Pentingnya Konsep dan Inovasi

Seseorang menempuh sekolah untuk meraih sukses. Namun bukan berarti orang tidak sekolah tidak bisa sukses. “Apalagi jika orang-orang seperti Anda ini, mahasiswa, mencari ilmu sampai ke perguruan tinggi, masa tidak bisa sukses? Orang yang tidak sekolah saja bisa sukses, masa Anda tidak?” tanya Perry Tristianto dalam seminar sehari bertajuk ‘Berinovasi dengan Kewirausahaan melalui Kreatifitas untuk Mebangun Bangsa’ di gedung Serbaguna kampus Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung, Kamis (18/9). Seminar itu berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 17.00 Wib, digagas oleh keluarga Mahasiswa Katolik Itenas.

Perry menekankan kalau hendak menggeluti usaha yang penting bagaimana dijalankan dengan enjoy. “Selama Anda enjoy menggeluti usaha, tak akan terasa menjadi beban. Terasa main-main, tapi bisa menghasilkan uang,” demikian Perry Tristianto.

Dalam seminar itu Perry disandingkan dengan dan owner brand kaos C59, Marius Widyarto, sesinya usai makan siang. Keduanya bergantian memberikan pembekalan entrepreneur, dan menjawab pertanyaan mahasiswa secara bergantian pula.

Perry Tristianto menekankan, bagaimana membuat kreatifitas atau inovasi. Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa bertanya kepada Perry Tristianto tentang pemilikan usahanya yang banyak, baik itu usaha kuliner maupun factory outlet (FO).

“Kenapa tidak bagi-bagi dengan orang lain, agar jumlah pengusaha di Indonesia semakin banyak? Bukankah lebih banyak pengusaha akan semakin baik perekonomian sebuah negara?” tanya mahasiswa tersebut.

Perry menjawab demikian, hampir semua usaha yang dimilikinya melibatkan tenant. “Saya cuma memarketingkan orang. Usaha saya dibangun dari usaha-usaha orang lain juga. Di Floating Market Lembang, misalnya, saya hanya menyediakan tempat dan konsepnya. Selebihnya orang-orang yang berdagang disana orang lain yang kerjasama dengan saya, hanya saja mereka berjualan menyesuaikan dengan konsep yang saya buat, yaitu pasar teerapung,” tutur Perry.

Perry juga memberi contoh De Ranch yang berkonsep wisata cowboy. Ia menjelaskan, ia hanya menyediakan tempat dengan konsep. Sementara kuda-kuda yang ada didalamnya adalah milik warga Lembang yang dulu menyewakan jasa kudanya di jalanan. “Saya hanya memarketingkan orang,” jelas Perry.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *