Job Creators Terjebak Hanya Kepada Bisnis Life Style

Menyambut hari hari Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang, Talk Show ‘Gebyar Marketing PR FM’, Rabu (24/10) topiknya dipilih dengan thema ‘Pemuda Kreatif di Bandung’. Diundang malam itu tamu dari Maicih, Dimas Ginanjar Merdeka dan Rendy Agung , owner Sumo Ramen Bar (SRM). Mereka dua pemudah asal Bandung yang karya-karya bisnisnya diterima dan sukses oleh masayarakat.

SRM yang bermula berlokasi di Jl. Tubagus Ismail Raya 22 Bandung, kini dalam perkembangannya sudah banyak melahirkan banyak cabang. “Saya dari kecil tumbuh di pasar bersama orang tua, karena mereka berjualan kue disana. Dari sana saya banyak belajar tentang usaha. Dan saya punya feeling, bakal sukses kalau membuka usaha sendiri,” tutur Rendy yang kini juga masih karyawan disebuah usaha dengan menjadi chief. SRM merupakan mie tradisional Jepang versi Indonesia.

Sementara Maicih, sebuah merek makanan ringan yang booming di Kota Bandung, pada akhirnya tak hanya sukses di Bandung atau Indoensia, tapi sudah menjarah pasar luar negeri. Padahal produknya ‘hanya’ aneka keripik (pedas). “Landasan kerja kami optimis dan tidak puas hanya ada di dalam negeri,” tutur Dimas.
Baik Rendy dan Dimas sama-sama merintis dari bawah, dengan modal hanya puluhan juta saja. Namun tekadnya yang tak pernah padam dan terus berusaha menciptakan inovasi membuat mereka sukses. “Saat pertama membuat kripik pedas, saya berpikir meningkatkan citra kripik singkong. Saya sendiri memang suka kripik singkok. Inovasinya adalah saya membuat kripik itu sepedas mungkin,” tutur Dimas.

Sekarang pun usai sukses, Dimas masih berusaha membuat inovasi. Ia kini membuat kripik Maicih yang tak pedas. Ketika ditanya, apakah produk barunya ini tak ‘merusak’ brand Maicih yang selama ini dikenal kripik pedas? Dijawab oleh Dimas dengan mantap, “Saya yakin tidak.” Nampaknya disanalah keberanian Dimas.

Demikian pula apa yang dilakukan oleh Rendy. Ia membuat ramen berangkat dari pengamatannya bahwa orang Indonesia suka mie. Hanya saja inovasinya mencampur dengan telor sehingga rasanya terasa beda dan lebih nikmat. Targetnya pun tak muluk, yakni mahasiswa, dan otomatis harga harus terjangkau oleh mereka. Ternyata usahanya sukses. “Sebenarnya apa yang saya jual sudah dalam versi Indonesia, seperti kare, misalnya,” tutur Rendy.
Melihat kesuksesan dua anak muda Bandung ini, Perry Tristianto dan Popy Rufaidah sepakat mengatakan dalam talk show malam itu, keberanian mencoba dan usaha yang tak kenal lelah dan terus fokus adalah kunci sukses mereka. “Yang juga tak bisa diremehkan adalah faktor moment. Waktu Maicih dipromosi di twiter, saat itu jejaring sosial itu baru dikenal masyarakat. Sehingga terdengar unik ketika dipromosikan. Tapi kalau sekarang promosi produk melalui twiter, sudah hal yang biasa saja. Disamping itu, keberanian Rendy membuat ramen dengan kombinasi telur itu ide smart, rasanya sangat khas,” tutur Perry.

Sementara Popy Rufaidah mengatakan, banyak pengusaha yang terlalu berorientasi kepada produk. Padahal dalam membangun produk, diluar produk ada faktor lain, misalnya marketing, promosi, dan yang dilakukan oleh Rendy dan Dimas merupakan kepintaran tersendiri yang tak hanya fokus pada produk. “Mereka adalah job creators yang hebat. Namun yang saya sayangkan anak-anak muda sekarang sebagai job creators lebih banyak terjebak pada bisnis life style. Padahal banyak potensi bisnis yang lain,” tutur Popy Rufaidah

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *