Untuk menjaring wisman muslim, Indonesia harus lebih meningkatkan sertifikasi halal

 

 

 

 

Produk kuliner halal merupakan potensi menarik wisata Indonesia untuk kalangan wisman mancanegara, terutama dari negara-negara Arab. Dengan meningkatkan kuliner halal, semakin menjadi daya tarik bagi wisman Timur tengah.  Hal ini yang dinilai Perry  Tristianto  kurang ditangani secara maksimal.

Hal itu diutarakan oleh Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (3/7), yang malam itu membahas perjalanan host Gebyar Marketing PRFM,  Popy Rufaidah saat mengunjungi  berbagai  negara Eropa dari sudut kacamata wisata.

Menurut Popy Rufaidah, di negara-negara Eropa tak sedikit yang restoran yang menyajikan dengan sertifikat halal. Hal itu yang kemudian disebut Perry Tristianto, bahwa Indonesia belum maksimal dalam menjaring wisman muslim, dengan lebih banyak menyediakan makanan bersertifikasi  halal.

“Kalau orang-orang Timur Tengah mungkin kurang tertarik datang ke Singapura, karena disana sedikit sekali resto bersertifikasi halal. Kesempatan ini yang harus diambil Indonesia. Mereka wisman banyak uang,” tegas Perry.

Popy Rufaidah mengiyakan apa yang dikatakan Perry tersebut. “Memang kita sudah memiliki hotel untuk pasangan halal, lalu ada kolam renang  hijab yang dipisah antara pria dan wanita, namun masih banyak potensi yang bisa digarap untuk menarik wisman muslim,” tegas Popy.

Lebih jauh Perry juga mengungkapkan keheranannya atas fakta dunia wisata di Indonesia. Menurut Perry, kenapa tujuan wisata yang dimiliki pemerintah justru masuk tiket masuknya, sementara milik swasta jauh lebih murah. “Ini kan ironis, seharusnya tujuan wisata milik pemerintah lebih murah ketimbang milik swasta. Ini yang harus dikaji lagi,” jelas Perry.

Kembali berbicara soal sertfikasi halal, Taiwan dan Korea Selatan adalah sebagian negara non-muslim yang belakangan dengan gencar  meningkatkan kenyamanan wisatawan muslim dari negara Timur Tengah dan Asia Tenggara dengan lebih banyak menyediakan kuliner bersertifikasi halal..

Kementerian Kebudayaan, Olah Raga, dan Pariwisata Korea Selatan belum lama ini meluncurkan serangkaian upaya untuk mendorong sertifikasi industri makanan halal dan meningkatkan infrastruktur boga wisatawan muslim. Hal itu diakomodasi dalam pertemuan promosi perdagangan dan investasi yang dipimpin sendiri oleh Presiden Park Geun Hye.

“Kami harus meningkatkan infrastruktur pariwisata untuk menarik lebih banyak wisatawan dari Timur Tengah dan negara-negara Asia Tenggara setelah dicabutnya sanksi embargo untuk Iran,” kata Kementerian Kebudayaan, Olah Raga, dan Pariwisata.

Menurut data kementerian, jumlah turis Muslim meningkat dari 540 ribu orang pada 2012 menjadi 750 ribu pada 2014. Jumlahnya pun bisa. Diprediksi jumlahnya meningkat jadi 800 ribu orang pada 2016.

“Ketersediaan makanan halal menjadi faktor penting bagi turis muslim. Untuk itu, pemerintah Korea Selatan akan bekerja sama dengan komunitas pengusaha halal untuk meningkatkan jumlah makanan dan restoran halal di Korea Selatan,” kata Presiden Park Geun Hye.

JJ Sundanese, panti pijat bernuansa khas Sunda di Bandung

Bisnis pijat atau refleksi merupakan bisnis yang menarik, namun sulit dan rumit, dengan keuntungan yang tak banyak, di Bandung sendiri bisnis ini sangat menjamur.  Namun usaha  pijat yang baru dibuka, yang berciri khas Sunda, yang diberi nama JJ Sundanese Family Massage, merupakan usaha pijat yang memiliki konsep jelas dan bagus. Apalagi jika dilihat target marketnya adalah turis yang datang ke Bandung.

