Posts

Bagaimana Promo Produk Kecantikan Yang Tepat?

Dalam pemasaran atau promosi produk kosmetika membutuhkan contoh atau bukti yang real. Karena itu, jika hendak memasarkan atau mempromosikan produk kecantikan sebaiknya diiringi dengan hal yang relevan. Demikian Perry Tristianto dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (9/7) yang mendatangkan nara sumber Rustan Tarliana, owner CV Green Herbarus, produk kecantikan yang begerak di bidang ekstrak bahan alami herbal tradisional. Read more

Jannaty Menerapkan Konsep Pemasaran 4 C

jannatyProduk busana moslem Jannaty sudah dipercaya. Lantaran itu agen atau reseller-nya langsung membayar cash dalam transasi. Artinya marketing yang digarap Jannaty sudah bagus. Demikian Perry Tristianto dalam Talkshow Gebyar Marketing Radio PRFM, Rabu (18/6). Dalam talk show tersebut mendatangkan nara sumber Drg Deden Edi Soetrisna, MM, owner produk Jannaty.
Menurut Deden, sebenarnya ketika ia memulai bisnis ini awal tahun 1990-an yang memulai adalah istrinya, tapi karena kemudian dalam perkembangannya ada titik cerah dan peluangnya bagus, ia pun mendukung bisnis istrinya.
“Saya sebenarnya waktu itu sudah duduk sebagai direktur sebuah BUMN, tapi kemudian saya tinggalkan. Kalau profesi dokter gigi memang sudah lama sudah tidak saya tekuni, karena saya lebih cocok berbisnis,” jelas Deden. Read more

cara berjualan ala perry tristianto

Bagaimanakah Mengubah Cara Berjualan

Tamu dalam acara Couching Clinic Talk Show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (2/10) adalah Ali Wahyudi, owner dari CV Mutiara Mandiri yang berlamat di jalan H. Saodah No. 62/124 Jatihandap, Cicaheum, Bandung.

Ali bergerak di bidang clothing and printing manufacturing. Produknya selain kaos, jaket dan sweater. Label produknya, NUMERO ( untuk dewasa) dan NEW KIDS (untuk anak-anak). Penyaluran produknya konsinyansi ke berbagai tokot-toko.

Sebelumnya Ali mengaku bekerja di sebuah perusahaan clothing. Lalu ia mencoba usaha sendiri setelah mengetahui lika liku usaha di bidang ini.

Sudah tujuh tahun Ali menngeluti bisnisnya ini, namun ia rasakan, tak banyak kemajuan berarti, hanya sebatas bertahan saja. Kendala terutama adalah manajemen keuangan “Sistem pembayaran konsumen ke perusahaan dengan giro yang lamanya kurang lebih 1 bulan setengah, itu terasa menjadi kendala.Sehingga saya merasa sampai saat ini modal yang dikeluarkan selalu kurang terus. Pinjam kepada bank saya tak berani,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Perry Tristianto mengatakan, sebaiknya Ali mengubah cara memasarkannya. “Kalau Anda konsinyasi dengan sebuah toko, lalu kaos Anda laku disana, pasti yang konsinyasi dari produk kaos lai akan ikut jualan di toko tersebut. Kalau sudah begini, daya jual akan menurun. Demikian juga barang Anda juga,” jelas Perry.

Karena itu, lanjut Perry, sebaiknya menciptakan pasar sendiri. Jangan bergantung terhadap toko yang ada selama ini. “Saya dulu memulai bisnis dari berjualan kaos. Tapi saya jualannya di toko-toko kaset, dengan sablonan foto-foto musisi dunia. Di toko kaset, kaos saya tak ada kaos yang menyaingi. Yang ada saingan dengan kaset, karena itu calon pembeli tak membanding-bandingkan harga kaos saya. Berapa pun harganya akan dibeli kalau mereka suka,” jelas Perry.

Perry menambahkan, produknya juga harus berbeda, harus ada konsep, sehingga jelas arah atau target jualannya. “Saya ambil contoh, kaos thema rock, yang warnanya hitam dengan gambar-gambar seram, itu pasarnya luas sekali,” jelas Perry.

Ali sendiri mengaku tak memilki konsep khusus atau idealisme tertentu terhadap produknya, yang penting mengikuti kemauan pasar saja. Atau mengikuti order yang ada.

