Pesaing Bisnis Video Mapping Tak Banyak

Bisnis kreatifitas video mapping saingannya bukan produk tapi karya. Pada akhirnya yang memenangkan saingan adalah, siapa yang paling kreatif dan diterima mesyarakat, bukan siapa yang menggunakan (alat) canggih untuk menciptakan karya tersebut. Sangat tergantung kreatornya.

Hal itu diungkapkan oleh Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (29/10) yang malam itu mendatangkan nara sumber Adi Panutan, owner Creative Head PT. Sembilan Matahari yang kreatifitas video mapping-nya pernah membuat kehebohan dipenutupan ulang tahun ke-66 Jawa Barat. Yaitu dengan menciptakan kebakaran Gedung Sate yang kemudian menjadi berita sensasi di berbagai harian di Jawa Barat bahkan Nasional.

Adi mengungkapkan dirinya lebih mengeksplor video mapping karena tidak banyak kompetitor yang bermain di sana, sementara demand-nya ‘cukup basah’.

Dijelaskan pula olehnya, untuk pembuatan video mapping komersil, harga yang dipatok mulai dari Rp75 juta. Sejak awal membangun PT. Sembilan Matahari, Adi bahu membahu dengan adiknya, Sony Budi Sasono, hingga kini.

“Kami memiliki pasar tersendiri. Kalau kami menjadi perusahaan film, production house atau studio desain maka kompetitor akan banyak sekali saingan, terutama di Jakarta. Tapi di dunia keratif saya ini bisa dibilang tak ada kompetitor. Intinya harus selalu ada inovasi,” kata pemuda tampan ini.

Selain Gedung Sate Adi juga pernah bersama kolaboratornya lima kali membuat sensasi, yakni Museum Fatahillah Jakarta, Universitas Pelita Harapan Jakarta, Museum Batik Pekalongan, Hotel Grand Kemang Jakarta, dan Gedung Sate Bandung.

“Video mapping selalu menciptakan sensasi karena penayangannya mengakses ruang publik dan landmark populer. Gedung Sate selama ini sering dilihat oleh warga, bahkan menjadi icon Bandung. Begitu ada sesuatu yang kita tembakkan ke gedung tersebut, dan membuatnya seolah terbakar, itu menjadi sensasi,” ujar Adi.

Adi adalah almamater Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Desain Komunikasi Visual angkatan ’99. Sebelumnya ia malah sempat duduk di Fakultas Ekonomi Unpad, namun tak sampai lulus.

“Selama saya menimba ilmu ekonomi, ternyata merupakan paduan yang seimbang antara seni dan ekonomi,” tutur Adi. Adi adalah peraih gelar Master dari Design Management Northumbria Univeristy, Newcastle, Inggris. Dan belum lama ini karyanya menang dalam kompetisi di Rusia yang melibatkan banyak negara.

Video mapping pun bukanlah satu-satunya produknya. Ia juga membuat film layar lebar dan menerima order pembuatan iklan. “Yang penting, produk atau gagasan yang sudah dikelola harus bisa sustainable sehingga dapat menghasilkan uang, meski cuma dari dua disiplin ilmu, desain dan film. Kalau tidak menghasilkan uang kita tidak bisa mengembangkan karya,” kata Adi.

Membandingkan film layar lebar dan video mapping, Adi mengaku video mapping memiliki kapasitas yang sama dengan pembuatan film.

“Tapi layar lebar memang memiliki prestise tersendiri. Lain halnya dengan video mapping yang melahirkan kepuasan lebih dari eksperimentasi kreatif,” katanya. Film yang dilahirkan Sembilan Matahari antara lain ‘Cinta’ pada tahun 2009.

PRODUK UKM JANGAN BERSAING DENGAN PRODUK PABRIKAN

Kemasan produk dan tempat dijualnya merupakan dua hal yang berkaitan. Hal itu diutarakan oleh Perry Tristianto dalam talk show SMEs TALK berhema ‘Small Medium Enterprises Talk’ yang diselenggarakan atas kerjasama Bank BJB, The Big Price Cut (TBPC) dan atas prakarsa Kadi Jawa Barat. Acara dilakukan di rumah makan Praoe Sea Food Jalan Sumatera Bandung, Rabu (22/10).

