Posts

Jannaty Menerapkan Konsep Pemasaran 4 C

jannatyProduk busana moslem Jannaty sudah dipercaya. Lantaran itu agen atau reseller-nya langsung membayar cash dalam transasi. Artinya marketing yang digarap Jannaty sudah bagus. Demikian Perry Tristianto dalam Talkshow Gebyar Marketing Radio PRFM, Rabu (18/6). Dalam talk show tersebut mendatangkan nara sumber Drg Deden Edi Soetrisna, MM, owner produk Jannaty.
Menurut Deden, sebenarnya ketika ia memulai bisnis ini awal tahun 1990-an yang memulai adalah istrinya, tapi karena kemudian dalam perkembangannya ada titik cerah dan peluangnya bagus, ia pun mendukung bisnis istrinya.
“Saya sebenarnya waktu itu sudah duduk sebagai direktur sebuah BUMN, tapi kemudian saya tinggalkan. Kalau profesi dokter gigi memang sudah lama sudah tidak saya tekuni, karena saya lebih cocok berbisnis,” jelas Deden. Read more

Pusat Produksi Ina Cookies Bisa Dijadikan Tujuan Wisata

ina-cookisInovasi yang dibuat oleh Ina Cookies nyeleneh, dan karena dalam penjualannya tak memiliki saingan di retail, maka agen-agennya yang tersebar hingga ke Papua tak memiliki saingan. Ini yang membuat agennya semangat berjulan, sehingga Ina Cookies memiliki target pasar jelas. Dan gathering yang sering digelar oleh Ina Cookies terhadap para agennya membuat semakin jelas target pasarnya.

Demikian kata Perry Tristianto dalam acara talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (24/4) yang menghadirkan nara sumber Rr. Ina Wiyandini, owner Ina Cookies. “Sepertinya Ina Cookies memang tanpa iklan, namun karena ia memiliki agen-agen yang luas, maka sama saja dengan beriklan, karena agennya gencar mengiklankan. Jadi marketingnya dari mulut ke mulut,” tutur Perry.

Popy Rufaidah, pakar marketing UNPAD mengatakan, salah satu kecerdikan Ina Cookies adalah dengan membuat banyak rasa sampai sebanyak 135 item. “Itu membuat banyak pilihan, apalagi harganya relatif murah Rp.5.000,” jelas Popy.

Ina Cookies dirintis sejak tahun 1990-an dari kota Cirebon. Namun mulai booming dan diberi nama Ina Cookies saat krismon pada tahun 1998. “Kunci suksesnya inovasi. Itu saya rasa yang membuat produk kue saya diterima. Kalau biasa-biasa saja seperti yang sudah ada, mungkin orang tak menerima, saya memang ogah meniru,” tutur Ina. Salah satu ide unik lainnya, ia membuat sebuah produk cookies unggulan yang diberi nama Putri Rosella, yang idenya berawal dari kumpulan bunga Rosella atau teh merah yang tidak digunakan, lalu Ina berinovasi untuk dijadikan sebagai rasa salah satu cookiesnya.

Kuenya yang kini memilki rasa 135 macam itu merupakan variasi produk cookies yang terbuat dari bahan-bahan yang jarang digunakan oleh pelaku bisnis kue, seperti tahu, tempe, tape, oncom, tahu, jengkol, dan lainnya. Herannya di tangan Ina bahan-bahan itu menjadi kue yang lezat, dan belum pernah ada. “Saya mau brand yang saya buat karena kreasi sendiri, bukan ide yang sudah pernah dibuat,” ungkap ibu tiga anak yang mengaku pernah berdagang macam-macam barang, mulai jahe sampai mobil. “Saya sebelumnya pernah berbisnis jahe gajah diekspor ke Jepang sekitar tahun 1992-an, namun kemudian hancur karena Jepang kemudian lebih memilih membeli jahe dari Thailand,” kenang Ina.