Namun apapun yang dialami oleh Ali, menurut Perry, sebenarnya sudah lumayan bagus. Artinya, selama tujuh tahun jalan terus dengan 10 karyawan. “Anda masih bisa makan, masih bisa menggaji karyawan, itu masih bagus. Tapi yang penting itu tadi, ciptakan pasar, misalnya, jual di rest area, dengan simbol-simbol yang mengikuti identitas rest area tersebut. Masih banyak lagi pasar yang bisa diciptakan,” jelas Perry.

Peluang Bisnis Jasa Perencanaan Keuangan

Sekarang ini penawaran dari asuransi begitu gencar. Namun orang sulit membedakan mana asuransi yang tepat untuk dipilihnya. Karena orang yang menawarkan asuransi juga bertindak seperti konsultan, dengan mengagung-agungkan produknya dan menjelek-jelekan produk suransi lain. Di tengah kondisi seperti ini diperlukan jasa Independent Financial Planner bagi masyarakat, khususnya orang yang ingin mengambil produk asuransi, sehingga mereka mengambil keputusan yang tepat hendak memutuskan mengambil asuransi yang mana.

Hal itu diutarakan oleh Perry Tristianto dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (20/11) yang mendatangkan nara sumber dari Primoney Solutions,  sebuah perusahaan jasa Independent Financial Planner untuk Personal dan Business, di Bandung.

Malam itu hadir  Pimpim Primaningsih Ardiwinata SE, RFA (Managing Director dari C.V. Primoney Solutions, Financial Planner Bandung), dan Hengky Kusuma Jaya SS (Executive Director CV Primoney Solutions).

Namun, lanjut Perry Tristianto, masalahnya selama ini image konsultan identik dengan bayaran mahal.  Sehingga masyarakat  tak tertarik untuk meminta bantuan jasa konsultan.  Dan konsultan sendiri memang serba sulit untuk menentukan harga. “Kalau mematok harga tinggi, sepi order. Tapi kalau murah, disebut murahan. Karena itu perlu taktik untuk packaging-nya misalnya, kalau cuma dikenakan bayaran Rp. 1 juta, bahasanya uang transport,” jelas Perry.

Lahan bisnis jasa ini menurut Perry merupakan peluang yang bagus. Tak hanya kalangan yang memang punya problem keuangan yang bisa menjadi klien, tapi bisa juga membidik kalangan yang hendak pensiun. “Mereka perlu tahu bagaimana mengelola uangnya setelah tidak lagi bekerja dan tidak lagi menerima gaji tiap bulan, mereka perlu pembekalan. Mereka ini tak bermasalah keuangannya, sehat, yang diperlukan vitamin,” jelas Perry.

Perry juga menunjuk terhadap pemakaian kartu kredit di Indonesia, yang menurutnya sudah salah kaprah. “Kalau di luar negeri, kartu kredit ditujukan untuk memudahkan transaksi. Tapi di Indonesia kartu kredit bisa dijadikan alat investasi. Tidak salah juga, asal disiplin dalam membayar sebelum jatuh tempo. Tapi bagaimana pun itu memerlukan pembekalan, agar tak sampai terlilit hutang oleh kartu kredit,” jelas Perry.

Francisco Mengutamakan Kepuasan Pelayanan

Keuletan dan kemauan keras diperlukan dalam menggeluti bisnis. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Francisco, anak muda asal Bandung yang menjadi nara sumber dalam acara talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (30/10).

“Dari cerita perjuangan hidupnya memang cukup pahit dan keras, saya rasa itu menjadi modal kearah sukses,” komentar Perry Tristianto setelah mendengar kisah kegigihan Fransisco.

Usai lulus SMU di Bandung, Frans memperdalam ilmu di kota Seatlle, Amerika Serikat. Sebuah kota yang pernah dijadikan setting film ciamik, ‘Sleepless in Seattle’ (1993) yang dibintangi oleh Tom Hanks dan Meg Ryan.

Namu kota Seattle yang juga berjuluk ‘kota hujan’ dan sangat indah itu, ternyata bagi Francisco sangat keras. Disamping study, ia bekerja, mulai dari kerja sebagai Satpam hingga menjadi sopir truk. “Saya kerja sebagai Satpam mulai subuh sampai tengah malam,” kenang Frans, panggilan anak muda ini.

