Posts

Bagaimana Promo Produk Kecantikan Yang Tepat?

Dalam pemasaran atau promosi produk kosmetika membutuhkan contoh atau bukti yang real. Karena itu, jika hendak memasarkan atau mempromosikan produk kecantikan sebaiknya diiringi dengan hal yang relevan. Demikian Perry Tristianto dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (9/7) yang mendatangkan nara sumber Rustan Tarliana, owner CV Green Herbarus, produk kecantikan yang begerak di bidang ekstrak bahan alami herbal tradisional. Read more

Jannaty Menerapkan Konsep Pemasaran 4 C

jannatyProduk busana moslem Jannaty sudah dipercaya. Lantaran itu agen atau reseller-nya langsung membayar cash dalam transasi. Artinya marketing yang digarap Jannaty sudah bagus. Demikian Perry Tristianto dalam Talkshow Gebyar Marketing Radio PRFM, Rabu (18/6). Dalam talk show tersebut mendatangkan nara sumber Drg Deden Edi Soetrisna, MM, owner produk Jannaty.
Menurut Deden, sebenarnya ketika ia memulai bisnis ini awal tahun 1990-an yang memulai adalah istrinya, tapi karena kemudian dalam perkembangannya ada titik cerah dan peluangnya bagus, ia pun mendukung bisnis istrinya.
“Saya sebenarnya waktu itu sudah duduk sebagai direktur sebuah BUMN, tapi kemudian saya tinggalkan. Kalau profesi dokter gigi memang sudah lama sudah tidak saya tekuni, karena saya lebih cocok berbisnis,” jelas Deden. Read more

Francisco Mengutamakan Kepuasan Pelayanan

Keuletan dan kemauan keras diperlukan dalam menggeluti bisnis. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Francisco, anak muda asal Bandung yang menjadi nara sumber dalam acara talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (30/10).

“Dari cerita perjuangan hidupnya memang cukup pahit dan keras, saya rasa itu menjadi modal kearah sukses,” komentar Perry Tristianto setelah mendengar kisah kegigihan Fransisco.

Usai lulus SMU di Bandung, Frans memperdalam ilmu di kota Seatlle, Amerika Serikat. Sebuah kota yang pernah dijadikan setting film ciamik, ‘Sleepless in Seattle’ (1993) yang dibintangi oleh Tom Hanks dan Meg Ryan.

Namu kota Seattle yang juga berjuluk ‘kota hujan’ dan sangat indah itu, ternyata bagi Francisco sangat keras. Disamping study, ia bekerja, mulai dari kerja sebagai Satpam hingga menjadi sopir truk. “Saya kerja sebagai Satpam mulai subuh sampai tengah malam,” kenang Frans, panggilan anak muda ini.

Dikenal sebagai kota hujan juga dikenal dengan kota jam. Sementara orang tua Frans selama ini berbisnis jam di BIP Bandung, nama tokonya ‘San Fransisco’. “Saya di Seattle ambil manajemen dan finance,” jelas Frans.

Maka tidak mengherankan jika ia kembali ke tanah air, di Bandung ia menggeluti bisnis jam. Dialah pemilik toko ‘Gudang Jam’ yang ada di jalan Ternate Bandung. “Sejak sekolah SD saya mengerjakan PR di toko jam orang. Waktu SD saya sudah bisa memasang bateri jam. Jadi saya tahu betul seluk beluk dengan bisnis jam,” jelas Frans.

Dan yang paling diingatnya dari ‘pelajaran’ orang tuanya berdagang adalah bagaimana memuaskan pembeli, sepuas-puasanya, dan tidak mengambil untung terlalu besar. “Pelayanan yang memuaskan terhadap pelanggan membuat pembeli setia dan bertambah dengan mengajak teman atau saudaranya berbelanja ke toko kami. Ada pelanggan kami sejak masih kuliah sampai berkeluarga dan punya anak, “ jelas Frans.

Hal itu diterapkan oleh Frans dengan ‘Gudang Jam’-nya. “Pelayanan yang memuaskan itu yang saya coba terapkan. Bahkan saya pernah mengantar jam yang dibeli sampai ke Subang. Pembeli senang dengan pelayanan itu dan beberapa waktu kemudian balik lagi ke toko kami membawa temannya belanja,” kata Frans.