Demikian Perry Tristianto dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (20/7), yang malam  itu mendatangkan nara sumber  Hadi Permana, owner dari  JJ Sundanese, dan Direktur Utamanya,  Jeny Rosnawati.

“Bisnis pijat sangat menarik, karena itu di Bandung sangat menjamur.  Meski pajaknya tinggi, sekitar 30 %, namun saya melihat JJ Sundanese memiliki konsep yang jelas dan berbeda. Semoga konsep ini dijalankan dengan konsisten, dan sukses,” tutur Perry.

JJ Sundanese sendiri memiliki konsep pijat family, dan menghidupkan roh  atau kultur Sunda. “Saya sebagai pelaku pariwisata, melihat wisatawan yang datang ke Bandung belum ada penawaran layanan pijat tradisional khas Sunda.” Tutur Hasi.

Lanjut Hadi, “Pendek kata, begitu masuk ke JJ Sundanese, susanananya khas dan kental Sunda. Baik dekorasinya, musik pengiringnya. Tradisi pijat di tanah Sunda ini dulunya memang ada, terutama di kalangan raja-raja. Sesuatu yang luhur dan sakral. Roh itu yang saya mau kembalikan lagi.”

Meski memuji, Perry Tristianto mengkritik keberadaan JJ Sundanese. Menurutnya, place –nya di jalan Sudirman no. 188 Bandung kurang tepat. Disamping di deretan jalan Sudirman sudah banyak pesaing rumah pijat yang lain, juga  untuk menghidupkan suasana Sunda zaman baheula kurang pas. “Cobalah cari  tempat lain yang mendukung suasana Sunda,” tegas Perry.

Target market turis yang datang ke Bandung, khususnya turis Malaysia, juga dipuji Perry, apalagi  juga menyertakan  keterlibatan guider, sehingga pasar ini bisa digarap. “Saya banyak menemui tempat-tempat belanja, baik kuliner atau produk tradisional di Bandung, yang sebenarnya tak terkenal di Bandung tapi sering didatangi turis Malaysia, dengan omzet yang besar.  Karena melibatkan guider. Kalau hal ini bisa dikelola dengan baik, kerjasama dengan guider, target market yang dibidik JJ Sundanese bisa tercapai,” tutur Perry.

Hadi Permana sendiri mengatakan, sejauh ini dirinya memang belum melihat ada yang menggarap pasar ini. “Saya cukup lama terlibat dalam kegiatan wisata di Bandung, dari sana saya melihat peluang pasar ini,” tutur Hadi Permana.

Yang juga sulit mengelola bisnis pijat, menurut Perry, para terapis-nya dikenal ‘kutu loncat’. Mudah berpindah-pindah dari satu panti pijat yang satu ke panti pijat yang lain. “Mereka suka pindah-pindah, dengan harapan penghasilannya bisa lebih besar. Padahal penghasilannya berkisar dari itu ke itu juga,” tegas Perry.

Mengantisipasi hal ini Hadi mengatakan, pihaknya telah kerjasama dengan asosiasi AP3I yang biasa mengelola terapis, termasuk tehnik memijatnya. “Kami mengupayakan agar mereka tidak mudah berpindah-indah,” kata Hadi.

Menurut  Jeny Rosnawati, di JJ Sundenese para terapisnya professional. Dengan berbagai macam skill pemijatan. Termasuk pijat untuk baby, untuk ibu hamil dan ibu yang habis melahirkan. “Disamping pijat Sunda, kami  juga menawarkan pijat Jawa, pijat Bali.  Terapisnya semua bersertifikat.  Kerjasama dengan guider ini disamping ada imbalan fee, juga ada free massage bagi guider-nya. Ini yang menarik bagi guider,” kata Jeny.

Priangan Cancer Care meringankan beban penderita kanker

 

 

Priangan Cancer Care (PCC) tidak menjual produk dan tempat. Namun lebih pada memberikan konseling  bagaimana menerima hidup bersama kanker. Dengan membagi kesedihan bersama-sama akan terasa lebih ringan ketimbang ditanggung sendiri. Serta memberikan rekomendasi  untuk mengatasi orang-orang yang terserang kanker, serta keluarganya.

Demikian Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (18 Mei 2016) yang malam itu menghadirkan dr. Monty Priosodewo  sebagai pendiri PCC dan Dra. Diana Darmawan yang survivor  kanker.