“Kemasan harus bisa menjadi omongan, karena kemasan merupakan alat jual. Dan produk kemasan UKM jangan dijual di minimarket atau supermarket, karena bisa dipastikan akan kalah bersaing dengan produk pabrikan. Anda tahu, produk pabrikan adalah peoduk massal yang selalu menggunakan iklan, karena memilki modal besar. Sementara produk UKM tak memakai iklan. Jadi kalau Anda bersaing dengan mereka pasti akan kalah,” tutur Perry.

Selanjutnya Perry mengatakan, berdasarkan pengamatannya, produk UKM sekarang ini bagus-bagus, yang jadi masalah bagaimana mengemas produk tersebut menjadi menarik, dengan kalimat-kalimat yang membuat orang ingin membelinya. KEmasan tak harus dibuat dengan materi yang mahal. “Disana tantangannya, dan juga ciptakan pasar, jengan memasuki pasar. Kalau Anda menjual di minimarket atau supermarket, itu namanya memasuki pasar, Anda akan kalah,” ujar Perry.

Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 120 UKM asal Bandung dan sekitarnya, atau Jawa Barat pada umumnya. Dalam acara tersebut antusias peserta sangat tinggi sehingga acara hidup. Karena materi yang dibahas berasal dari masalah-masalah pelaku UKM itu sendiri, yaitu melalui tanya jawab.

BISNIS ARAFA TEA BISA DIMAKSIMALKAN

Bisnis Arafa Tea masih bisa dimaksimalkan peluang dan keuntungannya. Karena sekarang saja, meski brand ini belum begitu terkenal, tapi sudah mampu meraup omzet ratusan juta perbulan, apalagi jika lebih terkenal lagi.

Demikian Perry Tristianto dalam Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (22/10) yang malam itu mengambil thema ‘Pemberdayaan Produk Pedesaan’, dengan mendatangkan nara sumber Ifah Syarifah dan Evi Amalia, owner dari Arafa Tea. Ifah dan Evi adalah kakak beradik.

Sukses Tea Arafa selain bekerja sama dengan mahasiswa, juga menggandeng para petani dan pemilik kebun teh. Kebun teh tersebut tersebar di beberapa daerah di Jawa Barat, antara lain, Ciwidey dan Garut Selatan.

Tea Arafa usaha yang mengolah komoditas teh hijau menjadi berbagai varian penganan. Usaha ini dibangun sejak 2007 dan kini bisa meraup omzet Rp350 juta — Rp400 juta per bulan.

“Indonesia negara penghasil teh terbesar di dunia. Tapi, teh-teh grade A diekspor. Indonesia hanya mengonsumsi teh berkualitas rendah,” kata Ifah.

Selain itu Arafa Tea melakukan inovasi. Jika biasanya pengusaha hanya membuat produk daun teh untuk diseduh, mereka justru menggunakan bubuk teh hijau (matcha powder) sebagai bahan baku aneka macam makanan dan minuman.

Produk unggulan Arafa Tea antara lain cokelat green tea, opak green tea, dan minuman instan (matcha drink). Jenis minuman instan yang terbuat dari campuran bubuk teh hijau, creamer, dan gula. Dikemas dalam sachet dan tak disangka, banyak orang tertarik lantaran rasanya yang khas.

Lalu diikuti produk-produk lain yang inovatif. Antara lain, cokelat rasa teh hijau yang tersedia 3 level rasa.

Inovasi lain, mencampur opak ketan dan cokelat green tea ditaburi dengan salah satu jenis teh Jepang yang bernama genmaicha .

“Rasa opak yang biasa-biasa saja jadi istimewa,” katanya. Konon, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah memesan 2.500 opak green tea ini.

Produk lain yang juga diproduksi oleh Arafa Tea adalah aneka ragam daun teh yang dikemas dalam kaleng. Produk-produk Arafa Tea dibanderol mulai dari Rp10.000 — Rp125.000.

Kakak beradik ketika memulai usaha ini mengaku tak paham tentang hal-hal yang berkaitan dengan pangan. Karena itu ia minta dibantu mahasiswa dari Fakultas Teknologi Ilmu Pangan Universitas Padjadjaran, Bandung, untuk melakukan riset dan penelitian. “Semua penelitian dilakukan di laboratorium kampus,” kata Ifah.

“Sebenarnya masih banyak produk makanan dan minuman lain yang bisa dibuat dari matcha powder. Salah satu makanan yang pernah kami buat adalah brownis green tea. Brownis unik ini hanya kami produksi di bulan Ramadhan,” ujar Ifah.

