda,” jelas Ceu Edoh.

Tak hanya keripik singkong, Ceu Edoh sudah lama menjalani wirausaha. Bersama keluarganya, ia menapaki usaha kantin di Pasar Baru Bandung. Letaknya di basement pasar terbesar di Kota Bandung.

Lebih lanjut kepada Perry Tristianto mengatakan, produk seperti keripik singkong jika dijual di supermarket akan banyak saingannya. “Bersaing dengan produk pabrikan akan berat. Mereka punya modal besar, ada promo segala. Menurut saya, carilah tempat yang tidak ada saingannya, misalnya memasuki dijual di SPBU yang tidak menjual oleh-oleh, itu pasar yang bagus, ” lanjut Perry.

Perry juga menambahkan, nama Ceu Edoh sendiri yang sudah dikenal, apalagi di Bandung bisa membantu mengangkat produk buatannya tersebut. Hal ini ditimpali oleh Ceu Edoh, “Saya memang sering jualan di saat syuting istirahat. Lumayan….he…he….” tutur Ceu Edoh.

Keripiknya sendiri menurut Perry enak, dan rasanya berbeda dengan keripik pada umumnya, dan ini merupakan nilai plus. ‘Somering Ceu Edoh’ sendiri tersedia dalam beberapa varian rasa, ada rasa strawberry, keju, original dan yang lain.Sementara pakaian bayi yang digelutinya berada di daerah terusan Jalan Buah Batu tepatnya di dekat Pasar Kordon.

Ceu Edoh sendiri selama ini dikenal berpenampilan lugu dan kental dengan logat Sunda khas. Profesinya sehari-hari adalah pekerja seni dan seorang ibu rumah tangga.

Ia dulu dikenal lewat program ‘Longser Plus’ yang disiarkan TVRI Jabar-Banten. Ia juga bermain bersama Kang Jaenal, Mr. Jun, dalang wayang golek Riswa.

Ia juga bermain di seni tradisi Betawi. Ia pernah bergabung dan kerap manggung bersama pertunjukan lenong pimpinan Mat Licin serta teater Bang Opie Kumis. Itu yang membuatnya merantau ke Jakarta tahun 2006.

Kini setelah sinetron ‘Preman Pensiun’ banyak mengambil syuting di Bandung, dan ia menjadi salah satu pemainnya, Ceu Edoh ‘pulang kampung’ dan makin leluasa konsentrasi membangun kembali usahanya yang dibangun di kota Bandung.

Bakery Street Tempat Makan dan Belajar

Faktor judul, atau brand dalam usaha sangat penting. Hal itu diucapkan oleh Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (24/2), yang malam itu mendatangkan nara sumber Mesayu Pradita, pemilik Baker Street yang terletak di Jalan Cimandiri nomor 18, Bandung.

Baker Street adalah sebuah cafe khusus Bakery and Brunch di Bandung, lokasinya strategis di sekitar Gedung Sate yang sudah sangat kondang, bagi orang Bandung maupun luar Bandung. Nama brand-nya memang unik, Baker Street, dan juga ada Bakery Academy-nya, baking course khusus membuat kue, cakes dan pastry, bagi anak-anak dan orang dewasa

“Judul, atau nama, atau brand memang harus unik dan menarik dalam membangun sebuah usaha. Sehingga membuat orang bertanya-tanya dan tertarik. Nama Baker Street, apalagi ada Bakery Academy saya rasa sangat menarik,” jelas Perry Tristianto.

Namun Baker Street tidak hanya menarik dari sisi nama atau brand saja, tempatnya saja dilihat dari luar sangat menarik. Begitu pengunjung tiba disambut pintu kaca putar yang keren dan elegan, dan ini langsung menjadi magnet bagi anak-anak, sebuah ‘pancingan’ yang smart.

Bangunan dengan dua lantai ini begitu dimasuki semakin menarik. Didalamnya terdapat banyak kursi kayu dan sofa-sofa cantik yang memikat mata. Bantal-bantal imut seperti menggoda pengunjung untuk mendekatinya. Pendek kata, sangat fotogenic. Biasanya pengunjung langsung selfie disana dan saat itu jutga menyebarkan di dunia maya, Disana juga tersedia Wifi.

Sesuai namanya, Baker Street menyediakan berbagai macam roti, cake dan pastry. Tamu langsung bisa memilih dari etalase cantik dan bersih. Bagi yang ingin makan di tempat, pastry yang dipilih pilihan akan dihangatkan lagi.