PCC akan diresmikan tanggal 4 Juni 2016 di Hotel Hilton Bandung. Namun saat ini  PCC sudah kerjasama dengan RS. Santo Borromeus, RS Hasan Sadikin, dan RS Perisai Husada –semua di Bandung dan kerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani).

Menurut dr Monty, PCC didrikan oleh orang-orang yang peduli, simpati,dan empati terhadap kanker. Mereka terdiri dari surivivor, keluarga survivor serta parktisi dan volunter.  Bidang sosial yang dilayani adalah, bidang dukungan pasien, bidang konseling, bidang pendidikan, dan bidang informasi pendanaan pengobatan.

Sementara dra. Diana  sebagai survivor bercerita, bagaimana mulanya dirinya mentalnya up and down begitu menyadari terserang kanker. “Serba tak pasti. Namun setelah saya dapat memenej mental setelah memperoleh konseling, perasaan putus asa pelan-pelan mulai hilang,” kenangnya.

“Melalui PCC ini saya harap penderita kanker dapat memperoleh pengetahuan atau informasi  hal-hal yang berkaitan dengan klanker. Baik mengenai  biaya pengobatan serta dukungan berbagai pengalaman dengan sesama  survivor. Datanglah kepada kami,” kata Dra. Diana.

PCC merupakan yayasan nirlaba dengan motto,  We are here to care and share’.  Adapun visinya adalah, member perhatian, berbagai pengetahuan tentang kanker. Lalu meringankan  beban psikis dan fisik calon survivor dan survivor dalam menjalani terapi. Sementara misinya, menumbuhkan motivasi individu dan keluarga survivor, agar dapat dapat menyongsong hidup dengan optimis.

Bagi yang tertarik bisa menghubungi sekretariat PCC.  Sekretariatnya ada di jalan Halmahera nomor 8 Citarum Bandung 40115. Telpon, 087820020888, atau email ke priangancancercare@yahoo.com.

 

Seminar tentang Prediksi Ekonomi Indonesia Pasca MEA

Menyikapi pasar produk – mproduk Indonesia saat pasca MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) adalah dengan memperkuat produk dalam negeri. Dengan menguatnya produk-produk dalam negeri, MEA tidak akan berpengaruh banyak  terhadap Indonesia.

Hal itu diutarakan oleh Perry Tristianto dalam Seminat Bisnis PREDIKSI EKONOMI Indonesia Pasca MEA, Sabtu (6/4) di BTC (Bandung Trade Center) Fashion Mall, Pasteur, Bandung.

“Bodoh amat dengan MEA, yang penting bagaimana caranya produk-produk kita sanggup bersaing dengan  produk asing. Harus kreatif, kebijakan juga harus mes-support-nya,” tegas Perry dalam seminar yang padat pengunjung tersebut.

Perry Tristianto mengambil contoh bisnis pariwisata Indonesia. Ia mengatakan, potensi wisata Indonesia sungguh besar danh luar biasa. Namun semua itu, lanjut Perry, harus dibarengi dengan kebijakan-kebijakan yang tepat yang dapat mendorong potensi wisata itu menjadi tumbuh dan dapat bersaing, sehingga dapat menarik minat wisatawan asing.

Perry juga mempertanyakan data kunjungan wisatawan ke Bandung yang dikeluarkan pemerintah. Menurutnya, data itu tidak akurat. “Ke tempat wisata milik saja per minggu puluhan ribu orang. Menurut saya  data tersebut masih harus dikaji lagi. Terlalu sedikit jumlah data tersebut, tidak akurat. Tujuan wisata yang kita miliki ini banyak diminati, kok” tutur Perry.

Perry yang memang banyak memiliki tempat-tempat wisata yang booming ini lebih lanjut mengatakan, Indonesia juga harus pandai membuat icon-icon usaha yang kreatif.  Harus ada pembinaan – pembinaan terhadap UKM agar lebih kreatif. Dengan kreatifitas, akan lahir daya tarik tersendiri dalam persaingan pasar.

“Jadi UKM tak hanya diciptakan, tapi dibina agar kreatif. Selama ini kita terpaku pada bagaimana menciptakan kuantitas UKM. Lalu kalau sudah banyak diciptakan, UKM UKM itu mau memasarkannya kemana? Ini kan persoalan baru. Karena itu yang terpenting bukan bagaimana banyak melahirkan UKM, tapi bagaimana UKM-UKM dibina  sehingga banyak lahir UKM kreatif,” kata Perry.

Selain Perry Tristianto, pembicara lain adalah Faisal Basri (Pengamat Ekonomi Alumni UI) dan Samuel Gunawan (Pengusaha Orientasi Ekspor yang juga seorang Motivator dan Trainer). Bertindak sebagai moderator Jacobus Mulia. Seminar itu sendiri sukses, paling tidak kalau dilihat tak ada kursi yang kosong.

Jam tangan kayu Woodka

Jam yang tangan yang terbuat dari kayu pasarnya sangat kecil. Untuk memperluas pasar harus pintar-pintar menggandeng pihak-pihak yang berhubungan dengan spirit pembuatan jam tangan kayu tersebut. Misalnya, mengajak kerjasama dengan penjual perlengkapan alat-alat gunung, atau cara-cara lain, misalnya dengan pecinta lingkungan, agar pasarnya semakin luas.

Demikian dikatakan oleh Perry Tristianto, dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (16/3), yang malam itu mendatangkan dua nara sumber tamu, Athira Azalika Ayu dan Trianita Adhi Handayani, owner dari  merek jam tangan kayu Woodka. Jam keren ini dibuat sejak September 2013 oleh 11 mahasiswa Bandung. Athira dan Azalika adalah bagian dari 11 pemilik lainnya.

Jam tangan Woodka ini tidak menggunakan material yang biasa dipakai jam tangan pada umumnya, seperti stainless steel, karet, kulit, titanium atau bahan lain, tapi menggunakan dari bahan kayu pilihan.

Menurut  Athira dan Trianita, mereka memilih kayu karena melihat banyaknya limbah kayu yang tidak terpakai dan sia-sia. Antara lain,  kayu pinus dan sonokeling, yang dikenal sebagai kayu bagus dan berkualitas, cocok untuk bahan pembuatan jam tangan.

Lalu bagaimana dengan urusan jamnya itu sendiri? Apa juga dibuat sendiri? Sekelompok anak muda kreatif itu mengaku hanya fokus  di desain, bentuk, dan promosinya. “Untuk urusan teknis, kami tentu saja melibatkan ahli jam. Mereka ahlinya,” ujar keduanya.

Perry memberikan masukan, seyogyanya merek jamnya dimasukkan dalam produk, tentu seizin pemilik brand, atau dalam bentuk kerjasama. “Dengan adanya merek jam terkenal akan menjadi nilai plus bagi orang yang hendak memilikinya, misalnya Seiko,” tutur Perry.

Lebih lanjut Perry menambahkan, kalau bisa juga membuat jam beker atau jam dinding, sehingga marketnya lebih besar. “Beker itu unik, lho, dizaman sekarang. Beker akan menjadi daya tarik tersendiri. Karena kalau dilihat harga jam tangan ini mencapai Rp. 700 ribu, itu mahal, lho. Kalau yang dibidik marketnya adalah anak muda atau mahasiswa, itu cukup mahal. Jadi harus pintar-pintar memperluas market dan kreatif dalam membuat produk alternatif, misalnya, itu tadi membuat beker dan jam dinding,” jelas Perry.

Jam kayu Woodka memang unik, bahkan dari sejarah terlahirnya jam ini. Sekelompok penggagasnya mulanya adalah kelompok dalam tugas kuliah di jurusan Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB). Lalu mereka memikirkan membuat sesuatu yang baru dan unik untuk berkreasi, lalu muncullah ide membuat jam tangan kayu. “Karena itu dalam kelompok kami tidak ada yang mengklaim pemilik ide, sebab kami mikirnya secara bersama-sama, ” kata Athira dan Trianita.

Menurut keduanya, proses pembuatan satu jam memakan waktu sekitar 10 hari. Dan sampai  saat ini, jam yang sudah berhasil diproduksi lebih dari 300 unit. Sebulan, bisa produksi 100 jam tangan.

Jam tangan Woodka terbagi menjadi dua kategori, jam dengan tali kain tenun Kalimantan atau kulit dan jam tangan full kayu. “Dan bila konsumen ingin mengganti tali jam tangan, kami menjual khusus talinya saja dengan harga per satuan,” ujar Athira.