SUKSES DESANESIA PRODUKSI RANGINANG DAN KERIPIK BAYAM

Karakter makanan camilan adalah, dibeli tidak dengan niat dari rumah, tapi bersifat spontan, yaitu karena daya tarik sesaat ketika pembeli melihat produk tersebut. Karena itu yang terpenting dalam menggeluti usaha ini adalah, bagaimana mencari tempat berjualan yang tepat (place).

Hal itu diutarakan oleh Perry Tristianto dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (15/10), yang malam itu mendatangkan nara sumber Wahyu Eko Widodo, salah seorang owner Desanesia, produk camilan kampung yang kini menjadi bergengsi, yaitu ranginang dan keripik bayam.

Desanesia dimiliki tiga orang anak muda, yaitu Wahyu Eko Widodo, Adinda Soraya Mutialarang dan Sri Nur Cholidah. Namun malam itu yang bisa hadir hanya Wahyu Widodo.

“Jualan seperti ranginang dan keripik bayam dibeli seseorang tidak dengan direncanakan. Tak ada dibenak pembeli sebelumnya hendak membeli camilan. Mereka spontan membelinya. Karena itu yang terpenting bagaimana menciptakan pasar untuk produk seperti ini, jangan memasuki pasar. Misalnya di jual di apotik atau Warnet. Di Warnet orang butuh camilan,” jelas Perry.

Kisah sukses bisnis Desanesia memang menarik. Camilan kampung ini ‘naik kelas’ dan menjadi ‘makanan kota’ serta bergengsi di tangan tiga anak muda ini yang tak pernah lelah terus berusaha. “Andai banyak anak muda seperti kalian, wah, Indonesia makin maju,” jelas Perry.

Ukuran camilan sengaja dibuat mini dan unik hanya seukuran gundu (berukuran seratus gram). Dibuat dengan empat varian rasa yakni keju, keju manis, keju pedas, dan coklat, dengan kemasan menarik dan ngepop. Yaitu berbentuk prisma segitiga dengan warna-warna cerah seperti merah, hijau, dan kuning. Harganya juga dibuat terjangkau, ranginang Rp 23 ribu. Sedangkan keripik bayam dihargai Rp 15 ribu.

Mulianya, Desanesia melibatkan bisnisnya ini dengan wanita atau ibu-ibu dari dua desa. Yaitu di desa Cikoneng di Kabupaten Bandung dan Desa Cikidang di Kabupaten Bandung Barat. Para wanita di Desa Cikoneng, yang mayoritas kaum ibu, giat memproduksi ranginang mini aneka rasa. Sementara untuk pembuatan keripik bayam diserahkan kepada ibu-ibu dari Desa Cikidang.

“Desa Cikoneng dipilih sebagai lokasi produksi ranginang karena sebelumnya di desa ini memang sudah banyak usaha rumahan ranginang. Namun masing-masing usaha bergerak sporadis dalam skala kecil sehingga tidak maksimal,’ ujar Wahyu Widodo.

Dari sana tiga nanak muda ini tergelitik unhtuk ikut membangun bisnis ranginang. “Mulanya di Cikoneng dikuasai oleh satu pengusaha, ibu-ibunya hanya menjadi buruh,” tutur Wahyu.

Sementara itu, di Cikidang menjadi tempat produksi keripik bayam karena wilayah tersebut mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani hortikultura. “Petani dihadapkan dengan harga sayuran yang terus anjlok kala musim panen tiba. Disana kita berpikir untuk membuat kripik bayam,” jelas Wahyu.

Berkat Desanesia, ibu-ibu memperoleh penghasilan antara Rp 500-700 ribu per bulan. Pendapatan itu diperoleh dari upah mereka dalam membuat ranginang atau keripik serta ditambah bagi hasil laba untuk produk yang berhasil terjual. “Di akhir tahun, para anggota juga masih mendapat bagi hasil tahunan kelompok, “ jelas Wahyu.

Promosi yang dilakukan Desanesia adalah melalui jejaring sosial, juga memiliki website. Menurut Wahyu, modal awal untuk membangun Desanesia diperoleh dari dana hibah sebuah LSM di Bandung, sebesar Rp 50 juta per desa.