Dikenal sebagai kota hujan juga dikenal dengan kota jam. Sementara orang tua Frans selama ini berbisnis jam di BIP Bandung, nama tokonya ‘San Fransisco’. “Saya di Seattle ambil manajemen dan finance,” jelas Frans.

Maka tidak mengherankan jika ia kembali ke tanah air, di Bandung ia menggeluti bisnis jam. Dialah pemilik toko ‘Gudang Jam’ yang ada di jalan Ternate Bandung. “Sejak sekolah SD saya mengerjakan PR di toko jam orang. Waktu SD saya sudah bisa memasang bateri jam. Jadi saya tahu betul seluk beluk dengan bisnis jam,” jelas Frans.

Dan yang paling diingatnya dari ‘pelajaran’ orang tuanya berdagang adalah bagaimana memuaskan pembeli, sepuas-puasanya, dan tidak mengambil untung terlalu besar. “Pelayanan yang memuaskan terhadap pelanggan membuat pembeli setia dan bertambah dengan mengajak teman atau saudaranya berbelanja ke toko kami. Ada pelanggan kami sejak masih kuliah sampai berkeluarga dan punya anak, “ jelas Frans.

Hal itu diterapkan oleh Frans dengan ‘Gudang Jam’-nya. “Pelayanan yang memuaskan itu yang saya coba terapkan. Bahkan saya pernah mengantar jam yang dibeli sampai ke Subang. Pembeli senang dengan pelayanan itu dan beberapa waktu kemudian balik lagi ke toko kami membawa temannya belanja,” kata Frans.

Selain itu, menurut Frans, kejujuran dari penjual sangat diperlukan. “ Kalau ada orang yang mengira baterei jamnya sudah mati dan mau diganti, namun ketika kita periksa ternyata batarei ini masih bagus, maka kami akan mengatakan dengan jujur, bahwa batereinya masih bagus. Dengan demikian ia percaya kepada kami, dan akan kembali kepada kami suatu saat,” jelas Frans.

Pusat Produksi Ina Cookies Bisa Dijadikan Tujuan Wisata

ina-cookisInovasi yang dibuat oleh Ina Cookies nyeleneh, dan karena dalam penjualannya tak memiliki saingan di retail, maka agen-agennya yang tersebar hingga ke Papua tak memiliki saingan. Ini yang membuat agennya semangat berjulan, sehingga Ina Cookies memiliki target pasar jelas. Dan gathering yang sering digelar oleh Ina Cookies terhadap para agennya membuat semakin jelas target pasarnya.

Demikian kata Perry Tristianto dalam acara talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (24/4) yang menghadirkan nara sumber Rr. Ina Wiyandini, owner Ina Cookies. “Sepertinya Ina Cookies memang tanpa iklan, namun karena ia memiliki agen-agen yang luas, maka sama saja dengan beriklan, karena agennya gencar mengiklankan. Jadi marketingnya dari mulut ke mulut,” tutur Perry.

Popy Rufaidah, pakar marketing UNPAD mengatakan, salah satu kecerdikan Ina Cookies adalah dengan membuat banyak rasa sampai sebanyak 135 item. “Itu membuat banyak pilihan, apalagi harganya relatif murah Rp.5.000,” jelas Popy.

Ina Cookies dirintis sejak tahun 1990-an dari kota Cirebon. Namun mulai booming dan diberi nama Ina Cookies saat krismon pada tahun 1998. “Kunci suksesnya inovasi. Itu saya rasa yang membuat produk kue saya diterima. Kalau biasa-biasa saja seperti yang sudah ada, mungkin orang tak menerima, saya memang ogah meniru,” tutur Ina. Salah satu ide unik lainnya, ia membuat sebuah produk cookies unggulan yang diberi nama Putri Rosella, yang idenya berawal dari kumpulan bunga Rosella atau teh merah yang tidak digunakan, lalu Ina berinovasi untuk dijadikan sebagai rasa salah satu cookiesnya.

Kuenya yang kini memilki rasa 135 macam itu merupakan variasi produk cookies yang terbuat dari bahan-bahan yang jarang digunakan oleh pelaku bisnis kue, seperti tahu, tempe, tape, oncom, tahu, jengkol, dan lainnya. Herannya di tangan Ina bahan-bahan itu menjadi kue yang lezat, dan belum pernah ada. “Saya mau brand yang saya buat karena kreasi sendiri, bukan ide yang sudah pernah dibuat,” ungkap ibu tiga anak yang mengaku pernah berdagang macam-macam barang, mulai jahe sampai mobil. “Saya sebelumnya pernah berbisnis jahe gajah diekspor ke Jepang sekitar tahun 1992-an, namun kemudian hancur karena Jepang kemudian lebih memilih membeli jahe dari Thailand,” kenang Ina.