Pusat produksinya Ina Cookies ada di Bojong Koneng Bandung. Disana banyak family-nya yang juga bergelut di bisnis kue. Karena itu Perry mengusulkan desanya itu dinamai dan di setting menjadi ‘Desa Kue’. “Saya yakin itu ide bagus, dan bis direalisasikan, menjadi tujuan wisata yang menarik. Tak perlu harus desa yang mewah, justru yang kelihatan kampung akan semakin menarik,” tutur Perry.

Wejangan Program Move Dari Perry Tristianto

perry_tristianto_telkom

perry_tristianto_telkom

Dalam membangun usaha, sebaiknya perlahan-lahan. Dari kecil, lama-lama menjadi besar. Dan sebaiknya untuk menciptakan roh usaha itu sendiri, sang pemilik harus menongkrongi sendiri usahanya, sambil melihat perkembangan usaha dan mencari masukan langsung dari konsumen yang datang. Demikian Perry Tristianto dalam ceramahnya di acara Rapat Pimpinan Yayasan Pendidikan Telkom (YPT) 2013, Kamis (25/4) di Aula Telkom Creative Industries School di Dayeukolot, Bandung.

Acara yang berlangsung dua hari (25 dan 26/4) ini mengambil thema ‘Kolaborasi Pendidikan dan Bisnis’, diselengaarakan oleh Yayasan Pendidikan Telkom dan Sandhykara Putra Telkom, dan mengambil tempat di gedung Telkom Creative Industries School. Pada hari pertama, malamnya ditutup dengan acara ‘Malam Bertabur Puisi’ bersama penyair kondang Taufik Ismail.

Berkenaan dengan peluncuran program MOVE ( modal ventura) yang diluncurkan dalam acara tersebut, lebih lanjut Perry Tristianto menegaskan, hendaknya dalam memulai usaha jangan buru-buru membayangkan untung. “Tapi bayangkan kalau rugi, kalau untung, sih, urusan Yang Di Atas. Harus dari kecil, coba lihat para pengusaha sukses semua memulai dari kecil,” jelas Perry.

Perry juga menggarisbawahi pentingnya konsep dalam membangun usaha. “Semua harus ada konsepnya. Kalau tak ada konsep, tidak akan jelas target market-nya. Karena itu, tentukan konsep, lalu ciptakan brand. Brand sangat penting, karena dari sanalah konsumen suka bahkan fanatik,” tegas Perry.

Lebih lanjut Perry memberi contoh saat membangun brand kuliner Tahu Lembang miliknya. Menurutnya, jauh sebelum ada Tahu Lembang , sudah ada Tahu Tauhid yang sudah terkenal di Lembang. “Saya sempat berpikir bagaimana melawan Tahu Tauhid? Kalau saya buat Tahu Perry, pasti akan tenggelam di bawa brand Tahu Tauhid. Tapi kalau saya buat brand Tahu Lembang, orang akan berpikir, oh, ini tahu yang terkenal di Lembang itu…….” kata Perry yang disambut tawa peserta YPT.

Program MOVE adalah program tahunan YPT yang bertujuan menciptakan 1000 pengusaha muda di lingkungan pendidikan Telkom. Untuk tahun ini YPT mengucurkan dana sebesar Rp.1,3 miliar. Sementara tahun lalu YPT mengucurkan dana sebesar Rp.300. Dan tahun 2013 ini meningkatkan dana bantuannya menjadi sebesar Rp.1,3 miliar, naik empat kali lipat.

perry_tristianto_telkom3Dalam jumpa pers di area kampus Telkom, Ketua YPT Joni Girsang, Kamis (25/4), mengatakan, “Kami tidak hanya menginginkan mahasiswa meningkat skill dan pengetahuannya saja, tapi juga memiliki jiwa entrepreuneuship. Dengan demkian mehasiwa tidak hanya menjadi pencari lowongan kerja, tapi menciptakan tenaga kerja dari usaha yang dibangunnya.

Sukses MOVE tahun lalu, diantaranya ada yang memilki omzet hingga Rp.40 juta perbulan. Juga ada yang telah membuka cabang di luar kota Bandung, bahkan ada mampu yang ekspor ke luar negeri.