Menurut Mesayu, pada mulanya tempatnya itu merupakan tempat breakfast and lunch. “Jadi kami buka pagi-pagi sekali. Namun kemudian Baker Street berkembang sesuai dengan tuntutan dari target pasar.

Sekarang Baker Street juga menyediakan menu all day Bbunch yang bisa di order. Seperti Big Breakfast, Burger, Hotdog, Salad, Fish & Chips, Steak, Sausages, nasi rames, nasi goreng, juga aneka Pasta dan Sandwich. “Di tempat kami sebenarnya konsep awal menunya adalah makanan sehat. Tapi kemudian kami buat menjadi makanan sehat dan enak. Salah satunya Roti Arang, sebagai makanan enak asal Korea. Bukan saja sehat tapi enak,” tutur Mesayu.

Sementara minumannya, selain minuman wajib Coffee, juga menyediakan aneka pilihan menarik lain, misalnya, Milk, Chocolate, Tea, Smoothies, MilkShake, Mojito, Juice dan soft drink.

Tempat ini juga menjual aneka peralatan dapur yang imut-imut, khususnya peralatan untuk bikin kue, misalnya cetakan kue, mug, dan barang-barang itu sulit ditemui di tempat lain, sekalipun perlengkapan itu terbuat dari dari bahan kayu.

Yang menarik, Baker Street juga punya Bakery Academy. Menariknya, setiap Minggu thema yang diusung berbeda-beda sesuai dengan jadwal yang tersedia. Ada kursus untuk orang dewasa, ada pula kursus untuk anak-anak usia 4-10 tahun. Dengan pembagian hari yang berbeda-beda.

“Di saat belajar bikin kue, saya sering menyaksikan bagaimana anak-anak merasa bangga bisa membuat kue untuk dirinya dan untuk orang tuanya,” tutur Mesyu. Baker Street jam buka: 07.00 – 22.00, dan telpon : 022 – 4232220

UMKM Harus Lebih Kreatif

Perry Tristianto menegaskan kembali perlunya inovasi atau kreatifitas yang dilakukan oleh pelaku UMKM. Tanpa inovasi dan kreatifitas, hasil atau target yang akan dicapai tidak akan maksimal. Hal ini ditegaskan Perry Tristianto dalam ‘Talk Show Gebyar Marketing PRFM’, Rabu (17/2) yang malam itu mendatangkan nara sumber Kepala Dinas Koperasi dan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) Jawa Barat, Dr. Dudi Sudrajat, dan mengambil thema ‘Program Wirausaha Baru’.

Lebih lanjut Perry menegaskan, inovasi itu meliputi 4 P ( Product, Price, Place dan Promotion). “Berbicara soal 4 P, menurut saya ini memang bisa jadi standar, tapi jangan terpaku harus memiliki 4 P kalau membuat usaha. Ada 2 P saja sudah baik, nanti P lainnya menyusul,” tutur Perry. Perry juga menakankan, yang juga sangat penting bagi pelaku UMKM adalah mengikuti perkembangan dan mengamatinya.

Dari sisi produk Perry memberikan contoh produk dari outlet yang dimilikinya sendiri, yaitu Tahu Susu Lembang. Perry menceritakan, bagaimana menciptakan produk inovatif tahu dengan mengombinasi dengan susu, sehingga rasanya berbeda dan lebih enak, lebih halus dicerna dan banyak disukai konsumen.

“Lalu saya memberikan nama Tahu Susu Lembang. Saya tidak memberi nama Tahu Susu Perry. Karena nama Lembang lebih bisa mewakili, dan lebih terkenal. Itu salah satu cara trick memberi nama produk,” jelas Perry.

Lebih lanjut Perry menjelaskan soal Price. Menurutnya harga hendaknya yang bisa terjangkau, dan dilihat apa dan bagaimana target marketnya. “Jangan mengira menjual produk harga murah pasti laku. Juga jangan mengira menjual harga mahal tidak laku,” tegas Perry.

Soal Place, Perry sering menegaskan, jangan memasuki pasar, tapi ciptakan pasar. “Misalnya punya produk kue, jangan masuk ke pasar kue. Disana banyak saingan, sehingga harga juga tak bisa dijual mahal. Maka ciptakan pasar sendiri, contoh ekstrimnya, misalnya jual kue di apotik. Kenapa tidak? Orang ke apotik juga bisa butuh kue, misalnya untuk minum obat. Dan karena disana tak ada saingan harga bisa dibuat mahal. Apalagi kalau kue itu enak, maka itu menjadi promo tersendiiri,” tegas Perry.

Soal Promosi, Perry memberi contoh warung Ce’Mar yang berjualan gule sapi tengah malam di Bandung dan sukses, sehingga bisa hidup mewah. “Ce’Mar, sang pemilik kalau menyapa pelanggan manis sekali, itu adalah bagian promosi. Contoh lain, kripik Maicih, sebenarnya Maicih sukses karena saat itu twitter baru ada. Mereka promo gencar via twitter, dan sukses. Jadi promo bisa dari segi apa saja,” tegas Perry.

Perry juga menegaskan, meski UMKM banyak dibina pemerintah, tapi hendaknya dalam melakukan promosi atau mengenalkan produknya jangan menggunakan bahasa kaku. “Jangan lah mempromosikan cara demikian, misalnya, ini produk dari Garut. Itu bahasa kaku, buatlah yang lebih inovatif, sehingga membuat orang tertarik,” jelas Perry.

Mobil Ford di Indonesia hanya cocok untuk segmen tertentu

Produk mobil Ford kurang cocok dengan kondisi Indonesia, hanya cocok dengan segemen tertentu, apalagi dibuatnya memang tidak di Indonesia. Dari sisi harga juga dinilai lebih mahal dibanding dengan mobil yang hampir sama.

Demikian Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (27/1/2016), yang malam itu menghadirkan thema ‘Kerasnya Persaingan Pasar Otomotif di Indonesia’ dan nara sumber Wisnuaji dari Asosiasi Industri Automotif Nasional (Asianusa).

Thema itu memang dalam rangka penghentian operasi FMI (Ford Motor Indonesia) di Indonesia yang dimulai pada paruh kedua tahun 2016 ini. Pengumuman itu disiarkan hari Senin (25/1/2016),

Menanggapi apa yang dikatakan oleh Perry itu, Wisnuaji mengatakan, berita ini sebenarnya sebenarnya haboh karena nama besar Ford. “Kalau dilihat dari jumlah karyawannya sebenarnya tak terlalu banyak,” jelas Wisnuaji.

Berkenaan penghentian operasi FMI itu, Perry menegaskan, yang hilang dari Indonesia FMI-nya. “Tapi Ford-nya kan masih ada. Di Indonesia mobil apa sih yang tak ada? Hampir semua merek ada di Indonesia,” jelas Perry.

FMI sendiri berharap masyarakat dapat terus mengunjungi dealer karena berkomitmen untuk menyediakan kesinambungan dukungan pelayanan servis dan garansi setelah kepergian FMI. FMI juga menegaskan pihaknya menjamin ketersediaan suku cadang da pelayanan servis. Karena itu, para pemilik Ford tidak perlu khawatir setelah FMI resmi bubar yakni di paruh kedua 2016.

Jejak Ford Motor Company sendiri di ASEAN meliputi kegiatan manufaktur dan distribusi kendaraan di lima negara di kawasan Asia Tenggara yang terdiri dari Thailand, Malaysia, Vietnam, Indonesia dan Filipina.

Pada tahun 2000, Ford ASEAN telah memproduksi 117.000 buah. Enam puluh lima persen jenis light trucks yang diproduksi di Thailand kemudian diekspor ke 120 pasar di seluruh dunia. Seluruh fasilitas yang dimiliki setiap pabrik Ford di kawasan ini telah memenuhi persyaratan sertifikasi ISO 9000 dan ISO 14001.

Tahun 2002, FMI menjadi sorotan masyarakat Indonesia, karena meluncurkan Ford Ranger dan membuka dealer 3S (Sales, Service dan Sparepart) pertama di Indonesia, tempatnya di Jakarta Selatan.

Tahun 2003, FMI meluncurkan New Ranger dan September 2003 Everest juga diluncurkan. Masuk 2005, tepatnya Juli, FMI meluncurkan Focus. Satu sahun setelahnya meluncurkan Escape Sporty dan Focus 2.0-liter.

Di tahun 2010, FMI melakukan ubahan pada Everest dan meluncurkan hatchback Fiesta (tepatnya 23 Juli 2010). Focus juga mengalami ubahan sedikit. Pada 2011, FMI kembali meluncurkan Ranger model terbaru.