Pusat produksinya Ina Cookies ada di Bojong Koneng Bandung. Disana banyak family-nya yang juga bergelut di bisnis kue. Karena itu Perry mengusulkan desanya itu dinamai dan di setting menjadi ‘Desa Kue’. “Saya yakin itu ide bagus, dan bis direalisasikan, menjadi tujuan wisata yang menarik. Tak perlu harus desa yang mewah, justru yang kelihatan kampung akan semakin menarik,” tutur Perry.

Wejangan Program Move Dari Perry Tristianto

perry_tristianto_telkom

perry_tristianto_telkom

Dalam membangun usaha, sebaiknya perlahan-lahan. Dari kecil, lama-lama menjadi besar. Dan sebaiknya untuk menciptakan roh usaha itu sendiri, sang pemilik harus menongkrongi sendiri usahanya, sambil melihat perkembangan usaha dan mencari masukan langsung dari konsumen yang datang. Demikian Perry Tristianto dalam ceramahnya di acara Rapat Pimpinan Yayasan Pendidikan Telkom (YPT) 2013, Kamis (25/4) di Aula Telkom Creative Industries School di Dayeukolot, Bandung.

Acara yang berlangsung dua hari (25 dan 26/4) ini mengambil thema ‘Kolaborasi Pendidikan dan Bisnis’, diselengaarakan oleh Yayasan Pendidikan Telkom dan Sandhykara Putra Telkom, dan mengambil tempat di gedung Telkom Creative Industries School. Pada hari pertama, malamnya ditutup dengan acara ‘Malam Bertabur Puisi’ bersama penyair kondang Taufik Ismail.

Berkenaan dengan peluncuran program MOVE ( modal ventura) yang diluncurkan dalam acara tersebut, lebih lanjut Perry Tristianto menegaskan, hendaknya dalam memulai usaha jangan buru-buru membayangkan untung. “Tapi bayangkan kalau rugi, kalau untung, sih, urusan Yang Di Atas. Harus dari kecil, coba lihat para pengusaha sukses semua memulai dari kecil,” jelas Perry.

Perry juga menggarisbawahi pentingnya konsep dalam membangun usaha. “Semua harus ada konsepnya. Kalau tak ada konsep, tidak akan jelas target market-nya. Karena itu, tentukan konsep, lalu ciptakan brand. Brand sangat penting, karena dari sanalah konsumen suka bahkan fanatik,” tegas Perry.

Lebih lanjut Perry memberi contoh saat membangun brand kuliner Tahu Lembang miliknya. Menurutnya, jauh sebelum ada Tahu Lembang , sudah ada Tahu Tauhid yang sudah terkenal di Lembang. “Saya sempat berpikir bagaimana melawan Tahu Tauhid? Kalau saya buat Tahu Perry, pasti akan tenggelam di bawa brand Tahu Tauhid. Tapi kalau saya buat brand Tahu Lembang, orang akan berpikir, oh, ini tahu yang terkenal di Lembang itu…….” kata Perry yang disambut tawa peserta YPT.

Program MOVE adalah program tahunan YPT yang bertujuan menciptakan 1000 pengusaha muda di lingkungan pendidikan Telkom. Untuk tahun ini YPT mengucurkan dana sebesar Rp.1,3 miliar. Sementara tahun lalu YPT mengucurkan dana sebesar Rp.300. Dan tahun 2013 ini meningkatkan dana bantuannya menjadi sebesar Rp.1,3 miliar, naik empat kali lipat.

perry_tristianto_telkom3Dalam jumpa pers di area kampus Telkom, Ketua YPT Joni Girsang, Kamis (25/4), mengatakan, “Kami tidak hanya menginginkan mahasiswa meningkat skill dan pengetahuannya saja, tapi juga memiliki jiwa entrepreuneuship. Dengan demkian mehasiwa tidak hanya menjadi pencari lowongan kerja, tapi menciptakan tenaga kerja dari usaha yang dibangunnya.

Sukses MOVE tahun lalu, diantaranya ada yang memilki omzet hingga Rp.40 juta perbulan. Juga ada yang telah membuka cabang di luar kota Bandung, bahkan ada mampu yang ekspor ke luar negeri.

Angkringan Usaha Kuliner Gaya Hidup Dengan Potensi Ekonomi Bagus

Perkembangan usaha kuliner angkringan belakangan ini semakin berani. Ini menunjukkan usaha ini bukan tidak hanya menargetkan market kalangan yang biasa-biasa saja. Buktinya, di Bandung, angkringan berani buka di kawasan Maranatha, kawasan kelas atas yang banyak dihuni etnis Tionghoa. Demikian salah satu cuplikan yang diucapkan oleh Perry Tristianto dalam talk show Gebyar Marketing PRFM, Rabu (17/4).

Acara yang dihadiri lengkap dua host-nya, Perry Tristianto dan Popy Rufaidah malam itu menghadirkan nara sumber Dwi Riyatno, pengusaha kuliner yang memiliki beberapa angkringan bersama beberapa mitranya. “Saya malah melihat di beberapa angkringan di Bandung sekarang ini banyak yang menyambangi dengan membawa mobil mewah. Artinya angkringan kini tak lagi membidik kalangan yang biasa-biasa saja, tapi juga kalangan atas. Ini tak lepas dari gaya hidup,” jelas Perry.

Lebih lanjut Perry mengatakan, yang tak diketahui banyak orang, usaha kuliner di pinggir jalan sebenarnya menangguk keuntungan besar. “Tidak seperti usaha kuliner yang berada di dalam gedung, menyewa atau membeli gedung, usaha kuliner angkringan cukup dengan gerobak, dan tak banyak memiliki karyawan, sehingga biaya operasionalnya tak besar. Dan mereka tak seperti usaha kuliner gedung yang mesti membayar kewajiban-kewajiban lain,” jelas Perry. Dwi Riyatno sendiri mengakui, mendirikan usaha angkringan modalnya sekitar Rp.5 juta. “Itupun masih ada yang mengira sangat mahal,” jelas Dwi.

Seorang pendengar PRFM yang menyimak acara talk show ini bertanya, apakah ada angkringan asli atau angkringan palsu? Menurut Dwi, tidak ada angkringan asli atau palsu, karena angkringan sekarang ini berkembang pesat seiring dengan gaya hidup. Misalnya dulu di angkringan selalu ada kopi jos, formula kopi yang dimasukin arang yang baru saja dibakar dan membara,merah lalu berbunyi jos. Namun kini tak semua angkringan menyediakan kopi jos. Ketika formula kopi jos ini ditanyakan oleh Popy Rufaidah soal higinisnya, Dwi menjawab, kopi ini banyak disuka dan sejauh ini tak ada laporan orang yang mengkonsumsi kopi ini dilarikan ke rumah sakit. “Jadi aman – aman saja,” jelas Dwi sambil tertawa.

Lebih lanjut Popy mengatakan soal bisnis angkringan yang makin marak ini. Menurut pakar pemasaran ini, bisnis angkringan merupakan dilema tersendiri bagi Indonesia pada umumnya, kota Bandung khususnya. “Pemda umumnya dengan tegas mengatur, PKL tak boleh ada di pinggir jalan atau trotoar. Namun di sisi lain, keberadaan angkringan perlu di support karena potensi ekonominya. Dengan konsep murah meriahnya, angkringan sangat disuka, apalagi kebersihan dan kesehatannya sangat dijaga,” jelas Popy. Sementara Perry mengatakan, sebenarnya angkringan yang sukses tidak yang berada di jalan besar yang ramai, tapi yang berada di sisi jalan yang tak begitu ramai dan agak gelap. “Karena kalau di jalan besar terlalu ramai oleh lalu lintas. Mungkin tak asyik buat nongkrong,” jelas Perry.

angkringan-3Angkringan berasal dari bahasa Jawa ‘angkring ‘ yang berarti duduk santai sambil nongkrong. Di Solo lebih dikenal dengan nama wedangan. Dalam perkembangannya, menu angkringan lebih bervariasi. Bahkan sebuah angkringan di Dago Bandung menyediakan omelet, pasta, steak, sop buntut, iga, gurame, dan masakan oriental. Kosumennya juga bervariasi, mulai pegawai kantor, mahasiswa, seniman, bahkan hingga pejabat dan eksekutif. Angkringan asyik buat tempat mengobrol dengan santai. Karena itu angkringan cocok didirikan di tempat yang egaliter, tanpa membeda-bedakan strata sosial. Di bulan puasa, angkringan tumbuh subur di kampus-kampus. Baik menjelang sahur maupun buka puasa. Membidik anak-anak kost.