Busana Moslem Qirani Gabungan Syari’ Dan Trendy

busana_muslimSegala sesuatu yang berbau moslem sekarang ini sedang menjadi gaya hidup, sehingga menjadikan sektor ini menjadi industri dan menjadi peluang bisnis. Dan dalam dunia fashion, busana moslem merupakan salah satu peluang yang menggiurkan. Demikian dalam talk show ‘Gebyar Marketing PRFM’, Rabu (3/4) yang mendatangkan nara sumber dari owner busana moslem Qirani, suami istri Fajar Irawan dan Fajar Irawan.

Qirani sendiri merupakan merek busana moslem modern yang memiliki karakter unik dibandingkan dengan busana wanita pada umumnya. Yaitu tetap menonjolkan nilai-nilai syari’, namun tetap tampil trendy alias tidak ketinggalan zaman.

Berkenaan dengan ini Popy Rufaidah mengatakan, di Indonesia industri busana moslem berkembang pesat karena tak ada pembatasan soal modelnya. Sementera di begara moslem lainnya, busana moslem dibatasi sehingga kalau nampak terlihat terlalu trendy dilarang. Sementara di negara lain yang tak mengekang model busana moslem, hanya ada busana yang mirip busana moslem namun terikat dengan pakem baju kurung, sehingga tak nampak trendy.

“Qirani punya siasat yang smart. Ia menggabungkan antara busana moslem yang syari’ dengan yang trendy. Seperti bank-bank yang menawarkan produk syariah. Padahal sebelumnya sepertinya cuma ada dua pilihan, busana moslem gombrong atau yang trendy, tapi sekali lagi Qirani dengan pintar menggabungkannya, dan pasar menerimanya,” tutur Popy.

Fajar Irawan ,mengomentari apa yang dikatakan oleh Popy dengan mengatakan, “Memang kami tidak membuat busana moslem yang mrecet-mrecet (ketat-Red). Selama ini yang banyak diproduksi adalah busana moslem ketat-ketat. Tapi alhamdulilah ketika kami membuat yang syari’ dan tetap tak meninggalkan sisi trendy-nya bisa diterima pasar, baik oleh anak-anak remaja dan dewasa,” tutur Fajar.

Bahan yang dipilih Qirani umumnya kaos berkualitas, sehingga nyaman dikenakan untuk segala situasi, sesuai bagi mereka yang beraktivitas tinggi. Dan kaos itu disesuaikan dengan iklim di daerah tropis yaitu terbuat dari bahan kantun combed, katun carded dan katun rajut. “Indonesia ‘kan dikenal sebagai negara berkeringat, namun menggunakan busana moslem kami, Insya Allah tak berkeringat,” tutur Devi.

Devi dan Fajar memulai usahanya sejak tahun 2007, dan sebagaimana orang memulai usaha, keduanya harus jungkir balik sebelum sukses. Bahkan ketika pertama menggunakan nama Izzati ternyata sudah dimiliki orang, sehingga mereka harus berurusan dengan pengacara. Maka kemudian diganti menjadi Qirani, yang berarti ‘look at me’. Berasal dari kata ‘kirana’ (bahasa Sansekerta, artinya ‘tetap bercahaya’) dan ‘iqra’ (bahasa Arab, artinya ‘baca’ atau ‘lihat’).

Memasuki tahun ketiga (2011) usahanya yang dimulai dari rumahan itu mulai naik, bahkan punya distributor di luar negeri. Sekarang distributornya sudah ada di seluruh Jawa, Hongkong, Malaysia, dan Singapura. “Alhamdulilah semua itu karena digarap secara serius, mulai pembukuan, keuangan, seolah-olah sudah jadi perusahaan. Bersikap profesional, memisahkan antara uang usaha dengan uang keluarga. Niat kiami semula memang tidak hanya meraih untung tapi membantu orang sekitar. Membuka lapangan pekerjaan. Kerja keras, berdoa,” tutur Devi.

Menurut Fajar, dengan segala apa yang diraihnya sekarang, mimpi-mimpinya telah menjadi kenyataan. Dan ketika ditanya apa mimpi selanjutnya sekarang? Dengan tegas Fajar menjawab, “Mimpi kami sekarang berupa target, yaitu bisa berzakat mencapai Rp.1 miliar.”

Adapun latar belakang Devi sendiri sejak di bangku sekolah sudah rajin berjualan produk kosmetik. Bakat bisnisnya semakin terasah ketika duduk di bangku kuliah. Selepas kuliah, Devi sempat menjadi orang kantoran alias pegawai. Mulai dari pegawai di bagian sales and distribution, finance, hingga quality assurance.

Selama menjadi pegawai, Devi melakukan kerja sambilan dengan menawarkan produk ke teman-teman kantornya, mulai dari peralatan makan hingga jilbab. Dan kerja sambilannya itu omset bisnisnya malah melebihi pendapatannya sebagai pegawai. “Bagaimana kalau saya konsentrasi penuh, pasti lebih tinggi omzetnya,” keang Devi.

Suami – istri ini memiliki latar belakang pendidikan yang tidak ada hubungannya dengan bisnis fashion. Devi study di Manajemen Agribisnis di Fakultas Pertanian, dan Fajar menekuni pendidikan apoteker. “Tapi kerja di apoteker saya merasa kurang nyaman,” tutur Fajar.

Pengalaman Ermaya Geluti Sembako Selama 50 Tahun

toko-sembakoSeorang pengusaha atau entrepreneur harus memiliki kejelian melihat peluang. Meski kadang berbau spekulasi namun disana diuji feeling pengusaha dalam mempelajari pasar. Demikian H. Ermaya Fachrudin Santosa, owner CV Panorama dalam Gebyar Marketing PRFM, yang seperti biasanya menghadirkan host pakar marketing UNPAD, Popy Rufaidah dan pengusaha kuliner, Perry Tristianto.

CV Panorama merupakan distributor sembako sukses, dan bisa disebut sangat berpegalaman. Ia memulai bisnis sembako sejak zaman Bulog. Sembilan Bahan Pokok (Sembako) sendiri memang merupakan kebutuhan penting manusia. Karena itu bisnis sembako tak pernah ada habisnya. Karena manusia selalu membutuhkannya setiap saat. CV Panorama memasok kebutuhan beras dan gula untuk hampir semua supermarket yang ada di Jawa Barat, mulai dari Giant, Lottemart, Yogya Group, Carrefour, hingga SB Mart.

Menurut Ermaya perjuangan sebagai pengusaha sampai saat ini dirintis lebih dari 50 tahun. Ia memulai ikut orang tuanya dalam menggeluti bisnis perpadian, mulai dari beras tumbuk di daerah Subang.

“Saya mulai ikut bisnis perpadian dengan orang tua sejak tahun 1946. Cita-cita saya dulu memang menjadi ekspor-impor. Sekarang alhamdulillah bisa menjadi pemasok beberapa supermarket. Itu melalui jalan yang cukup panjang,” tutur Ermaya.

Menurut Perry Tristianto, memang umumnya pemasok sembako kebanyakan CV. Dan apa yang dilakukan Ermaya menurut Perry sangat smart, disamping ia bisnis dengan memasok ke supermarket, juga memasok ke pasar tradisional alias pedagang lower. Menurut Perry ini merupakan keseimbangan, karena kalau ke supermarket yang didapat bon, namun ke pasar tradisonal langsung dibayar.

Ermaya memang berprinsip, jangan hanya berdagang dengan pedagang kelas atas. tapi juga pedagang kecil seperti pedagang tradisional. “Itu ada unsur sosialnya, karena itu saya selalu belanja dari tangan pertama, agar nanti kalau dijual kembali tak mahal,” jelas Ermaya.

Popy Rufaidah mengapresiasi pandangan Ermaya ini. “Apa yang dilakukan oleh Ermaya merupakan bisnis jasa perdagangan yang mengandalkan faktor place. Dan ia orang yang banyak ilmu dari pengalamannya puluhan tahun,” tutur Popy.

Sebagai inspirasi inilah kiat menjadi wirausaha sembako:

  • Modal yang paling utama adalah kenal baik dengan pedagang di pasar.

  • Lebarkan rekanan dan mulai berkenalan dengan sales-sales distributor yang sering berkunjung di pasar.

  • Tak punya lokasi, cukup di rumah (lebih irit tanpa harus sewa tempat).

  • Stok awal yang wajib dibeli : beras, gula, tepung terigu, gula jawa, telor, mie instan dll.

  • Stok tidak perlu banyak-banyak saat awal memulai usaha, sesuaikan dengan dana modal awal.

  • Harus berani promosi ke tetangga di seputar rumah tempar usaha.

  • Beri nilai lebih, aku memberi nilai lebih dengan cara layanan antar, baik barang ataupun uang kembalian.

  • Ambil laba jangan terlalu banyak, jangan lebih dari Rp 1000,- (seribu rupiah) per item, pakai prinsip kuantitas penjualan, sedikit laba tapi tingkat penjualan tinggi.

  • Usahakan harga jual bisa sama atau lebih murah dari warung di seputaran tempar usaha, lebih baik lagi jika lebih murah atau sama dengan harga di pasar dekat rumah.

  • Hindari beli barang dari penjual pengecer, usahakan beli dari gudang langsung.

  • Beli sembako gula dan tepung dalam bentuk karungan, karena lebih murah dan ditakar sendiri di rumah.

  • Hindari beli sembako yang sudah ditakar atau dikemas.

  • Jangan malas untuk survey harga terbaru, karena sembako harganya variatif setiap harinya.

Badan Promosi Bandung Digalakkan

gedung sateBadan promosi bukan merupakan super body, namun juga harus didukung berbagai pihak terkait. Dan bidang promosi juga harus memikirkan program. Karena dengan program yang direalisasi tersebut, akan memiliki nilai promosi.

Demikian Ketua Badang Promosi Pariwisata Kota Bandung (BP2KB), Nicolas Lumanav, dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (2/1), yang juga mendatangkan tamu lain, Sekretaris Umum Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Jawa Barat, Hendri Hendarta. Dan seperti biasanya acara tersebut dihadiri oleh host tetapnya, Perry Tristianto, praktisi bisnis kuliner dan factory outlet (FO).

Sementara Hendri Hendarta mengatakan, belanja diretail memang bukan tujuan wisatawan, namun pihaknya berusaha men-support tempat-tempat wisata dengan menempatkannya di rest area, misalnya, atau tujuan wisata lainnya. “Kalau wisatawan belanja ke retail memang bukan sebagai tujuan tapi lebih karena kebutuhan,” jelas Hendri.

Menanggapi berbagai pernyataan dari Nicolas atau Hendri, Perry Tristianto mengatakan, yang terpenting bagaimana orang Indonesia bisa tertarik dengan tujuan wisata sendiri, sehingga mereka tercegah untuk bepergian wisata keluar negeri,” jelas Perry.

Di sisi lain, Perry menegaskan, hendaknya badan promosi tidak mengharapkan kucuran dana dari pemerintah, namun mampu mencari dana sendiri dengan cara merangkul pengusaha yang hendak berpromosi. “Karena pemerintah sudah banyak banget urusannya. Kalau mengharap dana dari pemerintah seratus persen, bisa tidak jalan,” tutur Perry.

Di lain pihak, Popy Rufaidah mengatakan, tahun 2013 merupakan tahun kesempatan meningkatkan promosi wisata Indonesia. Menurut Popy, di tahun 2013 sangat prospektif, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi naik 6%, satu persen lebih tinggi dari tahun lalu. “Dunia pariwisata merupakan pro job, karena memberikan peluang kerja,” tegas Popy.

Lebih lanjut Nicolas mengatakan, Bandung sebagai tujuan wisata sudah sejak abad 18. Karena itu, lanjut Nicolas, Bandung khususnya, dan Indonesia pada umumnya sudah memiliki berbagai tradisi yang erat hubungannya dengan wisata. Misalnya, adanya guling di hotel itu hanya ada di hotel-hotel Indonesia. Artinya pelayanan selalu menjadi prioritas orang Indonesia dalam menerima tamu.

Peluang Bisnis Filateli Tetap Marak

Filateli-n3Sebuah hobi kalau ditekuni dengan serius dan jelas mengarahkannya menjadi lahan bisnis akan melahirkan kesuksesan. Namun hal itu tak cukup dengan modal hobi semata-mata, tapi juga harus didukung oleh faktor lain, misalnya, pendidikan. Demikian Perry Tristianto dalam acara Gebyar Markleting PRFM, Rabu (26/12), yang menghadirkan nara sumber Gita Noviandi, owner Gita Stamps Inc, yang bergerak dibidang bisnis filateli.

Perry Tristianto yang malam itu tak ditemani oleh pakar pemasaran Popy Rufaidah karena berhalangan, mengatakan, “Hobi Anda bisa berkembang seperti sekarang ini bukan hanya semata-mata senang atau hobi mengumpulkan perangko, tapi juga diperkuat oleh latarbelakang pendidikan Anda yang pernah Anda kecap di perguruan tinggi di bidang komputer.”

Dalam wawancara itu Gita memang mengaku, kalau dirinya setelah menyelesaikan kuliah di komputer, sama sekali tak pernah bekerja di manapun, kecuali menekuni bisnis filateli. Namun Gita mengaku, sewaktu kuliah itu yang paling bisa dimanfaatkan sekarang adalah mata kuliah marketing. “Ya, mata kuliah marketing itu yang sampai sekarang sangat membantu saya memaksimalkan bisnis ini,” jelas Gita.

Dunia bisnis filateli sekarang ini justru makin merebak disaat tradisi surat-menyurat mulai ditinggalkan. Hanya saja, sekarang perangko yang dicari yang masih baru dan belum dipakai. Sementara dulu adalah perangko yang sudah dipakai, dilem dan dari sana ada historisnya, dan itu membuat selembar perangko makin mahal.

Sejak usianya 10 tahun Gita hobi mengumpulkan benda-benda filateli. Namun waktu itu hanya tertarik dengan gambarnya saja. Pada awalnya dapat gratisan dengan menyurati seluruh kantor pos di seluruh dunia. Juga menghubungi bagian ‘philatelic division’, dan ada respon, lalu minta sample gratisan benda filateli dari negara tersebut. Kemudian berkembang menjadi kolektor benda-benda filateli dari seluruh dunia.

Pada tahun 1995 di Indonesia diadakan Pameran Filateli se Asia Pasifik di Jakarta. Saat itu Gita sebagai panitia. Pameran selama 7 hari yang digelar PT. Pos Indonesia itu mengeluarkan benda filateli yang namanya Souvenir Sheet. Setelah pameran itu berdirilah Gita Stamps Inc. “Saat itu bisnis saya dimulai dari door to door,” kenang Gita.

Pasar Gita Stamps Inc. sekarang umumnya di luar negeri, penjualannya melalui mail order, lelang tertulis, online auction, web shop dan mengikuti bursa serta lelang didalam dan luar negeri.

Namun dalam perkembangannya Gita Stamps tidak hanya menjual benda filateli tetapi merambah ke numismatic (barang berupa mata uang logam yang apabila tidak ada dalam pasaran nilainya akan melonjak naik). Serta menjual dokumen-dokumen kuno, termasuk merchendis.

Indonesia memiliki perangko yang menarik. Salah satu perangko unik Indonesia yang diperebutkan adalah adalah yang berthema Naga Air yang diterbitkan saat memasuki tahun baru Imlek. Perangko itu dalam waktu singkat habis dan kini sulit untuk mendapatkan perangko tersebut di Indonesia, karena dimiliki kolektor perangko dunia.

Ada juga perangko Indonesia yang unik, yang dicetak di atas batik Garut dan kain tenun serta perangko bermotif ‘Gunungan’ yang dicetak di atas kulit saat ini sudah sulit didapat.

Perangko berbahan dasar batik dan kulit yang diluncurkan PT Pos Indonesia mendapatkan penghargaan world record yang diserahkan pada Pameran Filateri Kreatif yang digelar di Gedung Filateli Jakarta beberapa waktu lalu.

Saat pameran di Balai Sidang Jakarta (JCC) tanggal 18-24 Juni 2012 juga memamerkan perangko kuno Hindia Belanda bernilai Rp20 miliar terbitan tahun 1864 yang memiliki cap pos Ngawi Jatim. Namun kini perangko itu juga dimiliki orang asing di luar negeri .

Mobil Listrik Mobil Masa Depan

Dalam Talk Show Gebyar Markreting PR FM, Rabu (12/12) dihadirkan nara sumber Widha Ning Tyas, owner dari CV. Patra Teguh Abadi. Sebuah perusahaan yang memproduksi kendaraan ramah lingkungan dan hemat energy, non emisi, lebih efisien. Dapat mengurangi polusi. Mobil listrik desainnya inovatif, dipakai kendaraan non jalan raya (segmen khusus) atau digunakan di area seperti : hotel & resort, area perkantoran, area industri.

 

Acara dengan host tetap pengusaha Factory Outlet dan Kuliner asal Bandung Perry Tristianto dan Popy Rufaidah, pakar pemasaran dari UNPAD ini disamping membahas produk yang diberi nama Patra Electric Vehicleini, juga sebagai produk masa depan mengantisipasi keberadaan energi minyak mentah bumi yang makin sedikit.

 

“Saya rasa produk demikian merupakan jawaban terehadap masa depan sehubungan dengan semakin terbatasnya cadangan bahan energi minyak bumi,” tutur Perry.

Patra Electric Vehicle sudah dua tahun eksis memproduksi dan menjual electric golf car, electric custom car dan electric buggy car. Produksinya juga berbagai macam tipe yang dirancang untuk berbagai kepentingan sesuai dengan fungsi dan kegunaannya.
Dalam perkembangannya, mobil listrik ini bisa dirancang untuk penggunaan perjalanan dalam kota dengan kondisi lalu lintas sebagai kendaraan energi alternatif . “Namun kalau nantinya digunakan untuk di jalanan umum, infrastruktur jalanan memang harus dibenahi. Sehingga sesuai dengan kendaraan ramah lingkungan ini,” jelas Perry lagi.

Kendaraan listrik ramah lingkungan sudah banyak dibicarakan sebagai alternatif kendaraan konvensioanl sekarang ini. Bakan Juni 2012 lalu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan uji coba mikrobus listrik hasil rekayasa Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika LIPI, Bandung. Mikrobus ini bisa membawa 15 penumpang. Dan sudah diuji coba di jalan tol Jakarta-Bandung (150 km). Pengisian ‘bahan bakar’ nya berupa charge listrik yang berkekuatan hingga 21 Kwh.

Menteri BUMN Dahlan Iskan sosok yang paling semangat memolopiri mobil listri ini. Bahkan Dahlan ingin mematenkan mobil listrik made in Indonesia. Tapi banyak yang mencibir Dahlan mimpi disiang hari bolong.

Widha Ning Tyas sebagai owner mengatakan, misi perusahannya adalah menjadikan kendaraan listrik yang inovatif, yang berkualitas dan menjadi produk multiguna serta menjadi unggulan dalam negeri, terdepan dalam segala aspek kepentingan.

Widha juga menyebutkan, CV Patra Teguh Abadi adalah penerus dari Kendaraan Marlip Electric dan menghasilkan kendaraan listrik yang pada awalnya dirancang oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Sebagai catatan, di Indonesia, pakar memprediksi cadangan minyak mentah Indonesia hanya sampai tahun 2024. Itu artinya, sebelum 2024, penggunaan minyak bumi sudah akan di stop (mungkin di tahun 2018-2020), dan hanya akan digunakan untuk keperluan teknologi yang benar-benar penting (belum ada energi pengganti). Saat itu, harga bensin mungkin sudah dikisaran 25 ribu hingga 50 ribu per liter.