Posts

Peluang Bisnis Jasa Perencanaan Keuangan

Sekarang ini penawaran dari asuransi begitu gencar. Namun orang sulit membedakan mana asuransi yang tepat untuk dipilihnya. Karena orang yang menawarkan asuransi juga bertindak seperti konsultan, dengan mengagung-agungkan produknya dan menjelek-jelekan produk suransi lain. Di tengah kondisi seperti ini diperlukan jasa Independent Financial Planner bagi masyarakat, khususnya orang yang ingin mengambil produk asuransi, sehingga mereka mengambil keputusan yang tepat hendak memutuskan mengambil asuransi yang mana.

Hal itu diutarakan oleh Perry Tristianto dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (20/11) yang mendatangkan nara sumber dari Primoney Solutions,  sebuah perusahaan jasa Independent Financial Planner untuk Personal dan Business, di Bandung.

Malam itu hadir  Pimpim Primaningsih Ardiwinata SE, RFA (Managing Director dari C.V. Primoney Solutions, Financial Planner Bandung), dan Hengky Kusuma Jaya SS (Executive Director CV Primoney Solutions).

Namun, lanjut Perry Tristianto, masalahnya selama ini image konsultan identik dengan bayaran mahal.  Sehingga masyarakat  tak tertarik untuk meminta bantuan jasa konsultan.  Dan konsultan sendiri memang serba sulit untuk menentukan harga. “Kalau mematok harga tinggi, sepi order. Tapi kalau murah, disebut murahan. Karena itu perlu taktik untuk packaging-nya misalnya, kalau cuma dikenakan bayaran Rp. 1 juta, bahasanya uang transport,” jelas Perry.

Lahan bisnis jasa ini menurut Perry merupakan peluang yang bagus. Tak hanya kalangan yang memang punya problem keuangan yang bisa menjadi klien, tapi bisa juga membidik kalangan yang hendak pensiun. “Mereka perlu tahu bagaimana mengelola uangnya setelah tidak lagi bekerja dan tidak lagi menerima gaji tiap bulan, mereka perlu pembekalan. Mereka ini tak bermasalah keuangannya, sehat, yang diperlukan vitamin,” jelas Perry.

Perry juga menunjuk terhadap pemakaian kartu kredit di Indonesia, yang menurutnya sudah salah kaprah. “Kalau di luar negeri, kartu kredit ditujukan untuk memudahkan transaksi. Tapi di Indonesia kartu kredit bisa dijadikan alat investasi. Tidak salah juga, asal disiplin dalam membayar sebelum jatuh tempo. Tapi bagaimana pun itu memerlukan pembekalan, agar tak sampai terlilit hutang oleh kartu kredit,” jelas Perry.

Perry Tristianto

1000 Mahasiswa Bandung Ikut Workshop Wirausaha Muda Mandiri 2012

Di Trans Hotel Bandung yang baru beberapa bulan lalu diresmikan, Bank Mandiri menggelar ‘Workshop Wirausaha Muda Mandiri 2012’, Kamis (11/10)’. Mengambil tempat di Trans Convention Centre (TCC) yang megah, sekitar 1000 mahasiswa dari 26 perguruan tinggi di Bandung menghadiri workshop tersebut. Acara serius tapi tak kaku.

Selain di Bandung event ini juga berlangsung di Surabaya, Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Makassar dengan total peserta mencapai sekitar 3.500 mahasiswa. Kegiatan ini merupakan salah satu komitmen dari Bank Mandiri untuk mengembangkan kewirausahaan dan pendidikan di Indonesia.

Budi G Sadikin, Direktur Mikro dan Retail Banking Mandiri mengatakan, Bank Mandiri ingin memacu semangat kaum muda guna menciptakan inovasi melalui workshop dan berbagi ilmu serta pengalaman kegiatan Mandiri Edukasi. “Kami memiliki komitmen mengembangkan pendidikan dan kewirausahaan di Indonesia,” tegas Budi G Sadikin.

Bahkan menurut Budi, Bank Mandiri juga memberi bantuan buku perpustakaan di sekolah dasar dan lanjutan senilai total Rp990 juta serta beasiswa Mandiri Prestasi sebesar Rp12,4 miliar bagi 260 mahasiswa dari 13 perguruan tinggi.

Lebih lanjut Budi mengatakan, Bank Mandiri membuka pendaftaran program penghargaan ‘Wirausaha Muda Mandiri 2012’ dan program ‘Mandiri Young Technopreneur 2012’ secara online sejak Juli 2012 lalu, “Kegiatan ini diselenggarakan dengan menggunakan dana anggaran program Bina Lingkungan Mandiri. Sampai bulan September, kegiatan menelan anggaran Rp 57 miliar,” tandas Budi.

Hadir para pembicara dan motivator Bandung yang sudah menasional, Perry Tristianto dari The Big Price Cut Group, yang seperti biasanya presentasenya disampaikan secara segar, lucu tapi penuh makna. Dalam kesempatan itu, dalam sesi tanya jawab dengan Perry, mahasiswa dengan semangat menanyakan berbagai kiat sukses ‘RaJa FO’ ini.

Menurut Perry, dalam membangun usaha yang harus jelas adalah target market. Dan usaha kuliner serta FO yang digelutinya ini tak bisa lepas dari gaya hidup masa kini. “Buat saya targetnya wisatawan yang ke Bandung. Sementara target kepada orang Bandung sendiri adalah gaya hidupnya. Kini gaya hidup sudah berkembang jauh. Contohnya, kalau dulu puasa, selalu buka di rumah, kini ada trend buka bersama diluar, baik dengan teman maupun dengan keluarga,” tanfas Perry.

Lebih lanjut Perry mengatakan, kalau membuat usaha jangan membayangkan untung saat BEP. Tapi bayangkan kalau rugi. Serta jangan kecil hati jika mulai dari kecil, karena pengusaha sukses yang sekarang namanya berkibar, dulunya rata-rata dari kecil usahanya.

Dalam acara itu hadir juga hadir motivator nasional, Rene Suhardono. Turut serta pula pemenang program’ Wirausaha Muda Mandiri’ dan ‘Young Technopreneur 2011’. Sementara acara hiburan sebagai penutuo, yaitu penampilan musik dari Cokelat. Cocok dengan peserta workshop yang hampir semuanya anak muda.