Jam tangan Woodka  saat ini hanya dijual online. Namun juga aktif berjualan di acara pameran anak muda. Untuk show room kami sedang mempersiapkannya,” tegas Trianita.

Pemakai jam tangan Woodka, antara lain di mkota-kota Jakarta, Yogyakarta, dan Semarang. Bahkan  sudah terjual sampai ke luar negeri, seperti Denmark, Inggris, Korea Selatan, Singapura, dan Malaysia.

Untuk lebih lengkap infonya bisa memnghubungi website mereka di www.woodkawatch.com  Disana terpampang segala info termasuk foto-foto imut berbagai kreasi jam tangan kayu Woodka.

Boucil, jajanan inovasi dari Ubi Cilembu

Mengangkat kekayaan alam daerah menjadi produk inovatif merupakan hal yang perlu diapresiasi. Karena hal itu akan dengan sendirinya membuat produk itu makin terkenal dengam membawa harkat nama daerah.

Demikian Perry Tristianto dalam ‘Talk Show Gebyar Marketing PRFM’, Rabu (6/1) yang malam itu mendatangkan nara sumber Gugi Kustiandi, pemilik Bolu Ubi Cilembu atau yang juga dikenal dengan Boucil. Malam itu berthema ‘Manisnya Berbisnis Bolu Ubi Cilembu’.

Bolu Ubi Cilembu atau Boucil sendiri adalah sebuah produk kuliner yang diproses dari bahan dasar organik Ubi Cilembu, bahannya Ubi Cilembu. Gugi sendiri sebagai pendirinya memang bukan orang baru bergelut dengan bisnis camilan. Ia sebelumnya memiliki jabatan penting di Brownies Amanda, sampai akhirnya memutuskan lepas dan mendirikan Boucil. “Sekarang merasa lebih bebas saja, tak terikat dengan kemitraan,” tutur Gugi.

Asal ubi Cilembu sendiri berasal dari desa Cilembu, terletak 15 Km dari kota Sumedang. Sampai saat ini terkenal sebagai daerah yang menghasilkan ubi dengan kualitas tinggi, dinamakan Ubi Madu,

Di desa Cilembu dan sekitarnya Ubi Cilembu telah dikenal kelezatannya dan mempunyai keunikan tersendiri. Bahkan terkenal sampai ke luar Jawa Barat. Konon hanya daerah tertentu yang dapat ditanam untuk menghasilkan ubi dengan rasa yang khas seperti Uni Cilembu.

Konon pula, komposisi mineral didalam tanah di desa Cilembu, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan unsur lainnya sehingga menjadikan Ubi Cilembu berasa lezat.

Keunikan lainnya, saat Ubi Cilembu dibakar mencapai temperatur tertentu maka secara alami akan mengeluarkan madu dengan rasa yang sangat lezat dan manis.

Penelitian telah banyak dilakukan berbagai kalangan. Hasilnya, Ubi Cilembu terbukti memiliki kadar serat yang tinggi dan memiliki nilai anti oksidan yang baik. “Karena itu bila Ubi Cilembu diproses menjadi bolu tak perlu menggunakan gula dan pemanis kimia tetap terasa enak dan lezat,” ujar Gugi..

Produk Boucil sendiri menurut Gugi diproses 100% dari Indonesia, tanpa bahan pengawet, dan tanpa bahan kimia apapun. Dalam rasa Original, Pandan, Mocca, Mangga dan Keju.

Saat ini Boucil tersedia dalam rasa Original, Mocca, Mangga, dan Pandan. Seorang blogger memuji Boucil setinggi langit. Katanya, rasanya pulen dan lumer dimulut serta lembut.

‘Saya berharap dapat memajukan para petani Ubi cilembu dan para pengusaha kecil dengan berperan sebagai mitra, selain itu munculnya Boucil diharapkan dapat terus menjaga kelestarian Ubi Cilembunya sendiri agar tidak menghilang seiring waktu berjalan,” ujar Gugi.

Anugerah Jawara Wirausaha Sosial Bandung Diharapkan Bernilai Sosial

Acara puncak penganugerahan para Anugerah Jawara Wirausaha Sosial (AJWS) Bandung berlangsung tanggal 10 November di Auditorium Balai Kota Bandung. Perry Tristianto menjadi salah seorang juri dan penasehat dalam ajang menggali wirausaha muda tersebut.

Dan akhirnya keluar lima wirausahawan sosial meraih (AJWS) 2015. Lima pemenang dari acara yang digelar Syamsi Dhuha Foundation (SDF) menyisihkan finalis-finalis lain untuk tiga kategori yang dikompetisikan. Yaitu ide, startup (usaha yang telah berjalan 1-3 tahun), dan growing (usaha yang berjalan lebih tiga tahun).

Para jawara terdiri beberapa kategori. Juara I Kategori Ide (Family Home Care), Juara Kategori Startup I (Fish n’ Blues), Juara Startup II (Amygdala Bamboo), dan Juara Startup III (Sekolah Repoeblijk), serta Juara I Kategori Growing (Kampung Domba).

Eko Pratomo, penggagas AJWSB mengatakan, ini langkah awal SDF menjadi Venture Philanthropy Organization (VPO) untuk mempertemukan sumber-sumber pendanaan dengan potensi usaha yang berorientasi pada solusi dan perubahan sosial. Eko juga pendiri SDF dan juga penggaga AJWSB di Bandung.

Menurut Eko lagi, para jawara akan mendapat kesempatan mengikuti program inkubasi selama enam bulan, pitching kepada investor dan audiensi dengan Pemkot Bandung. Pemenang AJWSB 2015 untuk kategori startup dan growing mendapatkan tambahan penyertaan modal dari SDF sebesar Rp 250 juta.

AJWSB 2015 adalah kompetisi social preneurs digagas SDF agar berkembang menjadi VPO, bekerja sama dengan Bandung Social Innovation Circle (BaSIC) dan didukung Pemkot Bandung. “AJWSB digelar untuk menyuntikkan motivasi, penghargaan dan pembedayaan, dan bukan bertujuan semata memperoleh uang, tapi memiliki nilai soaial.” Jelas Eko.

Ini lima pemenang AJWSB 2015 : 1. Family Home Care: Bidang Kesehatan. 2. Kampung Domba: Bidang Pemberdayaan. 3. Fish n’ Blues: Bidang Perikanan. 4. Amygdala Bamboo: Bidang kerajinan kreatif. 5. Sekolah Repoeblijk: Bidang Kewirausahaan.

Perry sendiri dalam usahanya selama ini dikenal selalu melibatkan. Usaha besarnya seperti Tahu Susu Lembang (tenant yang berjualan didalamnya merupakan UKM), DeRanch (para pemilik kuda adalah UKM), Floating Market Lembang (penjual makanan di pasar terpaung adalah UKM).

Dalam rangka Tahun Baru Islam 1437, anak-anak yatim Husnul Khotimah diundang ke Floating Market Lembang

Menyambut Tahun Baru Islam 1437, yang bertepatan jatuh pada tanggal 14 Oktober 2015, keramaian tujuan wisata Floating Market Lembang (FML) semakin semarak oleh kedatangan rombongan yang membawa rombongan 25 anak-anak yatim. Mereka sengaja diundang oleh pemilik FML, Perry Tristianto, dalam rangka rangka meyambut sekaligus meramaikan Tahun Baru Islam, yang juga merupakan hari besar alias hari libur.

Rombongan anak yatim tersebut dari Yayasan Husnul Khotimah (Taklim Masjid-Hlq Anak Yatim) dari Cicaheum, yang berkantor di jalan AH. Nasution No.928 Cicaheum Bandung. Kedatangan mereka di tengah-tengah pengunjung FML, sungguh ceria. Wajah-wajah lugu dan polos membersitkan kesederhanaan.

Mereka dengan riang gembira bermain dengan kelinci di Taman kelinci, berlari-lari kesana kemari mengejar kelinci dan memberinya makan dengan wortel yang telah disediakan. Lalu mereka berlarian dengan penuh kegembiaraan ketika memasuki Wahana Kereta Api Mini terbesar di Indonesia. Mereka juga dengan nampak sangat menikmati santap siang yang disediakan FML. Kebersamaan mereka menyantap makanan itu nampaknya sudah biasa mereka lakukan di asrama. Namun menyantap makanan di FML bersama-sama pastilah kesannya sangat berbeda.

Koordinator Yayasan Husnul Khotimah, Inna Mamanya Adrian-Astrid, mengucapkan banyak terima kasih kepada FML, khususnya kepada pemiliknya, Perry Tristianto. Dan dalam kesempatan itu melalui Intania Setiari Harry Rochadi, sekretaris grup The Big Price Cut (TBPC), mendoakan semoga FML dibawah bendera TBPC semakin maju bisnisnya.

FML merupakan tujuan wisata di daerah Lembang yang kini luasnya mencapai 10 H lebih (bermula 7,2 H). Namun karena kemudian ada penambahan luas tanah menjadi 10 H lebih.

Sebagaimana namanya, di FML terdapat Pasar Terapung sebagaimana yang ada di Banjarmasin atau Thailand. Namun kelebihan FML, ada wahana-wahana lain yang cocok untuk tujuan wisata keluarga. Seperti Taman Kelinci, Taman Angsa, arena permainan anak-anak, rumah-rumah antick dan kuno yang bisa disewa untuk meeting atau acara apa saja. Ada wahana The Rock yang view-nya indah untuk dijadikan tempat foto atau selfie.

Harga tiket masuknya Rp. 15 ribu. Dan sobekan tiket itu didalam area FML bisa ditukar dengan minuman ringan. Parkirnya luas. Lokasinya mudah dicari, dekat dengan Pasar Lembang. Dulu namanya Situ Umar. Di pasar itu kalau ada orang ditanya lokasi Situ Umar atau Floating Market Lembang, pasti tahu.

Kopi Mang Dadang Menciptakan Pasar Sendiri

Kedai kopi sekarang menjamur. Tak terkecuali di kota Bandung. Kota Bandung yang juga dikenal dengan warganya yang tak bisa lepas dari ‘gaya hidup’ menjadikan kedai kopi yang kini erat dengan gaya hidup menjadikan bisnis ini memiliki peluang besar dan bisa membawa keuntungan.

Hal itulah yang dijadikan thema Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (23/9), dengan mendatangkan nara sumber pengelola kedai kopi, Dadang Hermawan.

Yang dilakukan Dadang Hermawan, atau yang lebih dikenal dengan Mang Utun sungguh unik. Ia mendirikan apa yang disebut mobile coffe shop. Yang menarik dari bisnis kedai kopi yang digelutinya ini adalah, kedai kopi yang menggunakan sarana mobil Land Rover sebagai sarana untuk berjualan. Sehingga dengan mudah kedainya bergerak cepat mencari pasar.

Berawal dari kecintaannya terhadap kopi dan dia juga penikmat kopi, Dadang lalu puny ide tersebut dan merealisasikannya. “Saya pecinta kopi dan penikmat kopi, saya yakin apa yang saya lakukan ini satu-satunya di dunia, atau paling tidak keberadaannya dapat dihitung dengan jari” tuturnya.

Menurut Perry Tristianto sebagai host acara talk show ini, apa yang dilakukan oleh Dadang merupakan hal unik, dan yang terpenting ia telah menciptakan pasar, bahkan mencari pasar dengan instan. “Ini adalah ide yang unik dan menciptakan pasar tersendiri,” tutur Perry.

Memang sistem penjualan yang digunakan dengan jemput bola. Yang mana kedai kopi ini lebih banyak mendatangi kerumunan dan tempat ramai untuk berjualan. Dimana ada keramaian, kedai kopi milik Dadang ini langsung ‘menyerbu’ ke dalamnya.

Bukan itu saja daya tariknya, menu yang ditawarkan juga tak kalah dengan menu kedai kopi pada umumnya, meski diracik dalam mobil. Malah kedai kopi ini mempunyai menu andalan yang belum ada di kedai kopi yang lain yakni coffe frutt.,

Menu andalan ini mempunyai aroma khas dengan berbagai macam pilihan yakni madu, aromanis atau gulali. “Saya yakin menu andalan ini tak ada di kedai kopi lain,” tutur Dadang yang juga dikenal juga aktif sebagai aktivis lingkungan.

Kedai kopi Mang Dadang ini biasa mangkal di Taman Cibeunying Park pada setiap hari Jumat, Sabtu, Minggu, mulai pukul 4 sore. Bahkan selama Ramadhan lalu, keda kopi mang Dadang laris manis untuk menemani buka puasa orang yang ngabuburit di tempat-tempat tersebut.