Dalam perkembangannya, angkringan ada yang menyediakan layanan hotspot wifi dan tv proyektor. Bahkan ada layanan TV proyektor, yang hanya di putar untuk momen pertandingan sepakbola seperti Liga Inggris, Liga Champions atau Piala Dunia. Tak kalah dengan cafe-cafe atau resto modern

Budidaya Lele Peluang Bisnis Yang Menggiurkan

Ada seorang peserta seminar pra-pensiun dari Garuda Airways yang bertanya kepada Perry Tristianto, kira-kira usaha apa yang bagus sekarang ini? Menurut Perry, berdasarkan pengalaman keluarganya yang menggeluti budidaya lele, bisnis ikan berkumis ini sangat menggiurkan. Demikian sepenggal acara Seminar Karyawan Garuda Menyongsong Masa Pensiun’ yang dilaksanakan di Floating Market Lembang (FML), hari Rabu (10/4).

Perry Tristianto sebagai pemberi bekal wirausaha lebih lanjut mengatakan, budidaya lele sekarang ini merupakan peluang yang bagus untuk digeluti seiring dengan semakin banyaknya warung-warung makan yang menawarkan menu pecel lele. “Lele yang dibutuhkan berton-ton. Kalau yang dibutuhkan sebesar itu berarti yang membeli bukan ibu-ibu rumah tangga, tapi orang-orang yang menggeluti bisnis kuliner,” tutur Perry.

Seminar yang sering diadakan oleh karyawan Garuda Airways dimana Perry menjadi salah satu pembicaranya merupakan pencerahan atau memberian pembekalan terhadap karyawan-karyawan Garuda, baik itu pilot, pramugari, finance dan bagian lain, agar kelak bila memasuki masa pensiun dan ingin berwirausaha dari uang pensiun, setidaknya telah memiliki pengetahuan dasar wirausaha.

perry_tristianto_images (5)“Yang harus diingat, memulai usaha jangan menyamakan dengan penghasilan atau gaji sewaktu masih bekerja. Anda tak mungkin langsung memperoleh penghasilan sebagaimana bekerja. Kalau awal-awal harus berjuang dan siap menerima risiko rugi. Tetapi jika nantinya usahanya sukses, bukan tidak mungkin pemasukan bisa lebih gede dari semasa menjadi karyawan,” jelas Perry.

Lebih lanjut Perry mengatakan, dalam membangun usaha jangan hanya mambayangkan untung, tetapi bayangkan kalau rugi, sehingga siap mental. “Karena untung itu urusan Yang Di Atas, kita usaha saja. Karena itu ambillah risiko yang paling kecil jika hendak membangun usaha. Caranya? Jika punya uang Rp.10 juta, ambil satu atau dua juta saja untuk modal, karana kalau rugi tidak tekor-tekor amat dan tak sampai membawa sengsara. Kalau pun hendak menambah modal, itu karena semata-mata kebutuhan pengembangan usaha. Artinya ada tuntutan atau permintaan dari banyak konsumen, sehingga penambahan modal tersebut urgen,” tutur Perry.

Ketika ada yang bertanya, segmen apa yang kira-kira prospeknya bagus untuk berdagang? Menurut Perry, segmen pasar kalangan orang tua merupakan target market yang baik. “Biasanya orangtua setia jika suka dengan sesuatu, dan mereka tidak rewel, sementara untuk pasar kalangan anak muda, disamping kurang setia anak muda banyak tuntutannya,” tegas Perry.

Lalu jika usaha itu di bidang kuliner, produk makanannya yang berkarakter seperti apa yang laku? Perry menjawab, jenis makanan ada dua karakter, yaitu yang enak dan yang komersil. “Yang enak mungkin terkenalnya makan waktu lama, namun jika sudah disukai konsumen akan lama mereka menyukainya sejauh kualitas dijaga, dan yang komersil cepat disukai konsumen, tapi tak cukup lama disukai konsumen. Jadi Anda bisa menentukan dan memilih,” tutur Perry.