Selain itu, menurut Frans, kejujuran dari penjual sangat diperlukan. “ Kalau ada orang yang mengira baterei jamnya sudah mati dan mau diganti, namun ketika kita periksa ternyata batarei ini masih bagus, maka kami akan mengatakan dengan jujur, bahwa batereinya masih bagus. Dengan demikian ia percaya kepada kami, dan akan kembali kepada kami suatu saat,” jelas Frans.

Wejangan Program Move Dari Perry Tristianto

perry_tristianto_telkom

perry_tristianto_telkom

Dalam membangun usaha, sebaiknya perlahan-lahan. Dari kecil, lama-lama menjadi besar. Dan sebaiknya untuk menciptakan roh usaha itu sendiri, sang pemilik harus menongkrongi sendiri usahanya, sambil melihat perkembangan usaha dan mencari masukan langsung dari konsumen yang datang. Demikian Perry Tristianto dalam ceramahnya di acara Rapat Pimpinan Yayasan Pendidikan Telkom (YPT) 2013, Kamis (25/4) di Aula Telkom Creative Industries School di Dayeukolot, Bandung.

Acara yang berlangsung dua hari (25 dan 26/4) ini mengambil thema ‘Kolaborasi Pendidikan dan Bisnis’, diselengaarakan oleh Yayasan Pendidikan Telkom dan Sandhykara Putra Telkom, dan mengambil tempat di gedung Telkom Creative Industries School. Pada hari pertama, malamnya ditutup dengan acara ‘Malam Bertabur Puisi’ bersama penyair kondang Taufik Ismail.

Berkenaan dengan peluncuran program MOVE ( modal ventura) yang diluncurkan dalam acara tersebut, lebih lanjut Perry Tristianto menegaskan, hendaknya dalam memulai usaha jangan buru-buru membayangkan untung. “Tapi bayangkan kalau rugi, kalau untung, sih, urusan Yang Di Atas. Harus dari kecil, coba lihat para pengusaha sukses semua memulai dari kecil,” jelas Perry.

Perry juga menggarisbawahi pentingnya konsep dalam membangun usaha. “Semua harus ada konsepnya. Kalau tak ada konsep, tidak akan jelas target market-nya. Karena itu, tentukan konsep, lalu ciptakan brand. Brand sangat penting, karena dari sanalah konsumen suka bahkan fanatik,” tegas Perry.

Lebih lanjut Perry memberi contoh saat membangun brand kuliner Tahu Lembang miliknya. Menurutnya, jauh sebelum ada Tahu Lembang , sudah ada Tahu Tauhid yang sudah terkenal di Lembang. “Saya sempat berpikir bagaimana melawan Tahu Tauhid? Kalau saya buat Tahu Perry, pasti akan tenggelam di bawa brand Tahu Tauhid. Tapi kalau saya buat brand Tahu Lembang, orang akan berpikir, oh, ini tahu yang terkenal di Lembang itu…….” kata Perry yang disambut tawa peserta YPT.

Program MOVE adalah program tahunan YPT yang bertujuan menciptakan 1000 pengusaha muda di lingkungan pendidikan Telkom. Untuk tahun ini YPT mengucurkan dana sebesar Rp.1,3 miliar. Sementara tahun lalu YPT mengucurkan dana sebesar Rp.300. Dan tahun 2013 ini meningkatkan dana bantuannya menjadi sebesar Rp.1,3 miliar, naik empat kali lipat.

perry_tristianto_telkom3Dalam jumpa pers di area kampus Telkom, Ketua YPT Joni Girsang, Kamis (25/4), mengatakan, “Kami tidak hanya menginginkan mahasiswa meningkat skill dan pengetahuannya saja, tapi juga memiliki jiwa entrepreuneuship. Dengan demkian mehasiwa tidak hanya menjadi pencari lowongan kerja, tapi menciptakan tenaga kerja dari usaha yang dibangunnya.

Sukses MOVE tahun lalu, diantaranya ada yang memilki omzet hingga Rp.40 juta perbulan. Juga ada yang telah membuka cabang di luar kota Bandung, bahkan ada mampu yang ekspor ke luar negeri.