Maicih Baso

Setelah Kripik Maicih dan Warung Maicih, kini dibuka Maicih Baso. Resto ini dibuka tanggal 11 Oktober 2014 di jalan Sawunggaling no. 2 Bandung.
Konsepnya tak beda dengan camilan Maicih yang terkenal dengan pilihan level kepedasannya, Maicih Baso juga menyediakan level kepedasan berbeda. Level 1 ada sambal tomat, pada level 2 ada sambal nanas, pada level 3 ada sambal tauco, pada level 4 ada sambal merah, pada level 5 ada sambal hejo, dan pada level 6 ada sambal baso.
Pengunjung bisa menyicipinya terlebih dulu untuk menentukan tingkat levelnya. Selain Baso Maicih, juga ada menu spesial seperti Baso Halus, Baso Urat, Baso Keju, dan Baso Telor. Semua dijual dengan harga terjangkau, dengan minimal pembelian adalah tiga butir baso.
Selain baso, juga ada Yamien Maicih dengan tingkatan level tertentu dan Yamien Asin/Manis. Serba gorengan juga ada, yaitu Siomay, Baso Goreng, dan Tahu Isi. Kalau mau menu yang agak berat,ada Mie Goreng, Mie Tek-tek, Nasi Goreng, atau Nasi Goreng Mawut.
Minumannya macam, juga ada Jus Alpukat, Sundae Oreo, dan Susu Strawberry dan macam-macam lainnya, misalnya, Special Drink, Mojito, Squash, Smoothies, Coffee, Mix Juice, Tea, Flavoured Milk, Milk, Soft Drink, Juice, Milk Shakes, Specialities, Flavoured Tea, dan Float.
Maicih Baso di jalan Sawunggaling ini merupakan usaha bersama antara Grup Maicih dengan The Big Price Cut (TBPC). Sebuah kolaborasi yang unik antara Sang Raja FO dengan Raja Keripik Pedas.
Dalam opening ceremony , Maicih Baso mencoba menampilkan beberapa performance seperti Matta, Vanya Shinta, dan Devy Konah (terkenal dengan goyang Onta), juga band Matta. Acara dikemas oleh Radio Cosmo yang kini dimiliki oleh bos The Big Price Cut, Perry Tristianto.
Selain itu dalam pembukaan, ada Lomba Makan Baso Maicih atau lebih tepatnya Lomba Makan Yamien + Kuah dengan level super pedas. Hadiahnya memang menggiurkan berupa uang jutaan rupiah plus voucher dengan hanya mendaftar Rp15ribu.
Cukup ramai dalam pembukaan dan meriah…..

Sukses Sugondo Dengan Kreasi Alat Pijat

Dalam melakukan usaha jangan takut memulai, sekalipun itu oleh faktor usia yang sudah sepuh. Apalagi jika masih diberikan kesehatan dan otak yang masih baik oleh Tuhan. Sebagai contoh, sukses yang diraih oleh Prof.Dr. Hc Sugundo Msc, pendiri dan owner ATFG-8, dengan teraphy penyembuhan alternatif pijat dengan kreasi alat yang dibuatnya sendiri. Ia sukses saat masa pensiun.

Demikian Perry Tristianto dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (1/10) yang malam itu mendatangkan nara sumber Prof.Dr. Hc Sugundo Msc yang begitu sukses menciptakan alat pijat.

“Sangat disayangkan jika kita masih diberikan otak yang masih sehat dan kesehatan tubuh, namun tak digunakan dengan baik,” tutur Perry Tristianto.

Sukses Sugondo mulanya hanya menyembuhkan penyakit dengan teknik pijit tradisional menggunakan tangan. Namun karena kemudian kemampuannya itu menyebar dan ia kewalahan menanganinya, sehingga Sugondo menciptakan alat pijat yang disebut ATFG-8. Angka 8 menunjukan ia me-remake alat itu hingga 8 kali. ATFG singkatan dari Alat Terapi Fisik Gondo Seri-8, biasa disingkat ATFG.

Kini pusat terapinya ada di Jalan Purwakarta No.167 Antapani, Bandung, menempati gedung mewah berlantai dua.

Penemuan alat itu melalui proses panjang. Setelah berulang kali mencoba membuat alat terapi itu, sekitar tahun 1992 Sugondo berhasil menciptakan alat terapi tersebut.

Dengan ATFG -8 penyakit kronis hingga ringan dapat disembuhkan. Antara lain stroke, jantung koroner, reumatik jantung, liver, infeksi saluran kencing, tekanan darah tinggi, darah rendah, asam urat, kolesterol, maag, lambat keturunan, wasir/ambeien, leukimia, thalasemia, epilepsi, asma, sinusitis, kista pita suara, migrain, vertigo, dan pilek menahun.

ATFG-8 juga mampu merehabiltasi pengguna narkoba agar terlepas dari ketergantungan terhadap narkoba, terapi itu hanya tersedia di ATFG-8 cabang Grogol, Jakarta Barat.
Alat terapi hasil kreasi Sugondo itu, terbuat dari beberapa bahan yang ia modifikasi sendiri, seperti stainless steel, elemen, kabel, isolator, volt meter dan beberapa komponen listrik yang dapat membantu proses pijat yang menghasilkan rasa hangat.

Ada 365 titik refleksi di tubuh pasien yang menjadi target penyembuhan. Biasanya teraphy dilakukan selama satu jam. Mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Menurut seorang pasiennya, saat pertama kali menjalani terapi tubuh akan terasa pegal-pegal, namun pada kunjungan selanjutnya badan akan segar bugar.

Kini dalam satu hari,hampir setatus orang pasien hilir mudik di pusat terapi ini. Waktu operasionalnya dimulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. Bagi masyarakat yang ingin terapi, sebaiknya terlebih dahulu reservasi/memesan waktu terapi via telepon ke (022) 7233059. Bila ingin mendapatkan informasi lokasi cabang ATFG-8 bisa melalui sms dengan format: info[spasi]lokasi, kirim ke: 0857 2020 8844.

Pasien ATFG-8 berdatangan dari wilayah Bandung dan sekitarnya, bahkan pernah menangani pasien dari Malaysia, Singapura, dan Jerman. Pusat terapi ATFG-8 yang terletak di kawasan Antapani ini.

Fasilitas yang terdapat berupa kamar inap untuk pasien, kamar mandi air hangat VIP, 20 ruang terapi, dan 12 tenaga terapis profesional.

Atas jasanya memberikan manfaat bagi kesembuhan masyarakat dengan metode ATFG-8, Prof DR HC Sugondo, MSc mendapatkan penghargaan, antara lain: pemberian gelar Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Gondohusodo oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, dan penganugrahan Inovasi Jawa Barat Kategori Kesehatan tahun 2011.
Percakapan Obrolan Berakhir

Kisah Sukses Go Internasional Gitar Stranough

Gitar adalah alat musik yang paling banyak disukai kebanyakan orang dibanding dengan alat musik lainnya. Karena itu marketnya lumayan bagus. Apalagi jika gitar itu tidak hanya bisa dibeli tapi juga bisa dipesan sesuai dengan keinginan konsumen, hal itu merupakan nilai plus tersendiri.

Hal itu diutarakan oleh Perry Tristianto dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (24/9) yang malam itu mendatangkan nara sumber Muhammad Satria Nugraha, owner pembuat gitar merek Stranough. Ia biasa disapa Hanung.

Hanung adalah pembuat gitar yang pernah terpilih sebagai wirausahawan muda terbaik pada ‘Dji Sam Soe Award 2009’, UKM Mandiri dan majalah SWA atas kreatifitasnya membuat gitar.

Alumni Institut teknologi Nasional (Itenas) jurusan Tehnik Industri itu mengisahkan pertama kali merintis membuat gitar. Mulanya untuk keperluan diri sendiri.

“Saya dari kecil memang suka gitar, bahkan ingin jadi musisi, meski tak kesampaian. Sewaktu saya masih mahasiswa, pengen banget punya gitar artist series, harganya Rp. 19 juta. Sementara waktu minta uang dari ayah, cuma dikasih Rp. 2 juta,” kenang Hanung.

Hanung kemudian banyak melakukan riset lewat internet tentang bermacam spesifikasi gitar. Ia benar-benar ingin memaksimalkan uang yang dimilikinya untuk mendapatkan yang terbaik. Setelah hampir setahun meriset, Hanung akhirnya mendatangi sebuah tempat perajin gitar di Bandung.

“Tempat pengrajin gitar itu sangat sederhana dan pengerjaannya dilakukan secara tradisional. Lalu saya memaparkan spesifikasi gitar seperti apa yang saya inginkan,” kenang Hanung lagi.

Pada 2003, ia mulai membuat rencana bisnis. Tapoi modal tak ada. Kembali ia membujuk orang tuanya. Akhirnya, orang tuanya memberinya uang Rp 7 juta. Berbekal uang itu, Hanung menyewa sebuah rumah kecil di kawasan jalan Suci, Bandung.

Workshop-nya kecil, lantai atasnya disewakannya lagi untuk kos-kosan. Ia memiliki tiga orang pengrajin. Di masa-masa awal usahanya, ia hanya mendapat pesanan satu gitar per bulan.

Lalu karyanya dipasarkan melalui internet, baik melalui website ataupun komunitas-komunitas musik. Awal 2005, Hanung mendapat e-mail dari calon pembeli dari luar negeri.

Salah seorang pembeli dari Belanda serius. Ia diminta dibuatkan gitar dengan spesifik tertentu. Hanung membuatnya sesuai dengan permintaan dan mengirimkan fotonya. Ternyata mereka suka dan minta dikirimi sampel aslinya ke Belanda.

“Waktu itu saya tak tahu kredibelitas pembeli dari Belanda itu. Bisa saja ia tertipu. Namun saya nekat saja mengirimnya dengan paket kiriman luar negeri. Ngirimnya saja mulanya tak mengerti,” kenangnya lagi.

Namun 40 hari kemudian perusahaan Belanda itu kembali mengirim e-mail. Ia menyatakan sangat senang dengan sampel gitar yang dikirim dan ingin menjajaki kerja sama lebih jauh.

“Ketika ia datang ke pabrik saya, terkejut melihat tempat saya yang kecil,” kata Hanung.

Namun pertemuan ternyata berhasil mencapai kesepakatan akhir. Perusahaan dari Belanda melakukan pemesanan pertama 250 gitar. Itulah order besar pertama yang di peroleh Stranough.

Dari sana namanya meroket, hingga kini.

Pentingnya Konsep dan Inovasi

Seseorang menempuh sekolah untuk meraih sukses. Namun bukan berarti orang tidak sekolah tidak bisa sukses. “Apalagi jika orang-orang seperti Anda ini, mahasiswa, mencari ilmu sampai ke perguruan tinggi, masa tidak bisa sukses? Orang yang tidak sekolah saja bisa sukses, masa Anda tidak?” tanya Perry Tristianto dalam seminar sehari bertajuk ‘Berinovasi dengan Kewirausahaan melalui Kreatifitas untuk Mebangun Bangsa’ di gedung Serbaguna kampus Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung, Kamis (18/9). Seminar itu berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 17.00 Wib, digagas oleh keluarga Mahasiswa Katolik Itenas.

Perry menekankan kalau hendak menggeluti usaha yang penting bagaimana dijalankan dengan enjoy. “Selama Anda enjoy menggeluti usaha, tak akan terasa menjadi beban. Terasa main-main, tapi bisa menghasilkan uang,” demikian Perry Tristianto.

Dalam seminar itu Perry disandingkan dengan dan owner brand kaos C59, Marius Widyarto, sesinya usai makan siang. Keduanya bergantian memberikan pembekalan entrepreneur, dan menjawab pertanyaan mahasiswa secara bergantian pula.

Perry Tristianto menekankan, bagaimana membuat kreatifitas atau inovasi. Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa bertanya kepada Perry Tristianto tentang pemilikan usahanya yang banyak, baik itu usaha kuliner maupun factory outlet (FO).

“Kenapa tidak bagi-bagi dengan orang lain, agar jumlah pengusaha di Indonesia semakin banyak? Bukankah lebih banyak pengusaha akan semakin baik perekonomian sebuah negara?” tanya mahasiswa tersebut.

Perry menjawab demikian, hampir semua usaha yang dimilikinya melibatkan tenant. “Saya cuma memarketingkan orang. Usaha saya dibangun dari usaha-usaha orang lain juga. Di Floating Market Lembang, misalnya, saya hanya menyediakan tempat dan konsepnya. Selebihnya orang-orang yang berdagang disana orang lain yang kerjasama dengan saya, hanya saja mereka berjualan menyesuaikan dengan konsep yang saya buat, yaitu pasar teerapung,” tutur Perry.

Perry juga memberi contoh De Ranch yang berkonsep wisata cowboy. Ia menjelaskan, ia hanya menyediakan tempat dengan konsep. Sementara kuda-kuda yang ada didalamnya adalah milik warga Lembang yang dulu menyewakan jasa kudanya di jalanan. “Saya hanya memarketingkan orang,” jelas Perry.