Selang satu tahun, FMI mulai meluncurkan Sport Utility Vehicle (SUV) bawah EcoSport dan di 2013 FMI mulai menghadirkan mesin 3 silinder terbaik dunia dan Ecoboost 1.0-liter di 2014.

Tahun 2015, FMI juga banyak meluncurkan produk baru, seperti New Ranger, New Focus dan All New Everest. Penjualannya juga sepanjang 2015 terbilang cukup baik, yakni dengan perolehan angka 4.986 unit secara wholesales (dari pabrik ke dealer).

Direct Selling Buyku-buku Islami

Terobosan dalam cara menjual merupakan hal menarik. Demikian juga terobosan penjualan buku direct selling yang dilakukan oleh PT Gian Mandiri. Dari kantornya yang berpusat di Bandung, PT Gian Mandiri menjual secara direct selling ke sluruh Indonesia.

Hal tersebut diutarakan oleh Perry Tristianto dalam acara Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (30/12) yang malam itu mendatangkan nara sumber owner & CEO PT Gian Mandiri Direct Selling Profesional, Kartikowati Djoharijah, atau yang biasa disapa Ibu Ati.

PT Gian Mandiri didirikan pada tanggal 5 Juli 2009 di Bandung. Kini memiliki ribuan reseller yang tersebar di seluruh Indonesia berdasarkan sistem komisi dan bonus.

“Penjualan ini sebenarnya ditopang oleh sistem on line. Karena reseller menjualnya secara on line. Dan buku-buku yang kami jual kecil kemungkinan dijumpai di toko-toko ,” jelas Ibu Ati.

Ibu Ati sendiri mengaku dirinya menggeluti penjualan buku mulai dari penjualan off line. Buku-buku yang dijual pada umumnya yang bernafaskan agama Islam alias buku-buku religi. Dan yang menarik buku-buku itu tak hanya buku konvensional. Ada buku yang dengan hanya menggunakan pen, begitu menunjuk huruf yang dituju langsung mengelurkan bunyi dari rangkaian kalimat-kalimat.

Tehnologi itu tersebut disamping untuk menjadikan daya tarik kepada anak-anak yang belajar membaca, juga membantu bagi orang tua. Misalnya, orang tua yang sedang belajar membaca Al Quran, juga ada yang menggunakan tehnologi pen yang ditempelkan ke huruf, dan langsung bunyi sesuai dengan kalimat yang ditunjuk.

Menurut Perry, yang juga sangat penting dalam menggeluti bisnis direct selling ini adalah, bagaimana secara terus menerus memberikan panduan kepada reseller, yaitu bagaimana cara menjual yang tepat dan menarik.

Motto PT Gian Mandiri adalah Mencerdaskan Keluarga Kita, dengan pelayanan Senyum, Yakin, Inisiatif, Antusias, Ramah, yang biasa disingkat dengan SYIAR.

Ibu Ati sendiri memang memiliki banyak pengalaman di bidang pendidikan. Ia founder Komunitas Belajar Bisnis Mandiri (BBM) beranggotakan 4.000 perempuan pebisnis. Ia juga Trainer & Motivator PT Mizan Dian SemestaTrainer & Motivator PT Sapta SentosaTrainer & Motivator PT Gian Mandiri

Ia juga pendidik di Yayasan Salman Alfarisi Bandung
Supervisor di PT Mizan Dian Semesta se Indonesia tahun 2005. Ia area Manager wilayah Jawa Barat PT Sapta Sentosa se Indonesia tahun 2009.

Iteung, Pusat Oleh-Oleh Cindera Budaya Bandung

Oleh-oleh cinderamata merupakan hal yang menarik dan unik di Bandung. Karena selama ini di Bandung lebih terkenal dengan oleh-oleh camilan atau makanan. Sehingga kalau oleh-oleh cinderamata budaya Bandung terus dikembangkan, akan memperkaya khasanah Bandung sebagai kota wisata.

Demikian Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (16/12) yang malam itu mendatangkan bintang tamu atau nara sumber Syaiful Wathan, owner dari Frestour & Travel dan Iteung, yang sukses mengelola Pusat Oleh-Oleh Bandung, dengan berbagai cinderamatanya.