Pengalaman Ermaya Geluti Sembako Selama 50 Tahun

toko-sembakoSeorang pengusaha atau entrepreneur harus memiliki kejelian melihat peluang. Meski kadang berbau spekulasi namun disana diuji feeling pengusaha dalam mempelajari pasar. Demikian H. Ermaya Fachrudin Santosa, owner CV Panorama dalam Gebyar Marketing PRFM, yang seperti biasanya menghadirkan host pakar marketing UNPAD, Popy Rufaidah dan pengusaha kuliner, Perry Tristianto.

CV Panorama merupakan distributor sembako sukses, dan bisa disebut sangat berpegalaman. Ia memulai bisnis sembako sejak zaman Bulog. Sembilan Bahan Pokok (Sembako) sendiri memang merupakan kebutuhan penting manusia. Karena itu bisnis sembako tak pernah ada habisnya. Karena manusia selalu membutuhkannya setiap saat. CV Panorama memasok kebutuhan beras dan gula untuk hampir semua supermarket yang ada di Jawa Barat, mulai dari Giant, Lottemart, Yogya Group, Carrefour, hingga SB Mart.

Menurut Ermaya perjuangan sebagai pengusaha sampai saat ini dirintis lebih dari 50 tahun. Ia memulai ikut orang tuanya dalam menggeluti bisnis perpadian, mulai dari beras tumbuk di daerah Subang.

“Saya mulai ikut bisnis perpadian dengan orang tua sejak tahun 1946. Cita-cita saya dulu memang menjadi ekspor-impor. Sekarang alhamdulillah bisa menjadi pemasok beberapa supermarket. Itu melalui jalan yang cukup panjang,” tutur Ermaya.

Menurut Perry Tristianto, memang umumnya pemasok sembako kebanyakan CV. Dan apa yang dilakukan Ermaya menurut Perry sangat smart, disamping ia bisnis dengan memasok ke supermarket, juga memasok ke pasar tradisional alias pedagang lower. Menurut Perry ini merupakan keseimbangan, karena kalau ke supermarket yang didapat bon, namun ke pasar tradisonal langsung dibayar.

Ermaya memang berprinsip, jangan hanya berdagang dengan pedagang kelas atas. tapi juga pedagang kecil seperti pedagang tradisional. “Itu ada unsur sosialnya, karena itu saya selalu belanja dari tangan pertama, agar nanti kalau dijual kembali tak mahal,” jelas Ermaya.

Popy Rufaidah mengapresiasi pandangan Ermaya ini. “Apa yang dilakukan oleh Ermaya merupakan bisnis jasa perdagangan yang mengandalkan faktor place. Dan ia orang yang banyak ilmu dari pengalamannya puluhan tahun,” tutur Popy.

Sebagai inspirasi inilah kiat menjadi wirausaha sembako:

  • Modal yang paling utama adalah kenal baik dengan pedagang di pasar.

  • Lebarkan rekanan dan mulai berkenalan dengan sales-sales distributor yang sering berkunjung di pasar.

  • Tak punya lokasi, cukup di rumah (lebih irit tanpa harus sewa tempat).

  • Stok awal yang wajib dibeli : beras, gula, tepung terigu, gula jawa, telor, mie instan dll.

  • Stok tidak perlu banyak-banyak saat awal memulai usaha, sesuaikan dengan dana modal awal.

  • Harus berani promosi ke tetangga di seputar rumah tempar usaha.

  • Beri nilai lebih, aku memberi nilai lebih dengan cara layanan antar, baik barang ataupun uang kembalian.

  • Ambil laba jangan terlalu banyak, jangan lebih dari Rp 1000,- (seribu rupiah) per item, pakai prinsip kuantitas penjualan, sedikit laba tapi tingkat penjualan tinggi.

  • Usahakan harga jual bisa sama atau lebih murah dari warung di seputaran tempar usaha, lebih baik lagi jika lebih murah atau sama dengan harga di pasar dekat rumah.

  • Hindari beli barang dari penjual pengecer, usahakan beli dari gudang langsung.

  • Beli sembako gula dan tepung dalam bentuk karungan, karena lebih murah dan ditakar sendiri di rumah.

  • Hindari beli sembako yang sudah ditakar atau dikemas.

  • Jangan malas untuk survey harga terbaru, karena sembako harganya variatif setiap harinya.