Indonesia sendiri dikenal memiliki kopi jenis spesial yang sudah dikenal di manca negara khususnya di  Eropa, Jepang, dan Amerika. Malah disebut-sebut sejajar dengan kualitas kopi spesialti dunia lainnya.

Indonesia juga dikenal memiliki daerah-daerah penghasil kopi yang ‘unik’ yang jika dikelola dan diolah dengan baik akan menghasilkan kopi dengan citarasa spesifik. Juga memiliki varian. Beberapa varian memiliki karakteristik yang sangat unik.

Beberapa varian kopi spesial Indonesia sudah terkenal di dunia antara lain Gayo Coffee dari Aceh, Mandheling Coffee dari Aceh, Java Coffee dari Jawa Timur, Toraja atau Celebes Coffee dari Sulawesi Selatan dan Luwak Coffee.

Sementara itu, beberapa verian kopi spesial yang mulai dikenal dunia antara lain Flores Coffee, Bali Coffee, Prianger Coffee dan Papua Coffee. Di Bandung sendiri ada kopi luwak yang sangat terkenal yang juga menjadi tujuan wisata, karena disana bisa dilihat budidaya kopi luwak berseta luwak-luwaknya yang senmagaja dipelihara.

Fruits Up produk minuman inovatif

Produk minuman Fruits Up memiliki pasar yang luas dan terbuka. Karena meski bentuk dan namanya minuman, namun karena isinya (mangga) dicampur sedikit es dan elly, meminum Fruits Up serasa makan buah mangga. Menjadi kenyang, seperti makan mangga.

Hal itu diutarakan oleh Perry Tristianto dalam Talk Show Gabyar Marketing PRFM, Rabu (26/8) dengan nara sumber, penggagas Fruits Up, Dwi Purnomo.

Fruits Up adalah usaha minuman buah segar yang dibuat dari mangga. Usaha ini bermitra dengan para petani mangga. Berangkat dari kenyataan bahwa petani mangga kalau sedang musim panen harganya jatuh lantaran membludaknya buah mangga yang dipanen. Maka gagasan ini muncul.

Dwi Purnomo sendiri adalah dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad. Ia mengajak para mahasiswanya untuk membuat berbagai usaha dengan bermitra petani atau peternak. “Jadi tak betul kalau disebut Fruits Up milik saya, usaha ini saya bangun dengan mahasiswa,” jelas Dwi.

“Selain kenyang meminum Fruits Up, kelebihan lain, bisa menjadi alternatif pengganti makan buah, terutama saat malam hari. Orang mungkin malas mau makan buah mangga malam hari, karena harus mengupas dulu. Tapi dengan adanya minuman ini menjadi alternatif. Praktis,dan langsung disantap,” jelas Perry.

Lebih lanjut Perry mengatakan, produk ini bagus dan jangan sampai dijual di ritel, karena sekarang banyak ragam macam minuman dijual, sehingga orang sulit membedakan, padahal Fruits Up beda dengan minuman pada umumnya.

Fruits Up juga menawakan bagi yang tertarik menjadi reseller dengan modal hanya Rp. 500 tibu. “Bisnis ini sulit sulit mudah, yang paling sulit di hulunya, karena memanage para petani tak mudah,” jelas Dwi.

Usaha yang dibangun Dwi Purnomo dikenal berlandaskan konsep sociopreneurship. Yaitu, kewirausahaan berbasis jiwa sosial unjtuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan ujung tombak para mahasiswa sebagai lokomotifnya. “Masyarakat tak harus menunggu modal besar, tapi bisa langsung jalan bersama kami,” jelas Dwi.

“Dengan konsep itu, kami berusaha mengembangkan petani agar bisa terdorong untuk mengolah mangga sebagai bahan baku mentah yang kemudian memiliki nilai tambah. Sekarang memang baru mangga, tapi tidak tertutup kemungkinan nanti berkembang ke buah-buahan lain,”jelas Dwi.

Selain usaha minuman Fruits Up, Dwi bersama mahasiswanya juga memiliki rumah makan bernama ‘Entog Jenggot’ yang berlokasi di Jatinangor. Disana aneka kuliner khas Indramayu ditawarkan kepada masyarakat. Juga kerjasama dengan masyarakat yang memelihara entog.