“Di Bandung ini banyak nama oleh-oleh makanan atau tujuan wisata yang membawa nama daerah, seperti Tahu Sussu Lembang, nah, ini bis diteruskan dan dikembangkan sebagai pemberian nama cinderamata yang membawa nama daerah,” jelas Perry. Tahu Susu Lembang sendiri milik Perry Tristianto, yang sangat sukses menjual Tahu Susu (Lembang).

Pusat Oleh Oleh Bandung atau Iteung sendiri, merupakan tempat souvenir unik mulai dari gantungan kunci, hiasan, pajangan dan lain sebagainya. Selain itu, Iteung juga menjual kaos Bandung khas Bandung dari ukuran anak anak sampai dewasa dengan berbagai gambar dan kata-kata khas Bandung dan menarik.

Iteung juga menjual berbagai macam makanan atau camilan khas Bandung. Mulai dari batagor asin, pedas, seblak, sale pisang , tempe asin dan pedas, chocodot dan lain lain. Yang etnik – etnik juga dijual, seperti sendal, sendal anyam, kelom geulis sandal, tas anyaman khas iteung Bandung.

Bahkan menjual alat alat pijat atau kesehatan atau refleksi juga yg terbuat dari bahan kayu pilihan dan khusus. Untuk memudahkan dapat informasi dapat dilihat di website –nya, di Iteung.com. atau memfollow akun Twitter @iteungbandung dan facebook Iteung Iteung. Nama Iteung sendiri sebenarnya singkatan dari ’Idola Tempat Urang Bandung’. “Dalam cerita Kabayan kan juga ada tokoh Iteung yang sangat cantik dan terkenal,” ujar Syaiful Wathan.

Menurut sang pemlik, Pusat Oleh-Oleh Bandung ini dididrikan tahun 2013. “Ini merupakan anak perusahaan dari Frestour & Travel, yang begerak di bidang travel, yang saya dirikan tahun 2007,” jelas Syaiful Wathan.

Lanjutnya, karena semakin kesini semakin membanjir turis dari mancanegara yang langsung dating mengunjungi Bandung, maka ia berpikir, kenapa mereka tidak dibuatkan saja oleh-oleh cinderamata.

Iteung mempunyai cabang diantaranya Carrefour Transmart, Yogya Kepatihan lantai 5, Cihampelas Batara Hotel, Natural Lembang, Jalan Anggrek nomor 55 daerah Riau, yang merupakan kantor Pusatnya.

Mengangkat Derajat Rajut Menjadi Berkelas

Dea Ariyanti adalah sosok muda, kreatif dan inovatif yang bisa menjadi inspirasi dalam menaikkan bahan rajut murah menjadi berkelas alias mahal.

Hal itu diutarakan oleh Perry Tristianto dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (10/9) yang malam itu mendatangkan nara sumber Dea Ariyanti, owner Supernova House yang bergerak di bisnis busana moslem.

Dea yang masih berusia belia, masih berkepala dua, berhasil mengangkat bisnis orangtuanya yang bertahun-tahun menggeluti bisnis rajut, namun tak berhasil. Namun ditangan anaknya, Dea, ternyata berhasil. Dea hanya lulusan SMK 13 Bandung jurusan Analis Kimia, dan tak ada hubungannya dengan bisnis rajutnya yang kini sukses ditangannya.

“Bapak saya sempat menasehati saya, jangan menggeluti bisnis rajut, karena bapak saya bertahun-tahun tak berhasil. Nanti, kamu bisa makan nasi dengan garam kalau masih menggeluti bisnis rajut,” kata Dea menirukan nasehat bapaknya.

Namun Dea sudah terlanjur dengan bisnis rajut, bahkan ia aktif dalam organisasi bisnis ini. Bahkan ia rajin mengikuti seminar entrepreneur untuk mempersiapkan diri menggeluti dunia usaha.

“Kebetulan kemudian ada sebuah rumah busana yang meminta order rajut kepada saya. Dari sana usaha saya mulai,” kenang Dea.

Menurut Perry, kesuksesan Dea meneruskan bisnis bapaknya, karena ia mengembangkan usaha orangtuanya, bukan memasukinya. “Ia tidak sekadar memasuki, tapi mengembangkannya, itulah kunci suksesnya, ia mengangkat sesuatu yang standar menjadi produk berkelas yang mampu bersaing,” jelas Perry.

“Saya memang berpikir rajut hanyalah sebuah teknik saja. Di luar itu saya merasa ada sesuatu yang bisa digali dan mampu menghasilkan produk unik dan berbeda,” ujar Dea.

Supernova House memiliki 10 jenis produk unggulan yang dijualnya antara lain cardigan, batflo blouse, vemos blast, dynmous lovely, inovest, vest nicemoty, vemos flower, vemos lasto, lonice cardigan dan inonly inner.

Keunikan pakaian muslim rajut Supernova House dengan mengusung tema eccentric knitting, lebih menonjolkan pakaian multifungsi seperti pada jenis vemos blast yang bisa dibuat menjadi kerudung, rompi, cape dan cardigan.

Dea menambahkan jenis lain dari Supernova House seperti pada jenis batflo blouse misalnya, juga bisa dikenakan pelanggan sebagai blus biasa, bisa juga dikenakan menjadi pakaian dengan motif sayap kelelawar.

Menanggapi model rajut rancangan Dea, Perry mengatakan, sekarang ini rajut tak hanya dibeli kalangan yang hidup di kota berhawa dingin seperti Bandung. Tapi juga dibeli warga kota yang dikenal panas seperti Jakarta, dan dikenakan di ruang kerjanya yang dingin oleh AC, dan itu menjadi gaya hidup berpakaian di dalam kantor,” jelas Perry.

Bandung Dental Center, Klinik Dengan Konsep Hotel

Klinik kesehatan gigi dalam perkembangann belakangan ini berubah menjadi pasar yang bagus. Kini orang yang datang ke klinik kesehatan gigi tidak hanya orang yang sakit gigi, tapi tak kalah banyak orang yang datang ingin memperindah giginya, sebagai tuntutan gaya hidup fashion gigi.

Demikian Perry Tristianto dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu, (3/9) yang mendatangkan nara sumber owner Bandung Dental Center, Billy Sam.

“Yang, dong, sekarang karena tuntutan gaya hidup yang sudah merambah keindahan gigi, maka orang yang datang ke klinik kesehatan gigi tak lagi hanya orang yang sakit gigi. Karena itu, pasar ini semakin bagus. Di sisi lain, klinik dokter gigi, khususnya di kota-kota besar, membuat konsep klinik giginya tak lagi seperti klinik atau rumah sakit, tapi berubah menjadi tempat yang menyenangkan dan tidak menakutkan bagi pasien,” jelas Perry.

Bandung Dental Center (BDC) sendiri yang baru setahun didirikan konsepnya memang dibuat tidak seperti klinik. Bahkan salah seorang bloger yang mengaku sebelumnya sangat takut ke dokter gigi, dalam blog-nya mengaku ‘jatuh cinta’ setelah menjadi pasien BDC.

Ia menuliskan begini, ruang tunggu pasien di lantai 1 lebih mirip lobby hotel ketimbang klinik ksehatan. Selain itu juga, ruangannya sama sekali tidak ada yang bau-bau rumah sakit.

Kamar mandinya bersih banget, seperti kamat mandi hotel. Tidak  ada peralatan kedokteran apapun di ruang tunggu, semua ruangannya dikasih pewangi ruangan, ada TV layar datar, majalah-majalah, dan ada coffee maker (pasien boleh ambil kopi disini. Free!).

Di lantai 2 ini juga ada ruang tunggu lagi, dan lebih seperti ruang bermain anak-anak. Ruang pemeriksaannya sendiri ada 3 ruang. Tiap ruangannya disekat-sekat pakai kaca transparan, setiap tembok ruangannya di cat berbeda warna.

Dokter-dokternya muda. “Saya ditangani dokter yang memakai kerudung, cantik, sangat sabar melayani pasien rewel dan yang takut banget ke dokter gigi seperti saya ini”.

Menurut Billy Sam memang kliniknya sengaja dibuat tidak seperti rumah sakit. “Bahkan, di klinik pernah ada pengalaman, seorang anak kecil yang habis berobat gigi, tidak mau pulang, nampaknya betah main di klinik, ya, kami senang,” ujar Billy Sam.

Menurut Billy Sam memang kliniknya sengaja dibuat tidak seperti rumah sakit. “Bahkan, di klinik pernah ada pengalaman, seorang anak kecil yang habis berobat gigi, tidak mau pulang, nampaknya betah main di klinik, ya, kami senang,” ujar Billy Sam.

Akhirnya, gaya hidup membuat klinik gigi konsepnya harus berubah menjadi tempat yang menyenangkan. Terutama di kota-kota besar.